LAUT MEDITERANIA. DMKtv, — Armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla mencoba menembus blokade laut Israel untuk mengantarkan bantuan ke Gaza. Namun, militer Israel menghentikan 13 armada serta menahan para aktivis di dalamnya. Langkah Israel tesebut kemudian memicu kontroversi global.
Dilema di Laut Terbuka
Armada ini berjumlah lebih dari 40 kapal, membawa sekitar 500 orang termasuk anggota parlemen, pengacara, dan aktivis dari berbagai negara.
Israel menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut memasuki zona pertempuran dan melanggar blokade laut yang sah. Israel menyebut bahwa mereka bersedia menyalurkan bantuan lewat jalur resmi kepada yang membutuhkan.
Sementara itu, penyelenggara flotila mengecam tindakan tersebut sebagai “penahanan ilegal” dalam wilayah internasional dan menuduh penggunaan taktik agresif. Pasukan Israel menggunakan meriam air serta pemblokiran komunikasi.
Tokoh-Tokoh yang Tertahan dan Suara Dunia
Salah satu wajah yang menarik perhatian dunia adalah Greta Thunberg, yang terekam dalam video. Militer Israel telah menyandera Greta yang tampak di dek kapal. Pemerintah Israel menyatakan bahwa dia beserta aktivis lainnya dalam kondisi aman.
Turki menyebut tindakan Israel sebagai “serangan teror” yang membahayakan nyawa warga sipil. Sementara Kolombia langsung memerintahkan pengusiran seluruh staf diplomatik Israel setelah mengetahui ada dua warga Kolombia dalam flotila tersebut. Malaysia mengecam keras penahanan delapan warganya yang turut dalam armada. Seruan perlindungan terhadap warga negara yang menjadi korban bergema dari Spanyol, Italia, dan beberapa negara Eropa lainnya.
Di Eropa, Amerika Latin, dan Asia, warga turun ke jalan menyuarakan solidaritas dengan flotila dan menuntut agar Israel menghormati hukum internasional.
Arah Selanjutnya: Ketahanan atau Autokrasi Kemanuasiaan?
Meski 13 kapal tertahan blokade, kira-kira 30 kapal lainnya masih mengejar jalurnya menuju Gaza. Organisasi flotila menyatakan tidak akan mundur. Upaya ini tak hanya menjadi aksi simbolis, tetapi juga tekanan untuk membuka akses bagi warga Gaza.
Negara yang menahan kapal mengklaim haknya atas blokade laut sebagai bagian dari operasi keamanan. Pihak Flotila menyatakan bahwa intersepsi di wilayah internasional melanggar hukum laut dan hak kemanusiaan universal.
Pengusiran diplomat, protes publik, dan kecaman diplomatik berpotensi semakin memperkeruh hubungan antarnegara.
Aksi ini menegaskan bahwa konflik Gaza bukan lagi perang di darat dan udara saja. Konflik Gaza juga terbentang di lautan imajinasi, di mana solidaritas, dan hukum internasional dipertanyakan.
*(Anas Mudhakir/DMKtv)











