Misteri Kematian Sutrimo dan Datangnya Ambulans ‘Gaib’ dengan 3 Orang Pria: Almarhum Selalu Ketakutan

JAKARTA. DMKtv,– Misteri kematian Sutrimo terus didalami oleh aparat kepolisian yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di bangunan Mordent Aesthetic Clinic di Jalan Kramat Pela No. 208, Kelurahan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Minggu, 26 Juli 2026.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan atas kasus meninggalnya Sutrimo (42) yang dinilai menyisakan sejumlah kejanggalan.

Sutrimo diketahui merupakan penjaga rumah mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.

Nama Febrie Adriansyah sebelumnya juga menjadi sorotan dalam perkara dugaan tindak pidana pencucian uang yang tengah diproses, termasuk terkait penyitaan sejumlah aset.

Bangunan klinik yang menjadi lokasi olah TKP disebut sudah tidak lagi beroperasi dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan informasi yang beredar, sejumlah mantan pengurus maupun karyawan menyebut klinik tersebut berkaitan dengan Febrie Adriansyah.

Sementara itu, saat peresmian klinik, dr. Lintasari Putri tercatat sebagai pemilik atau owner.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan seluruh fakta yang berkaitan dengan lokasi maupun kronologi peristiwa.

Keluarga Soroti Sejumlah Kejanggalan

Berdasarkan informasi yang disampaikan pihak keluarga, Sutrimo masih sempat berkomunikasi melalui telepon dengan adik iparnya pada Kamis, 23 Juli 2026 sekitar pukul 05.00 WIB.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 09.00 WIB, keluarga menerima kabar bahwa Sutrimo telah meninggal dunia.

Jenazah baru tiba di rumah duka sekitar pukul 23.00 WIB menggunakan ambulans dari Jakarta dan dipesan oleh orang tidak dikenal.

Menurut keterangan keluarga, ambulans tersebut membawa tiga orang, terdiri dari seorang sopir dan dua pria yang disebut memiliki postur menyerupai anggota militer.

Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga dengan disaksikan kepala desa setempat.

Pihak keluarga juga menyampaikan bahwa saat jenazah tiba, proses pemandian dan pengafanan telah dilakukan oleh pihak rumah sakit sehingga keluarga hanya dapat melihat bagian wajah sebelum pemakaman dilaksanakan.

Selain itu, keluarga mengaku belum menerima barang-barang pribadi milik almarhum, seperti telepon genggam, dompet, kartu ATM, maupun pakaian yang dikenakan sebelum meninggal dunia.

Cerita Terakhir Almarhum kepada Keluarga, Singgung Soal Batu Bara?

Adik ipar almarhum juga mengungkapkan bahwa sebelum meninggal, Sutrimo sempat mencurahkan beberapa persoalan pribadi kepada anggota keluarga.

Menurut keterangan tersebut, almarhum pernah mengaku dijanjikan sebuah mobil yang hingga kini tidak pernah diterima.

Keluarga juga menyebut almarhum pernah berselisih dengan seseorang yang disebut sebagai kakak ipar Febrie Adriansyah terkait proyek batu bara di Jambi.

“Dan alm. SUTRIMO pernah ribut dengan kakak ipar Bapak FEBRIE ADRIANSYAH (Eks Jampidsus) karena masalah proyek Batu Bara di Jambi dan almarhum selalu ketakutan, sampai dengan almarhum meninggal tidak pernah akur dengan kakak ipar Bapak FEBRIE ADRIANSYAH,” ujar adik Ipar almarhum Sutrimo.

Setelah peristiwa tersebut, Sutrimo dikabarkan kerap merasa takut dan hubungan keduanya disebut tidak pernah membaik hingga akhir hayatnya.

Seluruh informasi tersebut masih berupa keterangan keluarga dan belum memperoleh konfirmasi resmi dari pihak-pihak yang disebutkan.

Informasi lain diperoleh dari sopir ambulans bernomor polisi B 1418 KIX yang membawa Sutrimo menuju RS Muhammadiyah Taman Puring.

Menurut keterangannya, pemesanan ambulans dilakukan secara daring oleh seseorang yang tidak dikenalnya.

Saat tiba di lokasi penjemputan di depan Klinik Mordent, korban disebut sudah tergeletak dalam kondisi tidak bergerak, dengan busa keluar dari mulut dan hidung.

Korban kemudian dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans tersebut untuk mendapatkan penanganan medis.

Petugas keamanan RS Muhammadiyah Taman Puring yang bertugas pada hari kejadian juga memberikan keterangan kepada penyidik.

Menurut informasi yang dihimpun, Sutrimo tiba di rumah sakit diantar oleh empat orang yang identitasnya tidak diketahui.

Sementara itu, nama Febrio Adianto disebut sebagai pihak yang tercatat sebagai penanggung jawab pasien saat berada di rumah sakit.

Keterangan tersebut masih menjadi bagian dari proses penyelidikan dan belum disimpulkan sebagai fakta hukum.

Pengakuan Mantan Karyawan Klinik Mordent

Seorang mantan karyawan Klinik Mordent bernama Agus juga memberikan informasi kepada penyidik.

Ia mengaku pernah bekerja selama sekitar lima tahun di klinik tersebut sebelum mengundurkan diri dua tahun lalu.

Menurut Agus, Sutrimo memang pernah bekerja di Klinik Mordent selama kurang lebih dua tahun dan sehari-hari tinggal di area klinik.

Agus juga menyebut bahwa klinik tersebut sudah tidak beroperasi selama sekitar lima tahun.

Selain itu, ia mengklaim klinik tersebut merupakan milik Febrie Adriansyah. Namun, klaim tersebut belum mendapat konfirmasi maupun penjelasan resmi dari pihak terkait.

Hingga saat ini, kepolisian masih melakukan serangkaian penyelidikan melalui olah TKP, pemeriksaan saksi, serta pengumpulan alat bukti untuk mengungkap penyebab pasti meninggalnya Sutrimo.

Sejumlah informasi yang beredar, termasuk keterangan keluarga, sopir ambulans, petugas rumah sakit, maupun mantan karyawan klinik, masih dalam tahap verifikasi oleh penyidik.

*(Risto Risanto/DISWAY.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini