JAKARTA. DMKtv,- Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis hasil survei terbaru mengenai tren elektabilitas sejumlah tokoh yang berpotensi maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Hasil survei yang dilaksanakan pada 1–10 Oktober 2026 itu menunjukkan perubahan angka elektabilitas Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, hingga mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah penurunan elektabilitas Prabowo dalam rangkaian survei SMRC.
Berdasarkan data yang dipaparkan lembaga tersebut, angka elektabilitas Prabowo turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026.
Sebaliknya, Dedi Mulyadi menunjukkan tren peningkatan. Elektabilitas Gubernur Jawa Barat itu tercatat mencapai 35,5 persen dalam survei terbaru, naik dibandingkan hasil pengukuran pada November 2025 yang berada di angka 19,7 persen.
SMRC mengumumkan hasil survei tersebut pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Data ini memberikan gambaran mengenai perubahan preferensi responden terhadap sejumlah tokoh yang masuk dalam pengukuran elektabilitas menuju Pilpres 2029.
Namun, hasil survei ini tidak bisa langsung diartikan sebagai prediksi hasil pemilihan presiden yang masih akan berlangsung beberapa tahun mendatang.
Dalam rangkaian survei SMRC, Prabowo Subianto memperlihatkan tren penurunan elektabilitas yang cukup besar. Pada November 2025, mantan Menteri Pertahanan tersebut mencatatkan angka 34,9 persen melalui survei yang dilakukan lewat telepon.
Angka itu kemudian turun menjadi 33,3 persen dalam survei periode Februari–Maret 2026. Penurunan semakin terlihat pada Juli 2026, ketika elektabilitas Prabowo tercatat sebesar 14,5 persen.
Tren tersebut berlanjut dalam survei Oktober 2026. Elektabilitas Prabowo kembali turun menjadi 9,8 persen.
Jika dibandingkan dengan hasil November 2025, angka elektabilitas Prabowo dalam survei terbaru turun 25,1 poin persentase. Perubahan ini menunjukkan pergeseran yang besar dalam hasil pengukuran SMRC selama periode tersebut.
Meski begitu, angka elektabilitas tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik perubahan dukungan responden.
Untuk mengetahui faktor penyebabnya, diperlukan informasi tambahan, seperti penilaian publik terhadap kinerja pemerintahan, isu yang berkembang, serta karakteristik responden dalam setiap periode survei.
Hasil tersebut juga perlu dibaca sesuai konteks pengukuran dan metode yang digunakan. Elektabilitas dalam survei merupakan gambaran pilihan responden pada saat pengumpulan data, bukan hasil pemungutan suara yang sebenarnya.
Berbeda dengan Prabowo, elektabilitas Dedi Mulyadi menunjukkan tren peningkatan dalam empat kali pengukuran yang dipaparkan SMRC.
Gubernur Jawa Barat tersebut memperoleh elektabilitas 19,7 persen pada November 2025. Angkanya kemudian meningkat menjadi 23,3 persen pada survei Februari–Maret 2026.
Kenaikan berlanjut pada Juli 2026, ketika elektabilitas Dedi mencapai 35,0 persen. Dalam survei Oktober 2026, angkanya kembali naik menjadi 35,5 persen.
Berikut perbandingan tren elektabilitas Prabowo dan Dedi Mulyadi berdasarkan data SMRC:
| Periode survei | Prabowo Subianto | Dedi Mulyadi |
|---|---|---|
| November 2025 | 34,9% | 19,7% |
| Februari–Maret 2026 | 33,3% | 23,3% |
| Juli 2026 | 14,5% | 35,0% |
| Oktober 2026 | 9,8% | 35,5% |
Data tersebut memperlihatkan perubahan posisi kedua tokoh dalam pengukuran elektabilitas SMRC. Pada November 2025, angka Prabowo masih lebih tinggi daripada Dedi. Namun, pada Juli 2026, elektabilitas Dedi tercatat jauh melampaui Prabowo.
Dalam survei Oktober 2026, selisih elektabilitas keduanya mencapai 25,7 poin persentase.
Meski demikian, hasil tersebut sebaiknya dipahami sebagai gambaran preferensi responden dalam survei, bukan sebagai kepastian mengenai siapa yang akan maju atau memenangkan Pilpres 2029.
Peta politik masih dapat berubah seiring perkembangan pemerintahan, dinamika partai politik, dan munculnya kandidat lain.
Selain Prabowo dan Dedi Mulyadi, SMRC turut mengukur tren elektabilitas Anies Baswedan.
Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut memperlihatkan pergerakan yang naik turun selama periode survei. Pada November 2025, elektabilitas Anies tercatat sebesar 6,1 persen.
Angka itu meningkat menjadi 10,8 persen pada survei Februari–Maret 2026. Namun, pada Juli 2026, elektabilitasnya turun menjadi 8,2 persen.
Dalam survei Oktober 2026, elektabilitas Anies kembali meningkat menjadi 10,3 persen.
Jika dibandingkan dengan hasil November 2025, elektabilitas Anies mengalami kenaikan 4,2 poin persentase. Sementara itu, dibandingkan dengan survei Juli 2026, angka terbarunya meningkat 2,1 poin persentase.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa dukungan terhadap tokoh politik dapat berubah dari satu periode pengukuran ke periode berikutnya. Meski begitu, kenaikan dalam survei belum tentu berlanjut pada pengukuran selanjutnya.
Karena itu, tren elektabilitas Anies masih perlu dicermati dalam survei-survei berikutnya untuk melihat apakah peningkatan tersebut bertahan atau kembali mengalami perubahan.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga masuk dalam pengukuran elektabilitas yang dilakukan SMRC.
Berbeda dengan Anies yang mengalami fluktuasi, elektabilitas Gibran menunjukkan kenaikan bertahap dalam empat periode survei yang disampaikan lembaga tersebut.
Pada November 2025, elektabilitas Gibran tercatat sebesar 5,1 persen. Angkanya meningkat menjadi 6,8 persen pada Februari–Maret 2026.
Kenaikan berlanjut pada Juli 2026 dengan elektabilitas mencapai 7,7 persen. Dalam survei Oktober 2026, angka tersebut kembali meningkat menjadi 8,4 persen.
Dibandingkan dengan November 2025, elektabilitas Gibran naik 3,3 poin persentase.
Berikut rangkuman elektabilitas empat tokoh berdasarkan survei SMRC Oktober 2026:
- Dedi Mulyadi: 35,5 persen.
- Prabowo Subianto: 9,8 persen.
- Anies Baswedan: 10,3 persen.
- Gibran Rakabuming Raka: 8,4 persen.
Angka tersebut merupakan hasil pengukuran terhadap tokoh-tokoh yang disebutkan dalam survei.
Data empat nama ini tidak otomatis menggambarkan keseluruhan peta persaingan Pilpres 2029 karena masih mungkin terdapat tokoh lain dalam pengukuran maupun perkembangan politik selanjutnya.
SMRC menjelaskan bahwa populasi survei mencakup seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum. Kriteria tersebut meliputi warga berusia minimal 17 tahun atau yang sudah menikah ketika survei dilaksanakan.
Dalam pelaksanaannya, populasi dibagi menjadi dua kelompok, yakni warga yang memiliki telepon seluler dan warga yang tidak memilikinya.
Pada kelompok pemilik telepon seluler, SMRC memilih 1.013 responden secara acak menggunakan metode double sampling. Wawancara terhadap kelompok ini dilakukan melalui telepon.
Sementara itu, pada kelompok yang tidak memiliki telepon seluler, sebanyak 200 responden dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka.
Dengan demikian, total responden yang diwawancarai dalam survei tersebut mencapai 1.213 orang.
SMRC mencantumkan toleransi kesalahan atau margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Angka margin of error tersebut merupakan ukuran ketidakpastian statistik berdasarkan rancangan survei.
Hasil penelitian tetap perlu dipahami dengan mempertimbangkan pelaksanaan pengumpulan data, metode pengambilan sampel, serta kemungkinan adanya faktor lain yang memengaruhi jawaban responden.
Perlu diperhatikan pula bahwa perbandingan tren antarkurun waktu idealnya mempertimbangkan konsistensi metode survei yang digunakan.
Dalam keterangan yang tersedia, survei November 2025 disebut dilakukan melalui telepon, sedangkan survei terbaru menggunakan dua pendekatan untuk menjangkau responden yang memiliki maupun tidak memiliki telepon seluler.
*(Derry Sutardi/DISWAY.ID)











