Euforia Piala Dunia Beradu dengan Ketakutan Deportasi

Amerika Serikat. DMKtv – Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi panggung perayaan bagi jutaan penggemar sepak bola dari berbagai negara. Namun bagi sebagian komunitas imigran di Amerika Serikat, turnamen terbesar dunia itu justru menghadirkan kecemasan baru.

Di tengah antusiasme menyambut ajang yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, banyak pendukung dari kelompok minoritas mengaku khawatir terhadap aktivitas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) yang semakin agresif di bawah kebijakan Presiden Donald Trump.

Kekhawatiran itu terasa kuat di kalangan diaspora Haiti yang akan menyaksikan tim nasional mereka tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974.

Komunitas Haiti Dilanda Dilema

Bagi Emile, seorang warga Haiti yang tinggal di Ohio, keikutsertaan negaranya di Piala Dunia merupakan momen bersejarah yang telah lama dinantikan. Namun impian untuk menyanyikan lagu kebangsaan Haiti di stadion bersama ribuan pendukung lainnya kini dibayangi rasa takut.

Haiti akan membuka perjalanan mereka di Piala Dunia dengan menghadapi Skotlandia di Stadion Gillette, Foxborough, Massachusetts, pada 14 Juni. Negara bagian tersebut menjadi rumah bagi sekitar 87.000 warga Haiti, salah satu komunitas diaspora terbesar di Amerika Serikat.

Meski demikian, Emile mengaku ragu menghadiri pertandingan tersebut karena khawatir menjadi sasaran operasi ICE.

Menurutnya, pengacaranya bahkan menyarankan agar ia tidak bepergian menggunakan pesawat untuk menghindari pemeriksaan yang berpotensi berujung pada penahanan atau deportasi.

Ketakutan Meluas di Komunitas Imigran

Kecemasan yang dirasakan Emile bukanlah kasus tunggal. Banyak komunitas imigran di berbagai wilayah Amerika Serikat mengaku hidup dalam ketidakpastian akibat meningkatnya operasi penegakan hukum imigrasi.

Monica Sarmiento dari Virginia Coalition for Immigrant Rights mengatakan banyak keluarga imigran kini merasa tidak aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, operasi yang dilakukan ICE tidak hanya menyasar individu tanpa dokumen, tetapi juga orang-orang yang memiliki status perlindungan sementara atau izin tinggal tertentu.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar orang yang ditangkap dan dideportasi tidak memiliki catatan kriminal, bahkan banyak yang telah tinggal dan membayar pajak di Amerika Serikat selama puluhan tahun.

Kekhawatiran Menjelang Turnamen Terbesar Dunia

Sebanyak 78 dari 104 pertandingan Piala Dunia 2026 akan berlangsung di Amerika Serikat. Besarnya porsi pertandingan yang digelar di negara itu membuat isu keamanan dan imigrasi menjadi perhatian utama berbagai kelompok masyarakat.

Komunitas Hispanik, yang mencakup sekitar 20 persen populasi Amerika Serikat dan terkonsentrasi di negara bagian seperti California, Texas, dan Florida, juga menyuarakan kekhawatiran serupa.

Di sisi lain, sekitar 850.000 warga Haiti yang tinggal di Amerika Serikat, terutama di Miami dan New York, menghadapi ketidakpastian terkait rencana pemerintah untuk mengakhiri program perlindungan sementara yang selama ini melindungi mereka dari deportasi.

Organisasi HAM Keluarkan Peringatan

Kekhawatiran semakin meningkat setelah sejumlah organisasi hak asasi manusia mengeluarkan peringatan menjelang turnamen.

Lebih dari 120 organisasi hak sipil Amerika Serikat, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU), memperingatkan adanya potensi pelanggaran hak terhadap penggemar, pemain, jurnalis, dan pengunjung internasional.

Mereka menyoroti risiko penolakan masuk ke Amerika Serikat, penahanan, deportasi, diskriminasi rasial, hingga perlakuan tidak manusiawi selama berada dalam pengawasan aparat imigrasi.

Laporan kelompok HAM juga menyoroti kasus seorang pencari suaka yang ditangkap dan dideportasi setelah menghadiri final Piala Dunia Antarklub di New Jersey tahun lalu.

Pemerintah AS Beri Jaminan

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat menegaskan bahwa pengunjung internasional yang datang secara legal untuk menghadiri Piala Dunia tidak perlu merasa takut.

Menurut juru bicara departemen tersebut, penegakan hukum imigrasi hanya ditujukan kepada individu yang berada di Amerika Serikat tanpa status hukum yang sah.

Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran di kalangan komunitas imigran dan kelompok advokasi hak sipil.

Pekerja Stadion Tolak Kehadiran ICE

Penolakan terhadap keterlibatan ICE juga muncul dari kalangan pekerja stadion. Di Los Angeles, serikat pekerja UNITE HERE Local 11 yang mewakili sekitar 2.000 pekerja sektor perhotelan mengancam melakukan mogok kerja jika agen imigrasi federal ditempatkan di Stadion SoFi selama Piala Dunia.

Para pekerja menilai kehadiran ICE akan menciptakan suasana ketakutan bagi karyawan maupun penggemar yang datang ke stadion.

Mereka meminta FIFA menjamin bahwa data pribadi pekerja dan penonton tidak akan dibagikan kepada badan penegak hukum imigrasi atau lembaga keamanan lainnya.

Harga Tiket Jadi Keluhan Tambahan

Selain persoalan imigrasi, tingginya harga tiket juga menjadi hambatan bagi banyak penggemar, termasuk komunitas Haiti di Amerika Serikat.

Julio Midy, pendiri Radio Concorde di Boston yang melayani diaspora Haiti, mengatakan banyak warga Haiti ingin mendukung tim nasional mereka secara langsung tetapi tidak mampu membeli tiket pertandingan.

Harga tiket pertandingan pembuka Amerika Serikat melawan Paraguay, misalnya, mencapai lebih dari 1.100 dolar AS untuk kategori termurah yang tersedia pada penjualan awal.

Bagi banyak keluarga imigran, biaya tersebut dinilai terlalu mahal dan membuat Piala Dunia semakin sulit dijangkau.

Pesta Sepak Bola yang Diuji Realitas Sosial

Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi salah satu turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola. Namun di balik kemegahan stadion dan antusiasme jutaan pendukung, turnamen ini juga memperlihatkan berbagai persoalan sosial yang tengah dihadapi Amerika Serikat.

Bagi banyak komunitas imigran, perjalanan menuju stadion tidak lagi sekadar soal mendukung tim kesayangan. Mereka juga harus mempertimbangkan risiko hukum, status imigrasi, hingga kemungkinan menjadi sasaran penegakan hukum saat merayakan olahraga yang mereka cintai.

*(Anas/DMKtv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini