Trump Klaim tak diberi tahu Netanyahu Soal Serangan Israel ke Qatar

WASHINGTON. DMKtv, – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak mendapat pemberitahuan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu terkait serangan udara Israel di Qatar pekan lalu. Pernyataan ini muncul pada Senin (15/9) waktu setempat, di tengah forum mengenai siapa yang mengetahui lebih dahulu operasi kontroversial tersebut.

Komentar Trump bertolak belakang dengan laporan Axios, yang mengutip pejabat Israel bahwa Gedung Putih sudah diberi tahu sesaat sebelum serangan dilancarkan. Namun, pemerintahan Trump menyebut informasi baru diterima ketika rudal sudah ditembakkan, sehingga presiden tidak memiliki kesempatan untuk mencegah atau menolak operasi tersebut.

Serangan udara Israel di Doha, Qatar, menargetkan para pemimpin politik Hamas pada Selasa lalu, memperluas eskalasi militer yang selama ini terpusat di Gaza. Aksi ini menuai kecaman luas dari negara-negara Timur Tengah yang menilai langkah Israel berisiko memperuncing ketegangan di kawasan yang sudah rapuh. Netanyahu, melalui kantornya, menegaskan kembali bahwa operasi tersebut adalah tindakan “sepenuhnya independen” Israel.

Washington menghadapi dilema diplomatik. AS dikenal sebagai sekutu utama Israel, sekaligus mitra strategis Qatar yang selama ini berperan sebagai mediator dalam upaya gencatan senjata Gaza. Serangan di Doha dipandang dapat mengguncang peran Qatar sebagai jembatan diplomasi regional.

Sejak Oktober 2023, agresi Israel di Gaza telah menewaskan puluhan ribu orang, membuat jutaan warga mengungsi, serta memicu krisis kelaparan yang menurut sejumlah pakar dan akademisi hak asasi manusia berpotensi masuk kategori genosida. Israel menolak tudingan tersebut, dengan alasan bertindak membela diri setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang.

Konflik ini kini merembet ke Lebanon, Suriah, Iran, dan Yaman melalui serangan Israel lintas batas. Dengan serangan terbaru ke Qatar, spektrum perang di Timur Tengah berpotensi meluas lebih jauh, menempatkan Washington di tengah pusaran yang kian sulit dikendalikan.

*(Kanishka Singh-Reuters/DMKtv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini