YERUSALEM/KAIRO/NEW YORK. DMKtv, – Peringatan keras kembali datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa: dunia hanya memiliki waktu hingga akhir September untuk mencegah kelaparan massal menyebar lebih luas di Jalur Gaza. Sementara itu, serangan udara Israel terus menggempur Kota Gaza, menewaskan sedikitnya 14 orang, termasuk warga sipil yang berlindung di sebuah sekolah, dikutip dari Reuters (8/11).
“Kecil kemungkinan untuk mencegah bencana kemanusiaan dan menjadi jauh lebih buruk,” kata Tom Fletcher, Kepala Bantuan Kemanusiaan PBB. “Jika tidak ada tindakan segera, daerah-daerah seperti Deir al-Balah dan Khan Younis akan menyusul Kota Gaza menjadi zona kelaparan.”
Data pemantau kelaparan global menunjukkan ratusan ribu warga Palestina kini hidup dalam kondisi rawan pangan ekstrem, terutama di Kota Gaza yang menjadi pusat operasi militer terbaru Israel. Sejak Maret hingga pertengahan Mei, Israel menutup total jalur bantuan kemanusiaan selama 11 minggu, membuat distribusi makanan nyaris mustahil.
Israel kini mengklaim telah meningkatkan upaya kemanusiaan, dengan 1.900 truk bantuan memasuki Gaza dalam sepekan terakhir. Namun, organisasi internasional menyatakan bahwa jumlah itu jauh dari cukup.
COGAT, badan pertahanan Israel yang menangani logistik kemanusiaan, bersikeras bahwa bantuan terus difasilitasi untuk “penduduk sipil, bukan Hamas”. Namun, banyak pihak mempertanyakan efektivitas distribusi dan keterbatasan akses di lapangan.
Sementara krisis pangan memburuk, Kota Gaza kembali dihantam serangan udara. Militer Israel memperingatkan warga sipil untuk mengungsi dari gedung-gedung tinggi yang diklaim digunakan oleh Hamas, klaim yang hingga kini belum disertai bukti dan dibantah oleh Hamas.
Salah satu serangan semalam menghantam sekolah di bagian selatan Kota Gaza, yang saat itu menampung warga sipil yang mengungsi. Serangan ini menewaskan beberapa orang, termasuk anak-anak, menurut laporan pejabat kesehatan setempat.
Israel menyatakan mereka menargetkan seorang militan Hamas, dan mengklaim telah memberikan peringatan sebelum serangan. Namun kenyataan di lapangan memperlihatkan ratusan ribu orang tetap terperangkap di kota, sebagian besar hidup di kamp-kamp pengungsian yang sempit dan tidak layak.
Namun Hamas tetap pada posisinya: mereka hanya akan membebaskan sandera jika Israel menghentikan perang dan menarik seluruh pasukan dari Gaza. Posisi yang berulang kali disampaikan, tapi belum menemui titik temu.
Seruan internasional pun terus menguat. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, dalam kunjungannya ke Yerusalem, mendesak Israel untuk “mengubah arah” dan menghentikan kampanye militer yang telah menewaskan lebih dari 64.000 warga Palestina sejak 7 Oktober 2023.
Perang ini dimulai setelah serangan Hamas yang menewaskan 1.200 orang Israel dan menculik 251 lainnya. Namun, hampir satu tahun kemudian, penderitaan paling besar justru ditanggung oleh jutaan warga sipil yang tak bersenjata, tak berdaya, dan kini menghadapi ancaman kelaparan massal.
Dunia kini berpacu dengan waktu. Setiap hari yang berlalu tanpa tindakan nyata, adalah satu langkah lebih dekat menuju bencana yang tidak bisa lagi dihindari. Dan di balik statistik yang stagnan, ada anak-anak yang menangis lapar, ibu-ibu yang kehilangan segalanya, dan sebuah masyarakat yang nyaris runtuh.
*(Anas Mudhakir/DMKtv)











