JAKARTA. DMKtv,- Pengamat ekonomi menilai upaya pemerintah mewujudkan swasembada susu memerlukan penguatan dari sisi kepastian pasar, agar produksi susu segar peternak terserap oleh industri pengolahan susu.
“Yang paling penting di sini adalah pemerintah itu perlu menjamin kepastian penyerapan, menciptakan harga acuan yang layak, terus juga memperkuat sistem distribusi dari susu peternak lokal, terus ada dorongan membuat kontrak jangka panjang antara industri pengolahan susu dengan peternak lokalnya,” kata Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Isnawati Hidayah kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurut Isnawati, dengan adanya kepastian pasar tersebut, peternak akan lebih berani meningkatkan populasi sapi perah dan produksi susu, karena memiliki jaminan bahwa hasil produksinya dapat diserap oleh industri.
“Dengan demikian, paling tidak ketika peternak lokal itu menambahkan populasi sapi, misal ekspansi, mereka benar-benar memiliki sistem pasok yang bagus sehingga setiap susu yang mereka produksi bisa memenuhi secara kuantitas, tapi juga berkualitas,” ujarnya.
Isnawati menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor susu tidak hanya disebabkan oleh faktor produksi, tetapi juga integrasi industri susu domestik dari hulu hingga hilir yang belum optimal.
Menurut dia, peternak lokal masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari skala usaha yang kecil, produktivitas yang rendah, kualitas susu yang bervariasi, keterbatasan akses pembiayaan, kualitas pakan yang belum stabil, hingga teknologi yang masih tertinggal.
Selain itu, posisi tawar peternak dinilai masih lemah di hadapan industri pengolahan susu yang memiliki keleluasaan memilih bahan baku sesuai standar mutu maupun beralih menggunakan bahan baku impor ketika pasokan domestik belum mampu memenuhi kebutuhan.
Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan peternak sebenarnya memiliki keinginan untuk meningkatkan produksi, namun ekspansi usaha akan sulit dilakukan apabila tidak ada kepastian penyerapan susu segar oleh industri.
“Peternak bukan tidak mau ekspansi usahanya, tapi menambah jumlah produksi susu pun kalau tidak diterima pabrik pengolah susu, tidak akan terserap,” ujar Eliza.
Senada dengan Isnawati, ia menekankan bahwa kepastian pasar menjadi faktor penting untuk mendorong peternak meningkatkan produksi, sehingga ketergantungan Indonesia terhadap impor susu dapat dikurangi secara bertahap.
“Kalau mau swasembada susu, peternak diberikan kepastian pasar, siapa yang akan menyerap susu segar mereka dengan berbagai standarisasinya. Untuk di hilirnya industri pengolahan susu wajib menyerap susu segar petani,” ujarnya.
Menurut pengamat itu, kepastian pasar dinilai akan memberikan insentif bagi peternak untuk meningkatkan skala usaha dan produktivitas, sekaligus mendukung upaya pemerintah membangun industri persusuan nasional yang lebih kuat guna mengurangi ketergantungan terhadap impor secara bertahap.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan saat ini tengah mempercepat penyusunan peta jalan (roadmap) kemandirian susu nasional secara terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk mengurangi ketergantungan impor, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani.
Pemerintah menilai penguatan produksi, riset, hilirisasi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem persusuan nasional.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq sebelumnya menyatakan Indonesia saat ini baru mampu memproduksi sekitar 1 juta ton susu per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 4 juta ton per tahun sehingga hampir 80 persen kebutuhan masih dipenuhi dari impor.
*(Aria Ananda/ANTARA)









