JAKARTA. DMKtv,- Akun sosmed Rifaldy Fajar dan Prihantini hilang usai viral diduga bikin riset palsu di ISPPD 2026.
Setelah ditelusuri Disway.id, akun sosial media (sosmed) Rifaldy Fajar dan juga Prihantini menghilang setelah beredar isu keduanya membuat riset palsu di sebuah konferensi internasional.
Salah satu akun X netizen @thetaintedsrrw mengunggah tangkapan layar yang menampilkan akun Instagram Rifaldy dan juga Prihantini.
Sebelum hilang, akun Prihantini dengan username @pryhantkielh berisi foto dan video dirinya yang berada di luar negeri.
Terlihat dari kumpulan foto yang dibuatnya di ‘highlight’ Instagram penuh dengan sejumlah nama-nama negara di Eropa dan Asia, seperti Sapporo (Jepang), Abu Dhabi, Zurich (Swiss) dan lainnya.
Tak hanya Instagram, akun TikTok Prihantini dengan username yang sama juga diprivasi setelah ramai dikuliti netizen.
Sama halnya dengan Prihantini, akun Rifaldy sebelum menghilang ini banyak mengunggah momen dirinya di luar negeri serta beberapa fotonya saat menerima sebuah apresiasi atau penghargaan.
Bikin Riset Palsu
Kecurangan ini dibongkar oleh netizen melalui akun Threads @mandharabrasika.
Berawal dari konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia diseluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark.
Terduga pelaku adalah seorang wanita yang memalsukan identitasnya dengan cara berganti-ganti nama saat presentasi serta mengganti jilbab dan nametag.
Identitas palsu ini kemudian ia pamerkan di depan para ilmuwan lainnya.
“Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag.” tulis akun tersebut.
Bahkan, hasil riset yang dirilis dan dipaparkan pada konferensi itu ternyata dibuat dengan menggunakan AI.
Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisan nya juga,” lanjutnya.
Yang lebih mencurigakan adalah lokasi penelitian yang dianggap tidak masuk akal seperti Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malawi, India utara.
Padahal periset yang tertera semua dari Indonesia tanpa adanya kolaborator setempat serta tanpa keterangan persetujuan etik.
Pelaku menggunakan modus ini agar mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri secara gratis.
*(Rury Pramesti/DISWAY.ID)











