Bahlil Sebut PNBP Minerba Naik Meski Pemerintah Pangkas Kuota Produksi

JAKARTA. DMKtv,- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) menunjukkan peningkatan.

Peningkatan penerimaan negara tersebut terjadi meskipun pemerintah memangkas kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan pertambangan yang disetujui oleh Kementerian ESDM.

“Laporan dari Dirjen Minerba kepada saya, produksi batu bara itu tidak sebanyak di tahun 2025, tetapi PNBP-nya lebih tinggi dibandingkan dengan 2025,” ujar Bahlil dalam acara Donor Darah Ditjen Minerba yang digelar di Jakarta, Senin.

Bahlil meyakini bahwa keberhasilan pemerintah meningkatkan PNBP di sektor minerba merupakan buah dari pemangkasan kuota produksi yang bertujuan untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan (supply and demand).

Pengaturan tersebut lantas berdampak terhadap harga komoditas di pasar internasional.

“Dengan penataan terhadap pengaturan supply and demand, harga batu bara Indonesia sekarang sudah mulai ada marwahnya di mata internasional.​ Harga nikel sekarang mulai tidak lagi dipermainkan secara leluasa oleh oknum-oknum tertentu. Inilah sebenarnya tujuan kita,” ucap Bahlil.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minerba, produksi batu bara sepanjang 2025 mencapai 817,48 juta ton, sedangkan produksi hingga Juli 2026 tercatat 423,71 juta ton atau rata-rata sekitar 60,5 juta ton per bulan.

Rata-rata produksi tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata produksi 2025 yang sekitar 68,1 juta ton per bulan.

Akan tetapi, PNBP pada komoditas batu bara yang tercatat hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp66 triliun, meningkat dibandingkan Rp59 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan juga terjadi pada komoditas nikel. PNBP komoditas nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, meningkat dibandingkan Rp10 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Peningkatan PNBP nikel tersebut terjadi ketika produksi nikel mengalami penurunan sekitar 13 juta ton. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minerba per 1 September 2026, produksi bijih nikel tercatat 173,79 juta ton. Sementara produksi tahun 2025 sebanyak 320,37 juta ton.

“Artinya, kita ingin produksinya tidak terlalu banyak, tapi pendapatan negara itu yang paling penting,” ucap dia.

*(Putu Indah Savitri/ANTARA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini