Laba Tesla Turun saat catat Rekor Penjualan, akibat Biaya Produksi dan Kredit Pajak

TEXAS, AS. DMKtv, – Tesla Inc. melaporkan pendapatan kuartal ketiga tertinggi sepanjang sejarah pada Rabu (23/10), melampaui perkiraan Wall Street. Lonjakan penjualan mobil listrik didorong oleh pembeli AS yang memanfaatkan kredit pajak kendaraan listrik.

Namun, di balik rekor tersebut, laba Tesla tidak memenuhi ekspektasi akibat kenaikan biaya riset, tarif impor, dan menurunnya pendapatan dari kredit regulasi lingkungan. Laba akan terus berkurang akibat kebijakan baru pemerintahan Trump.

Pendapatan Naik, Laba Menurun

Tesla mencatat pendapatan sebesar US$28,1 miliar untuk kuartal yang berakhir 30 September, melampaui perkiraan analis sebesar US$26,37 miliar (data LSEG). Namun, laba per saham hanya mencapai US$0,50, di bawah proyeksi pasar sebesar US$0,55.

Pendapatan dari kredit regulasi otomotif, yang selama ini menjadi penopang profitabilitas, turun tajam menjadi US$417 juta, dari US$739 juta pada periode yang sama tahun lalu. Margin kotor Tesla tercatat 18%, sedikit di atas perkiraan 17,5%, sementara margin kotor otomotif tanpa kredit regulasi mencapai 15,4%, turun dari perkiraan analis sebesar 15,6%.

Saham Tesla anjlok 4% dalam perdagangan setelah jam bursa, mencerminkan kekhawatiran investor atas tekanan margin dan prospek permintaan.

Biaya Meningkat dan Dampak Tarif Impor

Tesla menghadapi kenaikan tajam biaya operasional, termasuk lonjakan 50% dalam pengeluaran riset dan pengembangan (R&D). Tesla melakukan riset proyek kecerdasan buatan (AI) dan robotika.

Chief Financial Officer Vaibhav Taneja menyebutkan, tarif impor komponen otomotif menambah beban lebih dari US$400 juta pada kuartal ini. Ia juga memperkirakan belanja modal Tesla akan melonjak pada 2026, seiring percepatan proyek robotaxi dan Semi Truck.

Permintaan mobil listrik Tesla dan para pesaingnya diperkirakan melemah sepanjang sisa tahun ini setelah berakhirnya insentif pajak yang selama ini mendorong penjualan. Tesla tidak memberikan proyeksi penuh untuk kinerja tahun 2025.

Strategi Harga Murah, Risiko Margin Tipis

Untuk menjaga penjualan, Tesla mengeluarkan varian “Standard” dari Model Y dan Model 3 dan memangkas sejumlah fitur dan menurunkan harga sekitar US$5.000–US$5.500.

Analis memperingatkan risiko penurunan margin laba dari penghematan biaya per unit mungkin tidak cukup untuk mengimbangi harga jual yang lebih rendah.

Fokus Baru: Robotaxi dan Energi

Tesla menegaskan tetap berada di jalur untuk memulai produksi massal Cybercab (robotaxi), truk Semi, dan baterai Megapack 3 pada 2026. Bisnis energi Tesla juga menunjukkan pertumbuhan kuat, dengan peningkatan 81% dalam kapasitas penyimpanan energi selama kuartal ini.

CEO Elon Musk mengatakan Tesla akan mengoperasikan robotaxi tanpa pengemudi keselamatan di sebagian besar wilayah Austin, Texas tahun ini. Tesla menargetkan ekspansi ke 8–10 kota besar sebelum akhir tahun.

Tantangan di Depan

Meski investor menilai tinggi valuasi Tesla yang mencapai US$1,45 triliun, keberlanjutan bisnis perusahaan masih bergantung pada penjualan kendaraan. Penjualan Tesla akan bergantung pada unit robotika dan AI yang benar-benar menghasilkan pendapatan.

Analis memperkirakan pengiriman Tesla pada 2025 turun 8,5%, terdampak hilangnya kredit pajak, meningkatnya kompetisi, serta faktor politik.

“Tesla memberi kabar baik dan buruk secara seimbang, cukup untuk memuaskan penggemar sekaligus memberi bahan bagi para pengkritiknya,” kata Shawn Campbell, penasihat di Camelthorn Investments. “Laporan keuangan ini tidak akan mengubah pandangan siapa pun terhadap Tesla.”

*(Reuters/DMKtv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini