Filipina Jembatani Dialog Thailand-Kamboja di sela-sela KTT ASEAN

CEBU, FILIPINA. DMKtv,- Untuk sesaat, di aula Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN, ketegangan konflik perbatasan antara dua negara bertetangga di kawasan Asia Tenggara mencair dengan dua pemimpin berjabat tangan.

Dengan dihujani kilatan lampu kamera serta tatapan mata para pemimpin negara anggota ASEAN, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. berdiri di antara Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Manet dan PM Thailand Anutin Charnvirakul, yang keduanya saling berjabat tangan setelah melakukan pertemuan trilateral demi meredakan ketegangan akibat konflik perbatasan.

Pertemuan di sela-sela rangkaian acara KTT ke-48 ASEAN pada Kamis tersebut menandai intervensi diplomatik terkuat Filipina yang tahun ini menjadi ketua ASEAN.

“Pertemuan ini dirancang oleh Filipina sebagai langkah menyediakan jasa baik dalam kapasitas sebagai Ketua ASEAN tahun 2026,” kata Presiden Marcos dalam konferensi pers setelah pertemuan trilateral itu.

Marcos menjelaskan diskusi dalam pertemuan tersebut mencerminkan komitmen ASEAN terhadap dialog, sikap saling menghargai, dan penyelesaian konflik secara damai di tengah ketegangan kawasan.

Konflik antara Thailand dan Filipina, yang berawal dari sengketa perbatasan di sekitar kompleks Candi Khmer kuno, mengalami eskalasi ketegangan hingga menjadi perang terbuka dengan senjata berat dan serangan udara pada pertengahan 2025 lalu.

Perang tersebut mengakibatkan hampir 150 orang tewas, dengan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi dalam dua kali pertempuran itu meletus.

Meski gencatan senjata sempat disepakati dalam KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur tahun lalu, ketegangan kembali terjadi beberapa pekan setelahnya. Gencatan senjata kedua kalinya pun kembali dijalankan.

Dalam pertemuan Kamboja dan Thailand yang dimediasi Filipina pada Kamis tersebut, Marcos mengatakan Manet dan Charnvirakul sepakat akan pentingnya menjaga komunikasi, saling menahan diri, dan menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.

“Saya yakin hal ini mungkin tercapai karena keyakinan yang sangat jelas dan kuat dari kedua pemimpin bahwa kini adalah waktunya perdamaian, bukan lagi waktunya perang,” ucap Marcos.

PM Manet dan PM Charnvirakul pun sepakat untuk menginstruksikan kepada kementerian luar negeri (kemlu) masing-masing untuk saling menjaga dialog serta menjajaki langkah-langkah baru guna mencegah konflik memanas dan melindungi stabilitas.

Dalam pertemuan tersebut, disepakati pula bahwa Tim Pemantau ASEAN (AOT) akan diperpanjang mandatnya selama tiga bulan ke depan hingga Juli 2026.

Marcos menegaskan Filipina terus berkomitmen memfasilitasi dialog antara kedua pelah pihak, seiring upaya ASEAN menjaga perdamaian dan persatuan di kawasan.

Sementara itu, PM Manet dan PM Charnvirakul sama-sama menyampaikan ungkapan terima kasih mereka atas inisiatif Filipina menengahi dialog.

“Thailand dan Kamboja adalah dua negara bertetangga. Lebih baik kami menghindari konflik yang hanya akan membawa kerugian dan penderitaan. Sekarang adalah waktunya bagi kami untuk maju dan meniti jalan bersama menuju perdamaian, yang membutuhkan ketulusan, itikad baik, dan tekad kuat,” kata Charnvirakul.

Adapun Manet menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan konstruktif Filipina dalam mendorong perdamaian, stabilitas, dan persatuan di kawasan Asia Tenggara.

*(PNA-OANA/ANTARA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini