DEPOK. DMKtv – Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berkolaborasi dengan komunitas Bakul Budaya Nusantara sukses menggelar Peringatan Hari Tenun Nasional 2026 sekaligus perayaan HUT ke-4 Bakul Budaya.
Acara sarat makna yang berlangsung di Auditorium Soe Hok Gie, FIB UI, Minggu (13/9/2026) ini, dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah beserta jajaran Dekanat FIB UI.
Mengusung semangat eksplorasi kekayaan Nusantara, perhelatan tahun ini secara khusus menyoroti keeksotisan tradisi dan ragam tenun dari Pulau Kalimantan.
Perwakilan Bakul Budaya Nusantara, Dewi sebagai ketua umum dari Bakul Budaya Nusantara mengungkapkan bahwa inisiatif ini dirancang sebagai ruang edukasi dan literasi bagi masyarakat agar tidak sekadar mengagumi, tetapi juga memahami esensi terdalam dari warisan budaya suku-suku di tanah Borneo.
Memasuki usianya yang keempat tahun, Bakul Budaya terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan dukungan penuh dari akademisi kampus dan keterbukaan Pemerintah Kota Depok saat ini.
Sinergi ini dinilai selaras dengan ikhtiar bersama dalam merawat kebudayaan sebagai instrumen utama untuk memupuk toleransi, sekaligus melepaskan Kota Depok dari stigma intoleran menuju kota yang jauh lebih inklusif.
Menyambung visi tersebut, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah dalam sambutannya menekankan bahwa keberagaman adalah keniscayaan yang diciptakan Tuhan bukan untuk diseragamkan, melainkan untuk diharmonisasikan.
Chandra Rahmansyah mengapresiasi langkah konkret Bakul Budaya yang terus bergerak menyatukan berbagai perbedaan di masyarakat guna mencapai satu tujuan kemanusiaan yang beradab.
Chandra Rahmansyah lantas meberikan analogikan bahaya pemaksaan penyeragaman tersebut dengan isu kerusakan lingkungan di lahan gambut Kalimantan.
Ia menjelaskan, ekosistem air seperti lahan gambut yang dipaksa diubah fungsinya menjadi lahan pertanian kering adalah bentuk “penyeragaman” yang merusak alam dan memicu kebakaran.
hal tersebut serupa niscaya terjadi jika tatanan sosial dan keberagaman manusia dipaksa menjadi satu warna yang sama.
Atas dedikasi luar biasa komunitas ini, Chandra menyampaikan rasa bangganya saat didaulat menjadi Dewan Pembina Bakul Budaya Nusantara.
Ia memuji kontribusi nyata komunitas ini yang telah berulang kali mementaskan seni tradisional di Depok seperti Tari Lengger dan Topeng Cirebon serta dedikasi mulia mereka dalam mengajarkan kebudayaan kepada anak-anak penyandang disabilitas.
“Mewujudkan toleransi di negara yang kita cintai.Jadi, memang kita ketahui pada saat itu Depok dikenal sebagai kota yang Toleransi, bahkan indeksnya terendah intoleransi paling rendah dibawah” Ujar Chandra Rahmansyah.
Momentum Hari Tenun Nasional ini, kebudayaan diharapakan tidak berhenti sebatas pelestarian visual semata, tetapi dapat diwariskan secara nyata kepada generasi penerus.
Kehadiran komunitas pelestari budaya diyakini akan terus menjadi benteng pertahanan moral bangsa, sekaligus fondasi utama dalam merawat kerukunan di tengah masyarakat Nusantara yang majemuk.
*(Bagoes Aryo/DMKtv)











