BRASILIA. DMKtv, – Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyerukan negara-negara BRICS memperkuat perdagangan dan mengintegrasikan keuangan. Seruan itu sebagai strategi menghadapi gelombang proteksionisme global. Dalam pertemuan virtual para pemimpin BRICS pada Senin (8/9), Presiden Lula menilai tarif sepihak yang diberlakukan oleh AS telah menjadi “alat untuk menaklukkan pasar dan mencampuri urusan dalam negeri.”
Praktik tarif tinggi telah menekan negara berkembang. Brasil dan India termasuk yang paling terdampak oleh kebijakan perdagangan era Presiden Donald Trump. Bahkan, ekspor utama Brasil kini dikenai tarif hingga 50%. India juga mengalami lonjakan tarif serupa akibat keberlanjutannya mengimpor minyak Rusia.
Tak ketinggalan, Perdana Menteri India Narendra Modi juga menegaskan peningkatan hambatan perdagangan hanya akan memperkeruh ekonomi global. Presiden Tiongkok Xi Jinping pun mengecam apa yang ia sebut sebagai “perang dagang dan perang tarif” yang merusak aturan perdagangan internasional.
Pertemuan BRICS kali ini berlangsung 1,5 jam dan dihadiri pemimpin dari 10 negara: Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Indonesia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Ethiopia. Forum tersebut membahas risiko meningkatnya aksi unilateral dalam perdagangan internasional sekaligus mendalami cara memperkuat solidaritas, koordinasi, dan mekanisme perdagangan antar-anggota.
Dengan semakin tebalnya tembok proteksionisme global, BRICS berupaya menegaskan diri sebagai blok alternatif yang mampu memperjuangkan perdagangan lebih adil dan inklusif bagi negara-negara berkembang.
*(Anas Mudhakir/DMKtv)











