JAKARTA. DMKtv,- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Hingga pemantauan terakhir, sistem IDSL/PUMMA di Rakata belum menunjukkan anomali muka air yang berpotensi menimbulkan tsunami tambahan.
Sistem tersebut menjadi penting karena berada di sekitar sumber potensi bahaya dan berfungsi sebagai salah satu penghubung pemantauan volcano-tsunami antara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan BMKG.
Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Semeidi, mengatakan IDSL/PUMMA yang berada di Rakata merupakan satu-satunya sistem monitoring volcano-tsunami di Selat Sunda.
“Keberadaan IDSL/PUMMA sangat dekat dengan sumber potensi tsunami, sehingga bisa cepat mendeteksi. Keberadaannya juga menjembatani PVMBG dan BMKG dalam monitoring dan peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda,” ujar Semeidi, Kamis 20 September 2026.
Tim pemantauan di Selat Sunda telah mengamati aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kemungkinan anomali muka air sejak 4 September 2026.
Pemantauan dilakukan seiring laporan PVMBG mengenai peningkatan aktivitas gunung api tersebut.
“Sejauh ini, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami,” jelas Semeidi.
Selain kedekatannya dengan sumber potensi bahaya, kemampuan sistem pemantauan di kawasan Krakatau kini didukung infrastruktur komunikasi yang lebih baik dibandingkan kondisi pada 2018.
Semeidi mengatakan IDSL/PUMMA mendapat dukungan cakupan seluler GSM dari Telkomsel serta Satelit Telekomunikasi BAKTI di kawasan Krakatau.
Dukungan tersebut memungkinkan pertukaran informasi dan pelaporan kondisi lapangan berlangsung lebih baik.
“Sehingga masyarakat atau nelayan bisa melaporkan langsung kondisi di sana,” katanya.
Menurut Semeidi, keberadaan sistem pemantauan yang dekat dengan sumber aktivitas gunung api menjadi bagian penting dalam mendeteksi perubahan kondisi secara lebih cepat.
Data tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan koordinasi antarlembaga dalam pemantauan dan penyampaian peringatan dini.
Terkait dentuman keras dan getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat, Semeidi mengatakan fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan ledakan atau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, berdasarkan data yang dipantau, aktivitas tersebut sejauh ini belum menunjukkan gangguan signifikan terhadap muka air. “Namun, sejauh ini tidak cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak terjadi potensi atmospheric-tsunami,” ujarnya.
Kemampuan IDSL/PUMMA dalam mendeteksi perubahan muka air juga telah teruji pada peristiwa erupsi Gunung Hunga Tonga pada 2022.
Ledakan besar gunung api di Pasifik Selatan tersebut memicu perubahan atmosfer dan fenomena atmospheric-tsunami yang terdeteksi hingga Indonesia. “Seluruh data dan peringatan tsunami saat itu juga tersampaikan ke BMKG,” kata Semeidi.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya sistem pemantauan yang mampu menangkap perubahan kondisi laut dan atmosfer secara cepat, terutama untuk wilayah yang memiliki potensi bahaya dari aktivitas gunung api.
BRIN bersama lembaga terkait akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.
Semeidi mengimbau masyarakat mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta informasi mengenai potensi tsunami melalui kanal resmi lembaga berwenang.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Tim akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi. Apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi,” tuturnya.
*(M. Ichsan/DISWAY.ID)











