BOGOTA, KOLOMBIA. DMKtv,- Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington, Kamis (7/5), sebuah pertemuan penting yang terjadi hanya lima bulan sebelum pemilihan presiden Brasil yang krusial.
Menghadapi penurunan popularitas domestik dan hasil jajak pendapat yang hampir imbang dengan Flavio Bolsonaro—putra mantan pemimpin Jair Bolsonaro—kunjungan Lula bertujuan untuk menstabilkan hubungan yang bergejolak dengan pemerintahan Trump selama tahap akhir kampanyenya.
Setelah pertemuan hampir tiga jam di Gedung Putih, Lula menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai “langkah yang sangat penting” untuk memperkuat ikatan antara kedua negara.
“Saya pikir dua demokrasi terbesar di benua ini dapat menjadi contoh bagi dunia,” kata Lula kepada wartawan selama konferensi pers di Kedubes Brasil.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah gesekan diplomatik yang dipicu oleh langkah-langkah tarif agresif yang diterapkan oleh pemerintahan Trump sejak kembali berkuasa pada 2025.
Awalnya, Trump memberlakukan tarif balasan terhadap Brasil setelah sekutunya, Jair Bolsonaro, dijatuhi hukuman 27 tahun penjara karena perannya dalam upaya kudeta.
Menanggapi perubahan lanskap ekonomi global, Lula mencatat bahwa meskipun AS dan Brasil tetap menjadi mitra vital, “hegemoni” AS mulai memudar sekitar tahun 2008 ketika China mulai muncul sebagai mitra dagang utama Brasil.
Lula menekankan bahwa Brasil secara aktif berupaya untuk mendiversifikasi hubungan ekonominya untuk melawan apa yang dia gambarkan sebagai kebijakan perdagangan “unilateral” Washington.
“Tujuan kami adalah untuk menyelesaikan perjanjian dengan mitra seperti Kanada dan Jepang. Ini memberi kita dimensi baru dalam membela multilateralisme–sebuah penangkal yang diperlukan terhadap unilateralisme yang telah kita lihat dipraktikkan melalui perpajakan dan kebijakan pemerintahan Trump,” katanya.
Meskipun dokumen Gedung Putih baru-baru ini mengkritik sistem pembayaran instan Pix Brasil sebagai merugikan perusahaan AS, Lula menegaskan bahwa topik tersebut tidak dibahas.
“Dia tidak membahas Pix, dan saya juga tidak. Lagipula, saya berharap suatu hari nanti dia akan mengadopsi Pix, terutama karena banyak perusahaan AS sudah melakukannya,” kata Lula.
Selain perdagangan, para pemimpin membahas ancaman kejahatan transnasional yang meningkat. Lula dilaporkan mendorong pendekatan tanggung jawab bersama terkait aliran senjata api ilegal ke Amerika Selatan.
“Kami membahas masalah kejahatan terorganisir. Saya memberi tahu presiden bahwa beberapa senjata yang tiba di Brasil berasal dari Amerika Serikat. Ini adalah masalah yang harus kita hadapi bersama,” kata Lula.
Meski konferensi pers bersama yang diantisipasi di Ruang Oval tidak terwujud, Presiden Trump memberi sinyal hasil positif melalui platform Truth Social miliknya.
Trump menggambarkan pertemuan itu berjalan “sangat baik”, menggambarkan rekan sejawatnya dari Brasil itu sebagai “dinamis”, dan menegaskan bahwa diskusi mereka terutama berfokus pada tarif.
*(Anadolu/ANTARA)











