Soekarno: Titik balik Pemimpin Besar

JAKARTA. DMKtv, – Di tahun 1962, Indonesia menorehkan sebuah kemenangan diplomatik, di bawah kepemimpinan Soekarno. Sengketa panjang dengan Belanda atas wilayah Irian Barat diselesaikan. Keberhasilan diplomasi, justru membuat Soekarno berpaling dan menarik Indonesia keluar dari PBB. Soekarno mengumandangkan semangat berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), tanpa bantuan asing.

Namun idealisme itu tak sesuai dengan realita. Di saat Soekarno jalin hubungan dengan blok komunis, terutama China, rakyat Indonesia justru tercekik kesulitan ekonomi. Hubungan dengan negara-negara Barat memburuk, terutama dengan Inggris dan Amerika Serikat. Soekarno melancarkan “konfrontasi” terhadap Malaysia, kampanye agresif yang nyaris menyeret Indonesia ke medan perang.

Satu Malam, Titik Balik Sejarah

Segalanya berubah di malam 30 September 1965. Enam jenderal dan satu perwira pertama militer Indonesia diculik dan dibunuh. Peristiwa itu dikenang sebagai Gerakan 30 September (G30S).

Militer menyebutnya sebagai upaya kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI). Versi lain menyebutnya konflik internal di tubuh tentara. Dan sampai hari ini, satu pertanyaan masih menggantung: “sejauh mana Soekarno mengetahui atau bahkan terlibat dalam rencana tersebut?”

Yang pasti, malam itu menjadi awal dari kejatuhan seorang presiden, pemimpin besar revolusi.

Setelah peristiwa itu, militer dengan cepat mengambil alih kekuasaan dan mengganti Soekarno. Upaya pertama masih sopan menjadikan Soeharto sebagai presiden simbolik, tanpa kekuasaan nyata. Tapi Soekarno menolak. Ia mempertahankan kekuasaan dan menolak membubarkan PKI.

Titik Balik Sang Orator

Perekonomian Indonesia semakin hancur. Harga-harga melonjak, rakyat antre bahan pokok. Para mahasiswa turun ke jalan. Soekarno, yang dahulu dielu-elukan, kini dituding sebagai biang keladi krisis. Dalam kondisi tersebut, Soekarno mulai kehilangan pijakan.
Ia menunjuk Pranoto Reksosamudro, jenderal yang dikenal dekat dengan komunis. Jenderal Pranoto pengganti sementara Jenderal Ahmad Yani yang gugur. Tapi tekanan politik memaksa Soekarno mengangkat Soeharto sebagai pengganti penuh.

Alih-alih menenangkan publik, Soekarno justru memperkeruh suasana. Ia menyebut pembunuhan jenderal sebagai “setetes air dalam lautan revolusi.” Sebuah pernyataan yang menyinggung banyak pihak, termasuk militer.

Pada 11 Maret 1966, demonstrasi memuncak. Soekarno yang berada di Istana Bogor,  menerima kedatangan tiga jenderal. Tiga jenderal itu membawa yang kelak memberikan kekuatan penuh kepada Mayor Jenderal Soeharto. Dokumen itu dikenal sebagai “Supersemar”.

Meski telah kehilangan kekuasaan praktis, Soekarno tak menyerah. Ia mencoba kembali. Tapi lawan-lawannya tak lagi gentar. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang ia bentuk, kini berbalik. Pada 6 Juli 1966, MPRS mencabut gelar “Presiden Seumur Hidup”. Soeharto ditunjuk sebagai formatur kabinet. Satu per satu kebijakan Soekarno dibatalkan;

  • Konfrontasi dengan Malaysia dihentikan
  • Indonesia kembali bergabung dengan PBB
  • Pers dan kebebasan berpendapat mulai dibuka kembali

Namun, Soekarno tetap menolak kenyataan. Ia tidak mau hanya menjadi simbol. Ia tetap ingin memegang kekuasaan penuh. Dalam pidatonya pada 17 Agustus 1966, ia kembali mengampanyekan “Demokrasi Terpimpin”, sistem politik yang telah ditinggalkan rakyatnya.

Akhir yang Sunyi di Istana

Pada Maret 1967, MPRS kembali bersidang. Soeharto ditetapkan sebagai Pejabat Presiden.
Nama Soekarno tak lagi disebut. Dalam dokumen resmi, ia kini hanya “ Ir. Soekarno”.
Sang proklamator yang menjadi tahanan dalam istana. Tak ada wawancara, tak ada pidato, tak ada gerakan politik. Ia benar-benar diasingkan dari dunia luar.

Pada 27 Maret 1968, MPRS secara resmi mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Soekarno tetap tinggal di Bogor, hingga kesehatannya memburuk dan pindah ke Jakarta. Ia tinggal di rumah Ratna Sari Dewi, istri ketiganya yang berkebangsaan Jepang. Wanita yang tak pernah kembali ke Indonesia setelah kejatuhan suaminya.

Soekarno adalah simbol. Ia adalah orator ulung, pemimpin karismatik, arsitek kemerdekaan. Tapi dalam satu dekade penuh gejolak, semua itu hancur oleh kesalahan strategi, sikap keras kepala, dan keterputusan dari realitas rakyatnya. Ia bermimpi menjadi pemimpin dunia ketiga, tapi akhirnya hanya menjadi penghuni sepi di istananya sendiri. Sebuah akhir tragis bagi seorang tokoh besar.

“Revolusi tidak akan selesai dalam satu malam,” kata Soekarno. Tapi sejarah berkata: revolusi bisa berakhir hanya dalam satu malam yang berdarah.”
*Dikutip dari Surat Kabar Nieuwsblad van het Noorden

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini