JAKARTA. DMKtv,- Amerika Serikat dilaporkan tengah bersiap melancarkan operasi darat terbatas di Iran yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu.
Rencana yang disusun Pentagon itu mencakup kemungkinan pengerahan pasukan khusus hingga infanteri, namun hingga kini masih menunggu keputusan Presiden Donald Trump apakah akan memberi lampu hijau, dilansir dari Al Jazeera.
Laporan The Washington Post, Pentagon sedang mempersiapkan operasi darat terbatas selama berminggu-minggu di Iran, yang berpotensi mencakup serangan ke Pulau Kharg dan lokasi pesisir di dekat Selat Hormuz.
Rencana tersebut, yang tidak mencakup invasi penuh, bisa melibatkan serangan oleh pasukan operasi khusus dan infanteri biasa, yang berisiko mengekspos personel AS terhadap drone dan rudal Iran, tembakan dari darat, serta bahan peledak rakitan.
Apakah Presiden Donald Trump akan menyetujui rencana-rencana tersebut masih belum pasti, menurut laporan itu.
“Merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberikan opsi sebanyak mungkin kepada Panglima Tertinggi. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan,” kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah pernyataan, menanggapi pertanyaan terkait laporan tersebut.
Pemerintahan Trump telah mengerahkan Marinir AS ke Timur Tengah seiring perang di Iran memasuki minggu kelima, serta merencanakan pengiriman ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke wilayah tersebut.
Pada Sabtu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan sekitar 3.500 tentara tambahan telah tiba di Timur Tengah dengan menggunakan kapal USS Tripoli.
Para pelaut dan marinir tersebut berasal dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan tiba di wilayah tersebut pada 27 Maret, bersama dengan pesawat angkut dan jet tempur, serta aset serangan amfibi dan taktis lainnya, menurut CENTCOM.
Pejabat yang berbicara kepada The Washington Post mengatakan bahwa diskusi dalam pemerintahan selama sebulan terakhir mencakup kemungkinan perebutan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk, serta serangan ke wilayah pesisir lain di dekat Selat Hormuz untuk menemukan dan menghancurkan senjata yang dapat menargetkan kapal komersial dan militer.
Menurut laporan tersebut, satu sumber mengatakan tujuan yang sedang dipertimbangkan kemungkinan akan memakan waktu “berminggu-minggu, bukan berbulan-bulan”, sementara sumber lain memperkirakan waktu pelaksanaan bisa mencapai “beberapa bulan”.
Pentagon belum memberikan tanggapan terhadap permintaan komentar dari The Washington Post. Iran juga belum merespons laporan tersebut.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Minggu mengatakan bahwa “musuh secara terbuka mengirim pesan negosiasi dan dialog, tetapi secara diam-diam merencanakan serangan darat”.
“Tanpa menyadari bahwa para prajurit kami menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya. Tembakan kami terus berlanjut. Rudal kami siap,” lapor kantor berita Tasnim, mengutip pernyataan Ghalibaf.
“Tekad dan keyakinan kami semakin kuat. Kami mengetahui kelemahan musuh, dan kami dengan jelas melihat dampak ketakutan dan teror di dalam pasukan mereka.”
Pada Rabu, Ghalibaf telah memperingatkan bahwa laporan intelijen menunjukkan “musuh-musuh Iran” sedang merencanakan untuk menduduki sebuah pulau Iran dengan dukungan dari negara yang tidak disebutkan di kawasan.
Ia mengatakan bahwa upaya semacam itu akan dibalas dengan serangan yang ditargetkan ke “infrastruktur vital” negara regional tersebut yang membantu operasi itu.
Sementara itu, kepala angkatan laut Iran, Shahram Irani, pada Minggu mengatakan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln akan menjadi target jika memasuki jangkauan.
“Begitu kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln masuk dalam jangkauan tembak, kami akan membalas darah para martir kapal perang Dena dengan meluncurkan berbagai jenis rudal laut-ke-laut,” katanya, seperti dikutip televisi pemerintah.
*(Marieska Harya Virdhani/DISWAY.ID)











