JAKARTA. DMKtv,- Kebakaran yang melanda Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, tidak hanya menimbulkan 22 korban jiwa, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar mengenai karakter asap pekat yang keluar dari bangunan tersebut.
Rian, salah satu saksi kunci yang berada di lokasi ketika api membear, mengungkapkan bahwa asap yang keluar memiliki bau yang jauh lebih menyengat dibandingkan kebakaran pada umumnya.
“Baunya benar-benar nyengat banget,” ujar Rian, Rabu 10 Desember 2025.
Sebagai petugas keamanan, ia mengaku sudah terbiasa menangani insiden kebakaran kecil.
Namun, aroma asap kali ini dirasakannya berbeda, bahkan cenderung aneh.
“Kalau terbakar ya pasti bau hangus. Tapi ini beda. Asapnya nyengat dan warnanya hitam pekat,” jelasnya.
Ia juga mengaku sempat dimnta untuk menjalani pemeriksaan dan berobat ke klinik akibat paparan asap–namun Rian menolak lantaran masih trauma dengan aroma serta kejadian tersebut.
“Sampai sekarang (trauma) makanya tadi saya disuruh berobat untuk ke farmasi saya enggak mau,” kata Rian.
“Pasti (pingsan/lemas, ketika seseorang mengirup bau asap tersebut). Ya gimana (coba) gitu kejadiannya yang 22 orang itu.Yang meninggal itu. Asap nyengat,” tukasnya.
Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Susatyo Purnomo Condro, mengemukakan bahwa pihaknya telah memeriksa sebanyak 7 orang saksi.
“6 adalah karyawan dan 1 adalah warga lingkungan,” ujar Kapolres di TKP, Rabu, 10 Desember 2025.
Susatyo mengatakan, pemeriksaan itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada peristiwa pidana karena unsur kelalaian ataupun memang faktor lain.
“Namun demikian sebagai informasi awal, bahwa pemilik gedung dan pemilik usaha adalah dua orang yang berbeda,” jelasnya.
“Nah kami akan mendalami, informasi dari lingkungan sudah berapa lama beroperasi, informasi dari perusahaan itu berapa lama beroperasi, tentunya ini menjadi bagian,” sambungnya.
Lebih lanjut, Kapolres bilang bahwa hari ini pihaknya akan memeriksa pihak dari manajemen Terra Drone, untuk mendalami perhitungan terkait dengan risiko usaha tersebut.
“Dan nanti dalam waktu dekat kami juga akan melaksanakan gelar perkara, tentunya berdasarkan hasil olah TKP dari Puslabfor untuk memastikan terkait dengan sebab kebakaran,” imbuhnya.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, gedung 6 lantai tersebut hanya memiliki satu akses pintu masuk dan keluar yang berada di lantai satu.
“Teman-teman melihat memang tadi sejak siang atau sore hari untuk akses hanya satu ya,” kata Kabid Fiskomfor Puslabfor Bareskrim Polri Kombes Romylus Tamtelahitu kepada awak media.
Minimnya jalur evakuasi ini menjadi faktor yang menyebabkan banyaknya jumlah korban meninggal dan terjebak dalam gedung.
Romylus juga menyampaikan pihaknya akan meenyeelidiki soal akses tangga gedung yang hanya berukuran kecil.
Hal ini juga menjadi penghambat proses evakuasi korban.
*(Candra Pratama/DISWAY.ID)











