JAKARTA. DMKtv,- Kementerian Sosial mengumumkan bakat siswa Sekolah Rakyat tahap pertama didominasi dalam bidang teknik, notaris dan kehakiman, berdasarkan hasil pemetaan talenta berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa dari hasil pengukuran ditemukan sebanyak 37,4 persen atau 1.828 siswa berpotensi dalam bidang sains teknologi rekayasa dan matematika (STEM).
“Dari STEM ini, juga ada sebanyak 1.204 siswa bakatnya pada bidang teknik sebagai mekanik atau teknisi otomotif, insinyur sipil atau teknik infrastruktur, operator industri hingga arsitek,” kata dia saat pembukaan pembekalan kepala sekolah dan guru Sekolah Rakyat di Pusdiklatbangprof Kemensos, Jakarta, Selasa.
Kementerian Sosial juga mendapatkan 39,6 persen atau sebanyak 1.938 siswa Sekolah Rakyat berpotensi dalam bidang sosial. Sementara 23,0 persen atau 1.123 orang siswa lain berpotensi bidang bahasa.
“8.860 siswa atau 16 persen berpotensi bidang penegakan hukum; terbanyak mulai dari notaris (261 orang) hakim (188), tentara, polisi, dan pengacara,’ kata dia.
Saifullah mengatakan bahwa hasil pemetaan potensi siswa berbasis teknologi itu sangat penting sebagai pegangan bagi para kepala sekolah, guru, wali asuh dan wali asrama, dalam memberikan pengajaran kepada para siswanya selama beberapa tahun ke depan.
Secara khusus untuk kepala sekolah dan guru, dia meminta supaya bisa benar-benar menjaga ritme pembelajaran siswa mengacu pada sistem Learning Management System (LMS) dan kurikulum pendidikan karakter yang sudah disusun oleh tim formatur.
“Tugas kepala sekolah, guru dan semuanya untuk mengarahkan siswa sesuai potensinya. Memperkuat keterampilannya, bangun hilirisasinya outputnya, kita antarkan mereka ke sampai ke perguruan tinggi hingga anak-anak kita ini bisa benar-benar matang,” kata Saifullah.
Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas pemerintah untuk menjangkau anak-anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah (Desil 1-2) dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan konsep pendidikan berasrama yang terintegrasi dengan jaminan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Kementerian Sosial sebagai pelaksana teknis program itu melaporkan jumlah siswa Sekolah Rakyat tahap pertama sebanyak 9.700 orang dari 100 titik yang mulai berjalan sejak Juli dan Agustus 2025. Jumlah ini didukung oleh 1.469 guru serta sekitar 2.000 tenaga pendamping, termasuk wali asrama dan wali asuh.
*(M. Riezko Bima Elko Prasetyo/ANTARA)











