TANGSEL. DMKtv,- Polres Tangerang Selatan membenarkan adanya laporan polisi yang diajukan oleh Firdaus Oiwobo terhadap mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
Kasi Humas Polres Tangerang Selatan, Ipda Yudhi Susanto mengatakan laporan tersebut telah diterima oleh pihaknya.
Dijelaskannya, saat ini penyidik masih melakukan penyelidikan sehingga belum dapat menyampaikan secara rinci pokok perkara yang dilaporkan.
“Betul, ada laporan polisinya. Karena masih dalam proses penyelidikan oleh Satreskrim,” katanya kepada disway.id, Kamis 18 Juni 2026.
Saat ditanya apakah laporan tersebut berkaitan dengan dugaan penghasutan, Yudhi menyebut pihaknya belum dapat memastikan hal tersebut karena masih menunggu hasil penyelidikan.
“Kalau itu kita belum bisa pastikan. Nanti dari hasil pengembangan penyelidikan dan mekanisme gelar perkara,” ucapnya.
Diungkapkannya, saat ini pihaknya hanya dapat membenarkan bahwa laporan tersebut telah dibuat oleh Firdaus Oiwobo dan sedang ditangani oleh penyidik Satreskrim Polres Tangerang Selatan.
“Kami membenarkan bahwa laporan itu sudah dibuat oleh Firdaus Oiwobo. Saat ini tim Satreskrim sedang melakukan penyelidikan untuk mengungkap perkara ini dan menentukan langkah tindak lanjut ke depannya,” ungkapnya.
Menurutnya, laporan polisi tersebut diterima pada pertengahan Juni 2026.
“Kalau laporan masuk tanggal 15 Juni,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM tahun 2025 Tiyo Ardianto dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan.
Dia dipolisikan oleh pengacara Firdaus Oiwobo.
Meski begitu, belum jelas apa duduk perkara yang membuat Tiyo Ardianto dilaporkan ke polisi.
Ditelusuri lewat story Instagram Tiyo Ardianto, dirinya sudah mengetahui kabar itu dengan merepost story tentang pelaporan dirinya ke polisi.
Di sisi lain, hari ini, Rabu 17 Juni 2026, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar konferensi pers bertajuk “Jangan Omong Kosong Demokrasi: Penjelasan Mengenai Aksi 15 Juni di GIK UGM” di Gedung Pusat UGM.
Konferensi pers ini digelar untuk menegaskan sikap mahasiswa UGM sekaligus merespons narasi yang menuding kericuhan di GIK pada Senin 15 Juni 2026 malam sebagai bentuk anti-dialog.
Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa UGM menegaskan bahwa penolakan untuk berdialog dengan Budiman Sudjatmiko, Nusron Wahid, dan Sudaryono didasarkan pada hilangnya kepercayaan terhadap pemerintah yang semakin terang-terangan menunjukkan sikap ketidakberpihakan kepada rakyat.
Mesa, salah satu perwakilan mahasiswa UGM, menegaskan bahwa respons Nusron Wahid dan Sudaryono saat duduk bersama dengan massa pada malam sebelumnya justru semakin menunjukkan sikap pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
“Alih-alih mengakui kesalahan, mereka justru meminta salah satu massa aksi untuk melihat secara langsung kondisi di Papua. Kami tidak menginginkan kondisi di Papua hanya dilihat oleh segelintir orang dari kami saja,” tegas Mesa.
“Jika memang benar tidak ada penindasan dan kekerasan terhadap rakyat di Papua, maka tunjukkanlah kepada seluruh masyarakat Indonesia,” lanjutnya.
Di akhir pembacaan pernyataan sikap, mahasiswa UGM menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintah:
Salah satunya mahasiswa UGM menyinggung soal isu kriminalisasi aktivis.
1. Membebaskan seluruh tahanan politik dan memberikan amnesti pada kawan-kawan yang dikriminalisasi.
2. Tak lagi membatasi demonstrasi seperti yang terjadi dengan mahasiswa UI di Bundaran HI.
3. Menarik militer dari ruang sipil dan mencabut UU TNI dan UU Polri
4. Menghentikan kriminalisasi aktivis
Budiman Sudjatmiko Sebut Tiyo Ardianto
Sebelumnya, dalam diskusi 15 Juni 2026 lalu, Budiman Sudjatmiko menyinggung sosok Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM UGM 2025 Tiyo Ardianto.
Kalimat Budiman Sudjatmiko selaku Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) saat paparan diskusi dianggap melukai rasa solidaritas mahasiswa UGM kepada Tiyo Ardianto yang juga sesama almamater UGM.
“Ada satu yang menarik, mas Tiyo mengkritik Pak Prabowo secara personal dan mengkritik saya juga secara personal. Tapi (kata pejabat tersebut) ‘saya pernah ditelepon pak Prabowo, pak Prabowo bilang ‘kamu jangan terpancing personal terhadap kritik-kritiknya. Jangan ada yang menyentuh Tiyo, setersinggung apapun, jangan punya pikiran untuk membuat satu manuver yang mencelakai dia,” ujar Budiman.
Langsung saja mahasiswa berteriak.
“Budiman Sudjatmiko adalah pengkhianat reformasi, pengkhianat reformasi, semua di sini membicarakan pancasila, kalian di sini pergi!” teriak para mahasiswa.
Suasana semakin tak terkendali setelah ada mahasiswa yang berteriak soal program kabinet Prabowo yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).
“SPPG ini satuan penjilat Prabowo Gibran! Orang-orang ini, pergi dari sini!”
*(Fandi Permana/DISWAY.ID)











