RIYADH. DMKtv,- Inilah potret atau gambaran pesawat pengintai sekaligus komando dan kendali AWACS E-3 Sentry milik angkatan udara Amerika Serikat, hancur terkena serangan Iran saat terparkir di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi pada 27 Maret 2026 lalu.
Melansir laporan Air & Space Forces Magazine, Ahad, 29 Maret 2026, seorang sumber mengonfirmasi bahwa serangan rudal dan drone milik Iran mengenai pesawat tersebut.
Setidaknya, serangan Iran telah melukai lebih dari 10 anggota militer, di mana dua di antaranya mengalami luka serius.
Pun di antara pesawat yang hancur adalah pesawat tanker pengisian bahan bakar udara milik AS.
Sementara itu Pusat Komando AS menolak berkomentar terkait serangan Iran yang dinilai presisi tersebut.
Adapun beredar sebuah gambar menunjukkan bahwa kerusakan cukup fatal pada bagian ekor pesawat AWACS E-3 yang ditempatkan di pangkalan udara Saudi tersebut.
“Jika dikonfirmasi, tingkat kerusakan pada pesawat tua tersebut kemungkinan besar membuatnya tidak dapat diperbaiki,” tulis media tersebut.
Menurut sebuah sumber terbuka data pelacakan penerbangan, terdapat enam pesawat AWACS E-3 ditempatkan di pangkalan udara itu sebelum serangan Iran menyusuri targetnya.
Track Record Pesawat AWACS di Medan Perang
Pesawat AWACS disebut memiliki sejarah panjang dan berkontribusi besar dalam membantu mengobservasi medan perang dalam konflik besar.
Sejak akhir tahun 1970, Angkatan Udara AS mengandalkan kemampuan pesawat ini sebagai komando dan kendali serta intelijen, pengawasan dan pengintaian.
Pesawat ini telah digunakan di berbagai medan perang seperti Operation Desert Storm, perang Kosovo, perang di Irak dan Afghanistan dan propaganda ISIS yang terkenal dengan sebutan “Operation Inherent Resolve”.
Hanya saja, mengingat pesawat E-3 ini semakian tua dan kemampuannya tertinggal dibanding dengan beberapa pesawat musuh utama (Rusia).
Armada AWACS E-3 milik Angkatan Udara AS diketahui hanya menyisakan 16 unit karena sebagian besar telah dipensiunkan.
Pada tahun fiskal 2024, daya jelajah pesawat ini memiliki tingkat kesiapan misi sekitar 65 persen, itu artinya sedikit lebih dari setengahnya mampu terbang dan menjalankan misinya pada waktu tertentu saja.
Ahli kekuatan militer udara, Heather Penney, menilai bahwa kehilangan salah satu pesawat AWACS yang semakin langka –khususnya unit yang masih aktif digunakan dalam operasi saat ini– dapat menghambat kemampuan Angkatan Udara AS untuk mengelola medan pertempuran.
“Hilangnya E-3 ini sangat bermasalah, mengingat betapa pentingnya pesawat-pesawat pengatur pertempuran ini untuk segala hal, mulai dari dekonflik wilayah udara, dekonflik antar pesawat, penargetan, dan memberikan efek mematikan lainnya yang dibutuhkan seluruh pasukan di medan perang,” kata mantan pilot F-16 dan direktur studi dan penelitian di Mitchell Institute for Aerospace Studies milik AFA.
Seorang ahli kebijakan pertahanan dan penelitian senior di Stimson Center, Kelly Crieco mengatakan bahwa kehilangan pesawat E-3 dapat menciptakan celah bagi musuh dan buruknya manajemen perang Angkatan Udara AS.
Dan, lanjut dia, kehilangan pesawat pengintai ini dapat menyebabkan hilangnya peluang untuk manargetkan pasukan Iran.
“Ini merupakan kerugian signifikan bagi perang dalam jangka pendek. Hal ini memiliki konsekuensi. Akan ada kesenjangan,” beber dia.
Apalagi, Penney menambahkan, pilot pesawat tempur akan sangat bergantung pada laporan dan gambaran medan perang yang disajikan oleh pesawat AWACS.
“Nilai dari E-3 adalah para komandan pertempuran dapat melihat gambaran besar. Mereka adalah dalang caturnya, sementara pilot adalah uskup pejuang (merujuk pada istilah dan konteks sejarah dan medan perang pada Abad Pertengahan),” ujar Penney.
Sementara itu Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper mengatakan, pada 25 Maret serangan rudal dan drone Iran mereda lebih dari 90 persen sejak konflik pada 28 Februari.
Tapi kenyataan pahitnya Iran ntetap mampu meluncurkan rudal, seperti yang ditunjukkan pada insiden ini.
Bahkan Teheran terus menggempur pangkalan militer AS sebagai target utamanya di seluruh wilayah Teluk. Bahkan aset peperangan AS disebut semakin berkurang saat ini.
Tampaknya Iran memfokuskan serangan pada situs-situs penting milik AS seperti radar dan target lainnya seperti pesawat tanker serta pesawat AWACS.
Dilalahnya Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Saudi disebut merupakan pusat militer AS yang sangat penting di Timur Tengah.
Pangkalan ini mampu menampung berbagai jenis pesawat yang mendukung untuk operasi melawan Iran.
“Ini jelas bukan kebetulan. Iran, dengan menyerang situs radar, komunikasi, pesawat terbang dan pangkalan, tampaknya mereka berupaya melakukan ‘serangan balasan udara secara asimetris’,” kata Grieco.
Ia menambahkan, “Tampaknya ini merupakan serangan yang disengaja untuk manargetkan para koalisi utama kekuatan udara AS.”
Hilangnya satu pesawat AWACS ini akan semakin memperparah jumlah E-3 yang semakin berkurang. Hal ini bisa menyebabkan lemahnya manajemen pertempuran Angkatan Udara AS di Timur Tengah.
*(Dimas Chandra Permana/DISWAY.ID)











