Jakarta. DMKtv,- FIFA akan menghadirkan wajah baru sepak bola dunia pada Piala Dunia 2026. Beberapa pekan menjelang kick-off turnamen pada 11 Juni, International Football Association Board (IFAB) resmi mengumumkan serangkaian perubahan penting dalam Laws of the Game yang bertujuan meningkatkan sportivitas, mempercepat tempo pertandingan, serta memperkuat keadilan di lapangan.
Kepala Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, mengatakan Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen besar pertama yang menerapkan aturan baru tersebut. Menurutnya, perubahan ini dirancang untuk memerangi diskriminasi, mengurangi pemborosan waktu, dan meningkatkan pengalaman pemain maupun penonton.
Salah satu aturan yang paling menyita perhatian adalah hukuman kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut saat terlibat konfrontasi di lapangan. Pemain yang sengaja menutupi mulut dengan tangan, lengan, atau jersey ketika berdebat atau berinteraksi dalam situasi sengketa akan langsung diusir wasit. Namun, aturan ini tidak berlaku untuk percakapan biasa yang tidak berkaitan dengan insiden pertandingan.
Kebijakan tersebut muncul setelah kasus yang melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang dituduh melontarkan hinaan diskriminatif kepada Vinicius Junior sambil menutupi mulutnya. Insiden itu mendorong regulator sepak bola memperketat pengawasan terhadap tindakan serupa.
IFAB juga mengambil langkah tegas terhadap aksi protes yang berlebihan. Mulai Piala Dunia 2026, pemain yang sengaja meninggalkan lapangan untuk memprotes keputusan wasit akan menerima kartu merah. Hukuman serupa berlaku bagi ofisial tim yang mendorong atau menghasut pemain melakukan tindakan tersebut.
Dalam upaya mengatasi praktik mengulur waktu, wasit kini akan menggunakan hitungan mundur visual selama lima detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang. Jika sebuah lemparan ke dalam tidak dilakukan hingga hitungan berakhir, hak lemparan akan berpindah kepada lawan. Sementara itu, kegagalan melakukan tendangan gawang dalam batas waktu yang ditentukan akan berujung pada pemberian tendangan sudut kepada tim lawan.
Aturan pergantian pemain juga diperketat. Setelah papan pergantian ditampilkan, pemain yang ditarik keluar hanya memiliki waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan melalui titik terdekat di garis batas. Jika melanggar ketentuan tersebut, pemain pengganti harus menunggu hingga satu menit setelah pertandingan dimulai kembali sebelum mendapat izin masuk ke lapangan. Pengecualian hanya berlaku untuk situasi cedera atau alasan keselamatan.
Perubahan lain menyasar penanganan cedera. Pemain yang mendapatkan perawatan medis di lapangan harus menunggu selama satu menit di luar lapangan setelah pertandingan dilanjutkan sebelum dapat kembali bermain. Aturan ini tidak berlaku bagi penjaga gawang, benturan serius, cedera kepala, atau pemain yang akan mengambil tendangan penalti.
Teknologi Video Assistant Referee (VAR) juga mendapat peran yang lebih luas. Selain memeriksa gol, penalti, dan kartu merah langsung, VAR kini dapat mengoreksi kartu merah yang muncul akibat kartu kuning kedua yang jelas-jelas keliru serta kasus salah identitas pemain. VAR juga diberi kewenangan untuk mengintervensi keputusan tendangan sudut yang terbukti salah apabila koreksi dapat dilakukan dengan cepat tanpa menghambat jalannya pertandingan.
Lebih jauh lagi, VAR dapat meninjau pelanggaran yang terjadi sebelum bola kembali dimainkan, termasuk insiden dalam situasi bola mati. Jika ditemukan pelanggaran sebelum eksekusi dilakukan, wasit dapat mengulang tendangan sudut atau tendangan bebas sekaligus memberikan sanksi disiplin yang sesuai.
Untuk mengantisipasi kondisi cuaca dan menjaga kebugaran pemain, FIFA akan menerapkan jeda minum selama tiga menit di setiap babak. Istirahat ini umumnya berlangsung sekitar menit ke-22, meski wasit diberi keleluasaan menyesuaikan waktunya sesuai kondisi pertandingan.
Sementara itu, aturan khusus juga diterapkan ketika penjaga gawang mengalami cedera dan membutuhkan perawatan di lapangan. Dalam situasi tersebut, pemain dari kedua tim tidak diperbolehkan meninggalkan lapangan dan harus tetap berada di area permainan sambil menerima instruksi dari pelatih masing-masing.
Melalui paket regulasi baru ini, FIFA dan IFAB berharap pertandingan berlangsung lebih cepat, lebih adil, serta bebas dari tindakan yang berpotensi memicu konflik maupun diskriminasi. Piala Dunia 2026 pun akan menjadi panggung pertama untuk menguji efektivitas perubahan besar dalam sejarah modern sepak bola.
*(Anas/DMKtv)











