Jakarta. DMKtv – Perusahaan distribusi film asal China, Rediance, resmi memperoleh hak penjualan internasional untuk Next Step Studio Indonesia, film antologi yang menghadirkan sejumlah talenta baru Asia Tenggara dan menampilkan aktor sekaligus sutradara Indonesia, Reza Rahadian. Film ini akan melakukan pemutaran perdana dunia dalam program Critics’ Week di ajang Festival Film Cannes.
Next Step Studio Indonesia menjadi proyek perdana dari program pengembangan bakat Next Step Studio yang dipresentasikan oleh Critics’ Week dan dikembangkan bersama produser Prancis, Dominique Welinski, melalui perusahaan produksinya, DW. Program ini mempertemukan empat penulis-sutradara muda Indonesia dengan empat sineas Asia Tenggara untuk menciptakan empat film pendek berdurasi sekitar 15 menit. Seluruh pembiayaan proyek berasal dari sumber Indonesia.
Antologi ini menghadirkan empat cerita dengan tema dan pendekatan yang beragam. Holy Crowd karya M. Reza Fahriyansyah dan Ananth Subramaniam mengisahkan seorang perempuan yang tiba-tiba bangkit dari kematian saat prosesi pemakamannya berlangsung. Original Wound garapan Shelby Kho dan Sein Lyan Tun mengeksplorasi duka mendalam dua saudara setelah kehilangan ibu mereka. Sementara itu, Annisa, yang disutradarai oleh Reza Rahadian bersama Sam Manacsa, mengikuti perjalanan seorang remaja tunanetra yang menemukan cara tak terduga untuk menyuarakan dirinya. Adapun Mothers Are Mothering karya Khozy Rizal dan Lam Li Shuen mengangkat kisah seorang perempuan yang terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan dan kembali bertemu dengan mantan kekasihnya.
Sebagian besar sineas yang terlibat saat ini tengah menyiapkan film panjang debut mereka. Reza Rahadian menjadi pengecualian setelah sebelumnya sukses menjalani debut penyutradaraan lewat Pangku (On Your Lap), yang meraih empat penghargaan di ajang Busan International Film Festival tahun lalu.
Nama Khozy Rizal juga mendapat sorotan tersendiri. Film pendeknya tahun 2023, Basri & Salma In A Never-ending Comedy, mencatat sejarah sebagai film pendek Indonesia pertama yang berkompetisi memperebutkan Palme d’Or Film Pendek di Cannes.
Selain para sineas muda, film antologi ini turut diperkuat deretan aktor dan aktris ternama Indonesia, seperti Prilly Latuconsina, Yusuf Mahardika, Arswendy Bening Swara, Agnes Naomi, Omara Esteghlal, Nazira C. Noer, Asmara Abigail, serta Happy Salma.
Next Step Studio hadir dengan misi menghidupkan kembali semangat La Factory, program inkubasi sineas yang diluncurkan Dominique Welinski dalam program Directors’ Fortnight pada 2013. Setelah berjalan selama 10 edisi, La Factory menutup perjalanannya melalui edisi bertema Brasil pada tahun lalu.
Untuk edisi perdana Next Step Studio, Indonesia dipilih sebagai negara fokus. Produser Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma dari KawanKawan Media memimpin produksi film antologi tersebut. Yulia dikenal melalui sejumlah karya penting, termasuk Renoir, pemenang utama Critics’ Week 2023 Tiger Stripes, serta Autobiography yang tampil di Venice Horizons.
CEO Rediance, Xie Meng, menyebut kolaborasi dengan Yulia telah dimulai sejak 2019 melalui film The Science Of Fictions karya Yosep Anggi Noen yang berkompetisi di Locarno Film Festival. Menurutnya, perkembangan industri film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan potensi besar sebagai salah satu pasar paling dinamis di dunia.
“Antologi ini menampilkan talenta-talenta baru yang menjanjikan dari Indonesia dan Asia Tenggara. Kami melihat mereka sebagai nama-nama yang layak mendapat perhatian di panggung internasional,” ujar Xie Meng.
Di saat yang sama, Yulia Evina Bhara dan Nazira C. Noer juga memperluas kontribusinya bagi industri perfilman nasional dengan bergabung ke Badan Perfilman Indonesia sebagai kepala kerja sama internasional dan sekretaris jenderal. Mereka akan bekerja bersama produser Fauzan Zidni yang menjabat sebagai ketua, memperkuat upaya memperluas jejaring perfilman Indonesia di tingkat global.
*(Anas, DMKtv)











