ITALIA. DMKtv, — Ribuan demonstran Pro‐Palestina menyerbu jalanan Udine pada Selasa sore, menentang pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Italia vs. Israel. Mereka mengancungkan spanduk raksasa dan menyuarakan tuntutan agar FIFA melarang Israel dari semua kompetisi internasional atas dugaan “kebijakan penjajahan” di wilayah Palestina.
Meski telah tercapai gencatan senjata antara Israel dan Hamas, Committee for Palestine‑Udine tetap berdemonstrasi. Saat malam menjelang pertandingan, protes berubah bentrokan: beberapa peserta melempar petasan dan barikade ke arah polisi anti huru‑huru, sementara aparat merespons dengan meriam air dan gas air mata.
Pemerintah Italia pun membangun benteng keamanan: menutup jalan, mendirikan barikade beton mengelilingi stadion Friuli, membatasi parkir, dan melarang penggunaan gelas, keramik, atau wadah logam di luar stadion. Bahkan sejumlah toko memilih tutup lebih awal, terguncang oleh suasana yang berubah drastis di kota yang biasanya tenang.
Standar Ganda dan Kaburnya Garis Antara Politik dan Olahraga
Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) mengritik FIFA karena belum konsisten dalam menerapkan peraturan terkait hak asasi manusia dan konflik internasional terkait konflik Palestina. Presiden NFF, Lise Klaveness, menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap regulasi FIFA dan UEFA. Klaveness menegaskan bahwa diskusi serta tuntutan pengusiran Israel dari kompetisi harus terus berlangsung.
Sebelumnya, dalam Piala Dunia Qatar 2022, muncul kontroversi tentang kapan dan bagaimana ekspresi politik dalam sepakbola.
Dalam kasus FIFA dan UEFA yang mengambil tindakan tegas atas larangan semua tim nasional dan klub Rusia berpartisipasi dalam berbagai kompetisi. Langkah ini muncul setelah Komite Olimpiade Internasional (IOC) mendesak kepada seluruh badan olahraga agar mengecualikan atlet dan tim Rusia maupun Belarus dalam ajang internasional. IOC menegaskan bahwa perlindungan integritas kompetisi dan keamanan peserta menjadi alasan utama.
Banyak pihak menyebut ini sebagai ketidakadilan dalam penerapan aturan FIFA mengenai politik di stadion.
Pada Maret 2021, Norwegia dan Jerman mendobrak batasan lama. Tim nasional mereka memakai kaos bertuliskan “Human rights – on and off the pitch” sebelum pertandingan kualifikasi. Mereka mengirim pesan bahwa sepak bola pun seharusnya mencerminkan nilai kemanusiaan. FIFA tampaknya tak bergeming dengan standar ganda atas aksi-aksi politik. Batas regulasi FIFA tetap terbatas dengan mengedepankan kepentingan mereka sendiri.
Sepak Bola sebagai Panggung Politik yang Tak Bisa Diabaikan
Demonstrasi di Udine menunjukkan bahwa konflik dan pergolakan politik kini semakin terlihat jelas di lapangan hijau. Ketika para penggemar menuntut keadilan lewat spanduk dan protes, saat itulah sepak bola berubah menjadi arena simbolik perjuangan. Aturan FIFA yang melarang pernyataan politik di stadion tampak semakin diuji realitasnya.
*(Anas Mudhakir/DMKtv)











