JAKARTA. DMKtv,– Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkap temuan yang menjadi catatan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data per September 2026, distribusi MBG dinilai belum sepenuhnya memprioritaskan siswa dari keluarga miskin, bahkan penerimanya masih lebih banyak berasal dari kelompok siswa kaya dibandingkan siswa miskin.
Direktur Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Republik Indonesia Firman Hidayat mengatakan hingga data per September 2026, MBG masih terkonsentrasi di perkotaan dibandingkan di pedesaan.
“Kami juga melihat data per September, memang sebaran distribusi penerima MBG itu masih terkonsentrasi, masih lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan pedesaan,” kata Firman di Istana Merdeka, Selasa, 20 Oktober 2026.
Bukan hanya itu, Firman mengatakan masih banyak lebih banyak siswa kaya yang menerima MBG jika dibandingkan siswa miskin.
Karena itu, Firman mengatakan perlu adanya pemerataan distribusi perlu menjadi perhatian pemerintah agar manfaat program MBG dapat dirasakan oleh kelompok yang paling membutuhkan.
DEN merekomendasikan agar pemerintah memprioritaskan penyaluran MBG kepada siswa di wilayah perdesaan, daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
“Nah, artinya perlu ada prioritas yang lebih baik, terutama untuk daerah 3T, daerah pedesaan, dan masyarakat miskin, gitu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Firman mengungkapkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada tingkat absensi siswa.
Menurutnya, banyak siswa penerima MBG jarang absen.
“Jadi kalau kita lihat absensi siswa penerima MBG itu jarang absen dibandingkan dengan non-penerima MBG,” kata Firman.
Firman mengatakan data tersebut berasal Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh DEN bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lainnya.
Survei tersebut mulai dilakukan pada September tahun lalu dan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Salah satu aspek yang diteliti adalah dampak MBG terhadap tingkat absensi siswa, semangat belajar, serta rasa lapar di kalangan penerima manfaat.
“Salah satu pertanyaannya adalah melihat bagaimana outcome dari program MBG ini terhadap absensi siswa di sekolah, semangat belajarnya, dan rasa laparnya,” ungkap dia.
Berdasarkan hasil studi tersebut, siswa penerima MBG tercatat lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program tersebut. Perbedaan itu disebut cukup besar, terutama pada kelompok masyarakat paling miskin atau desil 1.
Firman menjelaskan, siswa dari kelompok ekonomi terbawah yang tidak menerima MBG cenderung lebih sering absen. Sebaliknya, siswa penerima MBG relatif lebih jarang tidak masuk sekolah.
Ia juga menyebut penurunan absensi semakin besar seiring dengan meningkatnya intensitas penerimaan program MBG di sekolah.
“Jadi ketika dia non-penerima MBG, dia akan sering absen, sementara kalau penerima MBG dia akan relatif tidak absen ke sekolah. Dan ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya,” ujarnya.
Selain kehadiran siswa, studi tersebut juga menemukan adanya peningkatan semangat belajar pada penerima MBG. Namun, Firman menekankan bahwa hasil tersebut berkaitan dengan kualitas makanan yang disajikan.
Menurut dia, ketika kualitas menu MBG dinilai sangat baik, sebanyak 95 persen siswa penerima program menyatakan semangat belajar mereka meningkat.
Sebaliknya, persentase siswa yang melaporkan peningkatan semangat belajar menurun ketika kualitas menu yang diterima dinilai buruk.
“Ketika kualitas menunya sangat baik, 95% siswa penerima MBG mengatakan mereka semangat belajarnya lebih tinggi. Tetapi memang ketika kualitas menunya jelek, itu angkanya drop sangat rendah,” imbuhnya.
Atas temuan tersebut, Firman menyampaikan bahwa salah satu rekomendasi DEN kepada Presiden Prabowo Subianto adalah agar pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap kualitas menu MBG.
Menurutnya, kualitas makanan yang diberikan kepada siswa berkaitan dengan rasa lapar dan semangat mereka dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden yang tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG, karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah,” tuturnya.
*(Anisha Aprilia/DISWAY.ID)











