JAKARTA. DMKtv,– Setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, putra keduanya Mojtaba Khamenei terpilih jadi pimpinan tertinggi Iran yang membuat Trump meradang.
Banyak pihak yang menghawatirkan dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pimpinan tertinggi Iran akan meningkatkan ekskalasi perang yang tengah terjadi.
Pasalnya, Donald Trump selaku Presiden Amerika sempat menyampaikan ketidak sukaannya pada Mojtaba.
Tidak hanya itu, Trump juga menyampaikan jika Iran akan mendapatkan kedamaian jika menyerah kalah dan pimpinannya adalah orang yang disetujuinya.
Akan tetapi anggota badan ulama yang bertanggung jawab untuk memilih otoritas tertinggi Iran mengumumkan keputusan tersebut pada hari Minggu lalu dan memutuskan jika Mojtaba Khamenei terpilih jadi pimpinan tertinggi Iran.
Selain itu juga menyerukan kepada warga Iran untuk mendukungnya dan menjaga persatuan nasional.
Majelis tersebut mengatakan Khamenei telah dipilih mendesak warga di seluruh negeri, terutama para elit dan intelektual seminari dan universitas untuk berjanji setia kepada kepemimpinan baru dan menjaga persatuan pada saat kritis bagi Iran.
Terpilihnya Mojtaba mendapatkan sambutan dari pemberontak Houthi Yaman, yang didukung oleh rezim Iran.
“Kami mengucapkan selamat kepada Republik Islam Iran, kepemimpinannya, dan rakyatnya, atas terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pada saat yang penting dan krusial ini,” kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan di Telegram.
Mereka menyebut terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai kemenangan baru bagi Revolusi Islam dan pukulan telak bagi musuh-musuh Republik Islam dan musuh-musuh negara.
Sedangkan Trump telah mengakui bahwa Mojtaba Khamenei adalah penerus yang paling mungkin dan telah memperjelas bahwa ia menganggap hasil seperti itu tidak dapat diterima.
Tidak hanya itu, Trump mengatakan Minggu lalu jika pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan bertahan lama jika Teheran tidak mendapatkan persetujuannya terlebih dahulu.
Trump juga menyampaikan jika Mojtaba Khamenei sebagai pilihan yang tidak dapat diterima.
Pihak Israel juga tidak tinggal diam, militer Israel mengatakan akan terus mengejar setiap penerus Ali Khamenei dan akan mengejar setiap orang yang berupaya menunjuk penggantinya.
Pengangkatan Mojtaba Khamenei menandai pertama kalinya sejak revolusi Islam 1979 kepemimpinan tertinggi Iran beralih dari ayah ke anak.
Ini adalah perkembangan yang kemungkinan akan memicu perdebatan di dalam Iran tentang munculnya sistem dinasti di negara yang didirikan secara eksplisit untuk menggulingkan pemerintahan turun-temurun setelah Shah.
Ayatollah Ali Khamenei, yang memerintah selama 37 tahun, tewas dalam serangan AS-Israel di Teheran pada 28 Februari, hari pertama perang dengan Iran.
Di seluruh lembaga politik dan keamanan Iran, para pejabat dengan cepat menyambut pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu.
Media pemerintah melaporkan bahwa pimpinan angkatan bersenjata Iran berjanji setia kepadanya, sementara ketua parlemen memuji keputusan tersebut dan menggambarkan mengikuti Mojtaba Khamenei sebagai “tugas agama dan nasional”.
Kepala keamanan negara mengatakan pemimpin baru itu mampu membimbing Iran melewati momen sensitif saat ini, dan Garda Revolusi menyatakan mereka siap untuk mengikutinya, menandakan dukungan luas dari lembaga-lembaga inti negara.
Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei yang merupakan ulama berusia 56 tahun ini belum pernah memegang jabatan terpilih atau secara resmi menduduki posisi senior dalam pemerintahan Iran.
Ia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di pusat kekuasaan di Iran sambil tetap berada di luar pandangan publik.
Lahir pada tahun 1969 di kota Mashhad di timur laut, Khamenei dibesarkan dalam dunia politik dan keagamaan yang muncul setelah revolusi 1979.
Sebagai seorang pemuda, ia belajar teologi di seminari Qom dan dilaporkan ikut serta dalam tahap akhir perang Iran-Irak.
Tidak seperti banyak tokoh dalam kepemimpinan Iran, Khamenei tidak pernah mengejar jabatan terpilih atau peran penting dalam pemerintahan.
Sebaliknya, ia secara bertahap menjadi sosok berpengaruh di dalam kantor ayahnya, di mana ia secara luas dipandang sebagai bagian dari lingkaran kecil yang mengelola akses politik ke pemimpin tertinggi.
Selama bertahun-tahun ia membina hubungan dekat dengan ulama konservatif dan elemen-elemen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah koneksi yang menurut para analis memperkuat kedudukannya dalam sistem tersebut.
Namanya muncul di depan umum selama pemilihan presiden 2009 yang dipersengketakan, ketika tokoh-tokoh reformis menuduhnya berperan dalam mendukung penindakan keamanan yang terjadi setelah protes massal. Namun ia tidak pernah membahas masalah suksesi secara terbuka.
Bagi para pendukungnya, Mojtaba Khamenei mewakili kesinambungan dengan garis ideologis yang ditetapkan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini dan dipertahankan oleh ayahnya.
*(Reza Permana/DISWAY.ID)











