WASHINGTON, AS. DMKtv, — Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengapresiasi sikap dunia. Georgiva mengapresiasi pemangku kebijakan internasional yang tidak membalas tarif dagang AS. Sikap ini telah memperkuat ketahanan ekonomi global.
Georgieva menegaskan dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington. Sikap non-retaliasi ini mencegah eskalasi perang dagang yang bisa melumpuhkan perdagangan global.
“Dunia, sejauh ini, memilih untuk tetap berdagang sesuai aturan yang ada, dan tidak membalas dengan tarif tambahan,” ujar Georgieva kepada Komite Bretton Woods.
Konsekuensi Tarif AS
Pada hari yang sama, IMF meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 dari 3,0% menjadi 3,2%. Meski begitu, Georgieva mengingatkan bahwa ancaman kebangkitan perang dagang AS-China yang kembali memanas, Perang dagang ini berpotensi menghambat output global secara signifikan.
Georgieva juga mengungkapkan bahwa tarif efektif AS sebenarnya lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya. Rerata mencapai 23% atas pengumuman tarif Trump pada April. Tarif tersebut turun menjadi sekitar 17,5% sebab kesepakatan dagang dengan Uni Eropa, Jepang, dan mitra utama lainnya.
“Tarif efektif hanya sekitar 9% hingga 10% karena banyak pengecualian demi menjaga kelangsungan ekonomi,” ungkap Georgieva.
Peningkatan Pertumbuhan Global
Menurut Georgieva, ada faktor lain juga menopang pertumbuhan global. Pertama; negara dengan kemajuan bisnis di sektor swasta serta mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien. Kedua; perusahaan yang bergerak cepat menyiasati tarif dan mempercepat impor dan merombak rantai pasok.
Namun, ia memperingatkan bahwa reli pasar yang dipicu oleh sektor teknologi menyimpan risiko baru.
Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, juga menyampaikan kekhawatiran bahwa lonjakan investasi pada kecerdasan buatan (AI) bisa berujung pada kehancuran pasar seperti gelembung dotcom tahun 2000. Meski begitu, ia menilai ledakan investasi AI saat ini tidak akan memicu krisis sistemik karena tidak menyebabkan utang besar.
*(Reuters/DMKtv)











