Catatan Abah Dahlan: “Hati Robot”

Oleh: Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN

DMKtv,- Senin 02-11-2026

Yang menarik pengunjung awam di pameran robot di Beijing adalah: robot penyaji kopi. Tentu saya mencoba membeli kopi ke robot itu: Rp60.000/gelas. Bukan karena ingin minum kopinya tapi untuk membeli pengalaman dilayani robot.

Ada daya tarik lain: dapat bonus penghias permukaan kopi dengan foto wajah sendiri. Setelah wajah anak Pak Iskan terlihat di permukaannya kopi itu tidak segera saya minum –takut foto wajah itu rusak. Tapi juga punya maksud lain: ingin tahu seberapa lama foto wajah itu tidak pudar.

Sampai lima menit kemudian masih solid. Tanda-tanda memudar pun belum ada. Padahal kopi itu saya bawa jalan keliling pameran: sedikit terguncang. Sampai di stand terakhir masih utuh. Yakni stand yang menampilkan dua robot manusia. Yang satu bisa main tai chi. Satunya lagi, ehm, bisa senam mirip senamnya yang menulis cerita ini.

Tentu ada robot yang main basket. Main bola. Tinju. Lengkap. Semua yang menggambarkan manusia yang lebih menarik. Misalnya ada robot Einstein –bisa menjawab pertanyaan apa saja mengenai jagad raya ini. Rupanya ke dalam robot itu sudah diinput banyak data mengenai Einstein berikut karya-karyanya.

Ada pula robot sinse yang bisa mendeteksi denyut nadi pasien –lalu memberikan diagnosisnya. Ada lagi robot yang untuk mengoperasi lutut manusia.

Saya pun ingat Nisa –Khoirunnisak Rusli, wanita muda Mojokerto yang menyerahkan separo hatinyi untuk suami: Mas Olik –Rokhmat Solikhuddin. Hari saya di pameran robot itu tepat satu tahun Nisa dioperasi oleh robot di salah satu rumah sakit di Beijing. Robotlah yang melakukan pengirisan hati Nisa. Diiris separo. Robot itu pula yang lantas mengeluarkan separo hati Nisa untuk dipasang di tubuh suami –menggantikan hati suaminyi yang sudah rusak oleh sirosis.

Suami-istri-satu-hati itu kini sangat sehat. Bahkan enam bulan lalu sudah naik haji sambil membawa jamaah haji yang ditangani perusahaan keluarga mereka.

Keesokan harinya saya makan malam dengan empat dokter yang menangani Nisa dan suami – yang 20 tahun lalu juga menangani saya di RS Tianjin.

Kepada para dokter itu saya sekali lagi mengucapkan terima kasih. Saya juga melaporkan keadaan Nisa dan suami yang sehat sekali –sudah bisa naik haji pula.

Tidak hanya itu: saya juga minta bantuan mereka sekali lagi. Seorang suami warga Surabaya hari itu tiba di Beijing untuk keperluan yang sama. Istrinya juga sudah siap memberikan separo hatinyi kepada sang suami.

Sang suami sempat ngambek. Ia tidak mau berangkat ke Beijing. Batal. Yakni ketika tahu istrinyalah yang akan memberikan separo hatinyi untuk menyelamatkan nyawanya.

Di Surabaya sang suami sudah keluar masuk rumah sakit. Sudah pula berobat ke Singapura. Perutnya membesar. Cairan dari perut harus dikeluarkan. Ketika diberi tahu satu-satunya jalan menuju sembuh hanyalah transplantasi ia akhirnya mau.

Rupanya ia mengira akan bisa dapat hati dari orang yang meninggal di Tiongkok –seperti saya dulu. Ia tidak tahu kalau yang seperti itu sudah tidak boleh lagi. Hati orang Tiongkok yang meninggal dunia harus hanya untuk orang Tiongkok –yang juga antre panjang.

Begitu tahu akan diambilkan dari hati istri ia tidak mau transplant. Pilih pengobatan cara lain. Saya pun minta bantuan Nisa untuk ikut memberi penjelasan. Nisa jadi contoh hidup: bagaimana orang yang hatinya diambil separo tidak apa-apa. Dalam tiga bulan hati Nisa sudah tumbuh kembali utuh seperti sedia kala. Pun separo hati yang dipasang di tubuh suami sudah tumbuh dan menjadi satu hati yang utuh.

Setelah mendengar penjelasan Nisa akhirnya sang suami bersedia berangkat. Awalnya saya sendiri yang akan mengantarkannya ke Beijing. Nisa juga sudah siap mengantar kalau saya tidak punya waktu di tanggal yang ditentukan.

Saya sudah menghubungi dokter. Nisa sudah mengirimkan data medis pasien itu ke Beijing. Rumah sakit sudah siap menerima. Semuanya sudah siap. Tinggal berangkat.

Ternyata anak perempuan pasien itu bisa berbahasa Mandarin. Bahasa Mandarinnyi sangat bagus. Dia lulusan SMA Xin Zhong, Surabaya. Maka saya atau Nisa tidak perlu mengantar. Toh semuanya sudah siap. Dan lagi di waktu hampir bersamaan saya juga ke Beijing.

Saat saya makan malam dengan para dokter itu, mereka bertiga (suami, istri, anak) sedang di rumah sakit. Masih harus menjalani pemeriksaan yang teliti.

Tiga bulan lalu sebenarnya juga ada suami istri yang punya maksud serupa. Orang Kupang, NTT. Sang suami opname di rumah sakit Surabaya. Istrinya menghubungi saya. Begitu mereka memutuskan akan transplant saya hubungi dokter di Beijing. Siap. Istri pasien pun mulai mengurus visa. Lalu memesan tiket, termasuk tiket untuk saya yang akan mengantarkannya.

Sehari sebelum berangkat sang suami meninggal dunia. Saya menghubungi istrinya untuk bertanya di mana jenazah disemayamkan –bermaksud akan mesong. Ternyata jenazah diterbangkan ke Kupang.

Di Tiongkok robot sudah merambah ke mana-mana termasuk ke sektor kesehatan. Saat rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 berkunjung ke pabrik mobil Xiaomi mereka geleng-geleng kepala: hampir tidak terlihat manusia di pabrik yang begitu besar. Pun ketika rombongan ke pabrik mie instan terkemuka di Beijing: serba-robot.

Robot diciptakan manusia untuk membantu manusia yang ciptaan siapa? (*)

BACA DARI SUMBERNYA:

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/976818/hati-robot

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini