Krisis Energi Afrika Meningkat Imbas Konflik Timur Tengah

MOSKOW. DMKtv,- Sejumlah negara di benua Afrika mengalami kesulitan pasokan bahan bakar di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, menurut laporan media regional.

Di Zambia, cadangan bensin sekitar 40 juta liter cukup untuk 23 hari pada konsumsi saat ini, sementara minyak tanah 65,9 juta liter diperkirakan bertahan 9,3 hari. Cadangan bahan bakar penerbangan Jet A-1 cukup untuk 10 hari, lapor Efficacy News Africa.

Di Afrika Selatan, kekurangan solar di stasiun pengisian dilaporkan semakin sering terjadi. Untuk mengantisipasi kelangkaan, pemerintah berencana mendiversifikasi pasokan, meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak, serta mempercepat proyek infrastruktur energi.

Di Somalia, pemerintah memberlakukan aturan baru penjualan bensin dan solar menyusul lonjakan harga lebih dari dua kali lipat. Otoritas menetapkan batas keuntungan bagi penjual dan denda bagi pelanggaran, serta membatasi kenaikan harga hanya pada hari Minggu (15/3).

Sementara itu, Otoritas Pengatur Energi Zimbabwe mengumumkan kenaikan harga bahan bakar untuk kedua kalinya pada Rabu. Harga bensin naik 27 persen menjadi 2,17 dolar AS (sekitar Rp 37 ribu) per liter dan solar naik 15 persen menjadi 2,05 dolar AS (sekitar Rp35 ribu) per liter.

Pemerintah Zimbabwe juga memastikan cadangan bahan bakar negara tersebut masih cukup untuk lebih dari tiga bulan.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Kamis, menyeru Israel dan AS untuk menghentikan operasi terhadap Iran karena berisiko lepas kendali, menyebabkan penderitaan besar bagi warga sipil serta berdampak pada perekonomian global.

“Sudah saatnya supremasi hukum mengalahkan hukum kekuatan. Sudah saatnya diplomasi mengalahkan perang,” kata Guterres kepada wartawan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin Uni Eropa.

Sekjen PBB itu juga mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah serangan militer AS dan Israel terhadap negara tersebut.

Guterres juga meminta Iran menghentikan serangan balasan terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk, dengan alasan bahwa negara-negara tersebut “tidak pernah menjadi pihak dalam konflik ini.”

“Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz menyebabkan penderitaan besar bagi banyak orang di seluruh dunia yang tidak ada kaitannya dengan konflik ini,” kata Guterres menegaskan.

*(Sputnik/RIA Novosti/ANTARA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini