WASHINGTON, D.C. DMKtv, — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada Kamis (25/9) mengumumkan serangkaian tarif impor baru. Trump mengenakan bea masuk 100% pada obat-obatan bermerek dan 25% pada truk besar mulai pekan depan. Kebijakan ini kembali memicu ketidakpastian perdagangan setelah beberapa pekan relatif tenang.
Trump menyebut, langkah tersebut sebagai upaya melindungi industri manufaktur AS dan menjaga keamanan nasional. Namun, serangan tarif ini semakin menekan rantai pasokan global, meningkatkan biaya produksi, dan menambah beban konsumen.
Bahkan banyak pengamat mengatakan, kebijakan itu justru menambah daftar panjang hambatan yang bisa membebani konsumen dan memicu inflasi.
Tarif baru Obat-obatan dan Furnitur
Tak hanya obat dan truk, Trump juga menargetkan lemari dapur, meja rias, hingga furnitur berlapis kain dengan tarif antara 30%–50%. Sektor konsumen inti pun terancam kenaikan harga.
Kebijakan ini memantik keresahan di Eropa dan Asia. Inggris, misalnya, yang baru saja menandatangani kesepakatan dagang dengan AS pada Mei lalu, kini menghadapi kenyataan pahit kembali. Obat-obatan dari Inggris akan dikenakan tarif penuh 100%. Pemerintah Inggris disebut tengah bernegosiasi ulang dengan menawarkan peningkatan pembelian obat untuk Layanan Kesehatan Nasional (NHS).
Politik, Hukum, dan Ekonomi Berkelindan
Tarif baru ini diberlakukan di bawah Undang-Undang Perdagangan Keamanan Nasional Pasal 232. Payung hukum yang semakin sering dipakai Trump untuk melancarkan strategi dagang agresif. Departemen Perdagangan AS bahkan sudah menyiapkan investigasi tambahan yang bisa memperluas tarif ke sektor robotika, peralatan medis, hingga turbin angin.
Reaksi Pasar dan Industri
Meski saham farmasi relatif stabil, pasar saham AS bergerak datar di tengah kekhawatiran inflasi. BMO Economics menyebut investor masih tenang karena belum terlihat tekanan besar akibat perang dagang.
Namun, sektor furnitur bereaksi keras. 60% dari impor furnitur AS senilai USD 25,5 miliar pada 2024 berasal dari Vietnam dan China. Nguyen Thi Thu Hoai dari Asosiasi Kayu dan Kerajinan Dong Nai, Vietnam, menyebut tarif baru itu “tidak adil” dan mengejutkan banyak pelaku industri.
Di sisi lain, industri furnitur AS sendiri telah kehilangan setengah jumlah pekerja sejak tahun 2000, kini hanya tersisa sekitar 340.000 orang. Tarif tambahan dikhawatirkan justru meningkatkan biaya transportasi dan logistik, bertolak belakang dengan janji Trump untuk menurunkan inflasi.
Ancaman bagi Farmasi dan Transportasi
Trump menegaskan tarif 100% hanya akan berlaku bagi produsen obat yang tidak memiliki fasilitas produksi di AS. Beberapa raksasa farmasi global, seperti Roche dan Novartis, sebelumnya sudah mengumumkan investasi besar di Amerika, sehingga relatif aman dari bea masuk.
Namun, tarif truk berat diperkirakan akan menaikkan biaya transportasi di dalam negeri, memengaruhi harga bahan pokok hingga kebutuhan konsumen sehari-hari. Trump berargumen kebijakan ini akan menguntungkan produsen AS seperti Peterbilt, Kenworth, dan Freightliner, meski para pengamat menilai manfaatnya belum tentu dirasakan konsumen.
*(Anas Mudhakir/DMktv)











