JAKARTA. DMKtv,- Presiden Prabowo Subianto menjanjikan adanya skema kredit dengan bunga rendah disertai bantuan tanpa uang muka (DP) untuk mendukung pembelian motor listrik nasional (MoLiNas) yang diproduksi massal oleh pelaku usaha di dalam negeri.
Dalam acara peluncuran MoLiNas di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis, Presiden Prabowo memerintahkan Danantara untuk mendukung program motor listrik nasional, yang salah satunya dilakukan dengan menyiapkan skema kredit ringan agar masyarakat tergerak membeli motor listrik nasional tersebut.
“Danantara, dukung dengan apa yang kau bisa dukung. Tadi, kita bicarakan—Menteri Keuangan tidak akan terlalu suka, tetapi ujungnya you akan juga suka. Kita akan turunkan bunga cicilan untuk rakyat. Kemudian, kita usahakan tidak pakai DP,” kata Presiden Prabowo.
Presiden melanjutkan pengeluaran yang dapat dihemat dari pemakaian motor listrik mencapai minimal 50 persen bahkan hingga 70 persen jika dibandingkan dengan motor berbahan bakar minyak. “Nanti mungkin, karena ini sudah kebutuhan dunia. Jadi, ada namanya carbon tax di kota-kota besar seperti di Beijing, gak bisa motor bensin masuk. Jadi ini warning aja yang masih nekat, gandrung dengan motor bensin,” ujar Presiden.
Oleh karena itu, tidak hanya skema pinjaman yang ringan, Presiden Prabowo juga berjanji menyiapkan mekanisme pembelian dengan sistem tukar tambah. “Jadi, nanti kita pikirkan bagaimana kita bisa tukar tambah, kau setor motor lama dapat motor baru, ya tambah dikitlah,” kata Prabowo.
Di fasilitas produksi motor listrik milik Indika Energy di Cikarang itu, Presiden Prabowo memuji keberanian perusahaan memproduksi 20.000 motor listrik di tengah risiko dan persaingan usaha yang ketat dengan kompetitor besar dari China, Jepang, dan Korea Selatan. Presiden kemudian menantang perusahaan tersebut untuk menambah skala produksinya hingga 200.000 unit bahkan 2 juta unit.
Prabowo berkeyakinan motor listrik nasional merupakan bagian dari kepentingan nasional, terutama dalam mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor. Tiap tahunnya, Presiden menyampaikan, dolar yang keluar dari Indonesia untuk mengimpor BBM dari luar negeri dapat mencapai 28 miliar dolar—30 miliar dolar.
“Kita bertekad, ini kita kurangi. Dengan solar, sekarang (ada alternatif, red.) B50, kita sudah mengurangi. Bahkan, harusnya kita tidak impor lagi Diesel dari luar, tetapi masih bergantung beberapa energi dari luar. Kita akan segera ganti LPG menjadi CNG, dan kita juga akan membangun (pembangkit, red.) listrik tenaga surya sebesar 100 gigawatt,” ujar Presiden.
*(Genta Tenri Mawangi/ANTARA)











