Mini LNG Plant Tuban Kurangi Impor LPG dan Pasok Kebutuhan Gas Industri di Jabar, Maluku hingga Papua

TUBAN, JATIM. DMKtv,- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan Mini LNG Plant atau fasilitas pengolahan gas di Tuban, Jawa Timur, mampu mengurangi impor LPG Indonesia.

“Ini (mini LNG Plant Tuban) bisa mengurangi impor kita. Jadi impor yang selama ini kita lakukan, bisa dikurangi dengan produksi di sini,” ujar Bahlil setelah meresmikan Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, Kamis.

Bahlil mengatakan rata-rata konsumsi LPG Indonesia adalah sebesar lebih dari 8,5 juta MT per tahun. Akan tetapi, produksi LPG nasional masih berada di angka 1,91 juta MT, sehingga sekitar 7,47 juta MT harus dipenuhi melalui impor.

Sementara itu, Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, memiliki kapasitas produksi maksimal setara dengan 55.300 ton per tahun dengan kapasitas tangki sebanyak 1.600.

Kapasitas produksi untuk komoditas LPG berkisar 9.800 ton per tahun, gas kondensat 19.600 barel per tahun, dan CO2 (liquid) 21.000 ton per tahun.

Selain itu, fasilitas pengolahan gas bumi milik PT SAG tersebut juga mampu memproduksi gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) dengan kapasitas 6 juta standar kaki kubik gas per hari (MMscfd).

Bahlil menyampaikan komoditas dari Mini LNG plant ini akan diserap sektor industri di Jawa Timur. Output produksi dan infrastruktur penyimpanan dirancang untuk mendukung rantai pasok LNG berbasis transportasi darat.

“Nah ini sangat membantu industri dalam rangka memberikan kepastian terhadap bahan baku,” ucapnya.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan proyek-proyek strategis Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas.

Menurut dia, Mini LNG Plant menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan daya saing industri, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Bahlil Lahadalia mengatakan, pihaknya memasok kebutuhan gas industri di kawasan Jawa Barat, Banten serta Jakarta dengan LNG yang diambil dari Maluku, Sulawesi, Papua dan Kalimantan.

“Karena terjadi penurunan lifting, kemudian kekurangannya itu diisi dengan LNG yang diambil dari Maluku, Sulawesi, Papua dan Kalimantan,” ujar Bahlil setelah meresmikan Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, Kamis.

Pernyataan tersebut terkait dengan kenaikan harga gas industri yang dialami oleh pelaku industri di kawasan Jawa Barat, Banten dan Jakarta.

Bahlil menyampaikan harga gas industri untuk kawasan Jawa Timur masih baik-baik saja. Sedangkan, harga gas industri untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Bekasi, serta Jakarta mengalami kenaikan.

Adapun yang menyebabkan kenaikan harga gas industri di sejumlah kawasan tersebut adalah menurunnya lifting gas di kawasan tersebut, yang berpengaruh kepada penyaluran gas pipa. Keadaan tersebut menyebabkan kebutuhan gas industri dipenuhi dengan pasokan LNG.

“Itu yang membuat harga ada penyesuaian,” kata Bahlil.

Meskipun demikian, ia menjamin tidak akan ada pemangkasan kuota ekspor LNG pada semester II 2026. Pemangkasan kuota ekspor LNG sempat terjadi pada 2025 untuk memenuhi kebutuhan LNG domestik.

“Aman, aman semuanya. Untuk ekspor LNG nggak ada yang dipotong,” ujar Bahlil.

*(Putu Indah Savitri/ANTARA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini