Pertarungan di Dasar Laut: AS vs Cina, Siapa yang Menjaga Internet Dunia?

TAIWAN. DMKtv, – Di tengah derasnya arus digital global, sebuah “medan perang” baru muncul, bukan perang senjata atau genosida, tetapi di dasar laut. Kabel bawah laut menjadi garis depan konflik teknologi antara Amerika Serikat dan Cina. Infrastruktur esensial yang membawa 99 % lalu lintas internet antar-benua.

Kabel serat optik yang tertanam di dasar laut menjadi urat nadi komunikasi global. Data keuangan, panggilan internasional, cloud, hingga layanan AI modern semua melewatinya. Namun, meskipun “tersembunyi” dan tampak aman, kabel‑kabel ini makin sering menjadi sasaran baik sabotase fisik maupun gangguan teknologi tersembunyi.

Langkah Strategis AS

Untuk menghadapi risiko ini, AS melalui lembaga pengawas telekomunikasinya (FCC) mengusulkan dan mengesahkan aturan baru.

Pertama, setiap pengajuan izin proyek yang melibatkan pihak asing dan berisiko otomatis akan ditolak. Lain hal apabila perusahaan atau negara pengusul dapat membuktikan bahwa teknologinya tidak menimbulkan ancaman keamanan bagi Amerika Serikat. Kebijakan ini ditujukan untuk menyaring secara ketat setiap keterlibatan asing dalam infrastruktur digital AS.

Kedua, bagi operator dan perusahaan yang dapat memenuhi standar keamanan tinggi  akan mudah dan cepat dalam proses lisensi. Langkah ini bertujuan memberikan insentif bagi perusahaan “bersih” untuk tetap berinovasi tanpa tersandera birokrasi.

Ketiga, peraturan baru juga memperkuat persyaratan keamanan siber dan fisik untuk semua kabel yang mendarat di pantai AS. Pembangun kabel juga terverifikasi dari potensi sabotase, penyadapan, atau manipulasi data.

Dengan langkah ini, AS mempertegas komitmennya untuk menjaga kedaulatan digital, di saat dunia makin terfragmentasi oleh blok-blok teknologi dan jalur data. Persaingan di bawah laut kini bukan lagi sekadar soal kecepatan koneksi, tetapi siapa yang layak untuk mengalirkan data dunia.

Kabel bawah laut yang terhubung ke AS tidak boleh menggunakan teknologi dari perusahaan yang dianggap sebagai ancaman keamanan, khususnya yang berasal dari Cina.

Langkah Strategis China

Di samping AS memperketat kontrol, Cina tak tinggal diam. Beijing telah mengembangkan jaringan kabel bawah lautnya sendiri. Teknologi digital China telah menyebar ke wilayah Asia dan Afrika. Rute-rute baru tersebut menghindari jalur langsung yang melewati perairan dengan pengaruh AS.

Langkah pertama Cina adalah membangun pabrik, infrastruktur, dan teknologi kabel di dalam negeri. Dengan mengurangi ketergantungan pada komponen asing, Cina berusaha memastikan bahwa sistem komunikasinya tak terbatas atau bebas dari tekanan negara lain di saat krisis.

Selanjutnya, Cina memprioritaskan pembangunan kabel di rute-rute baru yang melewati perairan yang secara geopolitik lebih stabil dan tanpa pengaruh negara-negara Barat. Jalur-jalur ini menghindari titik-titik pendaratan kabel tradisional yang berada di bawah pengawasan sekutu-sekutu Amerika.

Tak hanya membangun, Cina juga mempertahankan keunggulan dalam pemeliharaan dan perbaikan kabel bawah laut. Dua aspek teknis yang sangat krusial namun sering luput dari sorotan. Dominasi dalam aspek ini memberi keuntungan strategis. Negara yang mengontrol perbaikan kabel juga memiliki peluang lebih besar untuk melakukan pengawasan atau bahkan intersepsi data, baik secara legal maupun diam-diam.

Dengan kombinasi kekuatan infrastruktur, rute strategis, dan kapabilitas teknis, Cina perlahan menciptakan jaringan bawah laut tandingan, bukan hanya sebagai alternatif teknis, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi digital Barat.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini