Ketegangan Regional Meningkat: Iran, Israel, Hizbullah, dan AS Terlibat dalam Eskalasi Baru

Timur Tengah. DMKtv – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangkaian perkembangan militer dan diplomatik terjadi secara bersamaan di Israel, Lebanon, Iran, dan kawasan Teluk. Di tengah eskalasi konflik, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana besar untuk memperkuat wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.

Dalam pertemuan pemerintah, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan menginvestasikan sekitar 20 miliar dolar AS untuk memperkuat pertahanan dan memulihkan keamanan di wilayah utara. Langkah tersebut mencakup zona hingga tujuh kilometer dari perbatasan Lebanon yang selama berbulan-bulan menjadi sasaran serangan drone dan roket. Netanyahu menyebut program itu sebagai bagian dari perjuangan besar melawan Hizbullah dan mengklaim kawasan selatan Israel yang berbatasan dengan Gaza kini telah menikmati kemakmuran setelah upaya serupa dilakukan.

Sementara itu, upaya diplomatik juga terus berjalan. Delegasi Israel dan Lebanon menyelesaikan hari pertama pembicaraan langsung di Washington, DC, yang dimediasi Amerika Serikat. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan kedua pihak terus mencatat kemajuan dalam jalur politik dan keamanan guna mencapai kesepakatan komprehensif yang dapat memulihkan kedaulatan Lebanon sekaligus menjamin keamanan Israel. Putaran perundingan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada hari berikutnya.

Di lapangan, pertempuran masih berkecamuk. Hizbullah mengklaim telah melancarkan 13 serangan terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan. Kelompok tersebut menyatakan menggunakan roket, artileri, rudal berpemandu, dan drone serang untuk menargetkan konsentrasi pasukan, kendaraan militer, serta pos komando Israel.

Menurut Hizbullah, para pejuangnya menyerang sejumlah tank Merkava dan kendaraan militer Israel di wilayah Haddatha dan al-Balou’. Mereka juga mengklaim berhasil memaksa pasukan Israel menghentikan operasi dan mundur di bawah perlindungan serangan udara. Serangan lainnya menyasar posisi Israel di sekitar Kastel Beaufort dan Kota Biyyada, tempat rudal dan roket menghantam markas komando serta unit lapis baja.

Pada saat yang sama, konflik turut meluas ke kawasan Teluk. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa gelombang baru drone Iran mencoba menyerang pasukan AS di Kuwait. Namun, sistem pertahanan udara Amerika berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah drone sebelum mencapai target.

CENTCOM juga mengonfirmasi bahwa pasukannya melancarkan serangan yang disebut sebagai tindakan pertahanan diri terhadap stasiun kendali drone Iran di Pulau Qeshm. Serangan itu terjadi setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan serangan balasan terhadap aset dan pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Militer Kuwait menyatakan berhasil mencegat rudal dan drone yang memasuki wilayah udaranya, sementara Bahrain mengaktifkan sirene peringatan sebagai langkah antisipasi. Media Iran sebelumnya melaporkan ledakan terdengar di sekitar Pulau Qeshm menyusul operasi militer tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan yang menyebut perundingan dengan Iran telah terhenti. Trump menegaskan komunikasi antara Washington dan Teheran tetap berlangsung secara intensif untuk mencari jalan keluar dari konflik yang terus berkembang.

Sementara itu, Israel melanjutkan serangan udara di Lebanon selatan sehari setelah Trump menyatakan Netanyahu telah menyetujui pembatalan rencana serangan terhadap pinggiran selatan Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 3.468 orang tewas dan 10.577 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak 2 Maret, menandai tingginya dampak kemanusiaan dari konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
*(Anas/DMKtv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini