WASHINGTON. DMKtv, – Akhir September, Presiden Donald Trump telah mengumumkan tarif baru untuk obat-obatan. Keputusan Trump tersebut seolah muncul tiba-tiba, mengguncang pasar global. Investor berlomba-lomba memahami dampak dari kebijakan tarif baru tersebut.
Kebijakan tersebut memainkan peran strategis dalam memperkuat kesepakatan dengan Pfizer Inc. Selama berbulan-bulan, Pfizer dan Gedung Putih menemui jalan buntu dalam negosiasi mereka mengenai cara mengatasi salah satu isu tersebut. Presiden Trump meminta Pfizer untuk menurunkan harga obat-obatan di AS. Di masa jabatan kedua Trump ini, ia mengatakan kepada para eksekutif perusahaan farmasi bahwa mereka segera memberikan hasil dari perundingan.
Proses Panjang Kebijakan Tarif Obat-Obatan
Di Bulan Mei, pejabat senior Gedung Putih dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan bertemu dengan perusahaan untuk membahas solusi potensial. Para pejabat senior menggambarkan rangkaian pertemuan berlangsung canggung dan angkuh. Banyak yang hadir dengan penolakan keras terhadap gagasan penyelarasan harga obat secara global.
Trump menyadari bahwa segala sesuatunya tidak berjalan baik. Pada 31 Juli, Trump mengirimkan surat kepada 17 perusahaan farmasi terbesar, termasuk Pfizer, Eli Lilly & Co. , Novo Nordisk A/S, dan lainnya. Pemerintahan Trump mendesak mereka untuk segera menurunkan biaya Medicaid untuk obat-obatan yang sudah ada. Trump juga meminta jaminan distribusi obat-obatan di masa mendatang. Selain itu, mereka juga harus memberikan harga yang setara dengan harga di luar negeri.
Surat tersebut tidak banyak memengaruhi CEO Pfizer, Albert Bourla. Bourla menerima catatan pribadi Presiden Trump yang tidak menuliskan “Dr. Bourla” tetapi menulis “Albert.”
Dalam rapat di bulan yang sama, Pfizer masih belum mau mengalah dalam banyak prioritas pemerintah. Para pejabat Pfizer mengatakan ada masalah kepercayaan.
Bahkan, Chris Klomp, direktur Medicare dan wakil administrator CMS, sempat bersitegang untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan perusahaan.
Pada bulan September, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Pertemuan dengan Bourla di Gedung Hubert H. Humphrey di Washington, menjadi momen krusial dalam perundingan tersebut. Pertemuan itu berlangsung lebih dari satu jam, tetapi bagi mereka yang hadir merasa lega.
Bourla datang ke pertemuan itu dengan persiapan untuk mencapai kesepakatan. Ia mengakui bahwa kesepakatan dengan presiden adalah satu-satunya jalan ke depan. Mereka berjabat tangan dan pergi dengan keyakinan bahwa inti permasalahan telah tercapai.
Ultimatum Trump ke Big Pharma: Tarif 100% atau Bangun Pabrik di AS
Dalam waktu hanya 60 hari sejak ultimatum dilayangkan, Presiden Donald Trump memaksa kesepakatan besar tercapai dengan Pfizer. Lewat ancaman tarif 100% untuk semua obat bermerek atau paten yang diimpor, Trump menekan industri farmasi agar menurunkan harga dan membangun pabrik di dalam negeri.
Pfizer akhirnya sepakat menjual obat-obatan tertentu ke Medicaid dengan harga setara negara termurah dan meluncurkan TrumpRx, platform penjualan langsung dengan potongan harga hingga 85%. Namun, definisi soal “produksi dalam negeri” masih diperdebatkan.
Negosiasi berlangsung maraton hingga larut malam pada 24 September, jelang tenggat. Meski kesepakatan tercapai, pemerintah masih menekan perusahaan farmasi lain untuk ikut bergabung atau menghadapi tarif besar.
Kesepakatan ini menandai strategi khas Trump: tekanan maksimal, hasil dramatis, dan dampak besar bagi industri, publik, dan harga obat ke depan.
Hanya beberapa jam sebelum Trump dan Bourla dijadwalkan mengumumkan kesepakatan dari Ruang Oval, Departemen Perdagangan belum menandatanganinya. Bourla dan Menteri Kesehatan dan Layanan Kesehatan (HHS) Robert F. Kennedy Jr. akhirnya menandatangani perjanjian tersebut.
Pfizer juga akan menawarkan program asuransi bagi warga AS berpenghasilan rendah dan penyandang disabilitas. Tawaran ini sebanding dengan harga di negara lain. Pfizer juga berkomitmen untuk meluncurkan obat-obatan baru dengan harga yang setara dengan negara-negara maju lainnya. Sebagai imbalannya, perusahaan mendapatkan masa tenggang tiga tahun dari tarif farmasi yang telah lama menjadi ancaman AS.
Hasil Perundingan Bourla – Trump
Pfizer dan Gedung Putih menolak berkomentar pada hari Kamis. Dalam jangka pendek, langkah Bourla mendapat sambutan hangat di Wall Street. Saham Pfizer naik hingga 5,6% setelah kesepakatan hari itu. Hal ini juga menopang saham-saham perusahaan farmasi selama beberapa hari ke depan. Analis JPMorgan mengatakan kesepakatan Pfizer bisa menjadi indikator potensial bagi sektor ini.
Kesepakatan ini memungkinkan Trump untuk mengakhiri apa yang ia anggap sebagai pungutan asing dan tidak adil dari harga tinggi, beban rakyat Amerika. Konsesi Bourla kepada Trump menandai momen penting bagi industri farmasi, setelah beberapa bulan gigih melawan gagasan Trump untuk menyamakan harga obat dalam negeri dengan harga luar negeri.
Rincian perjanjian tersebut masih tersembunyi karena pemerintah secara aktif bernegosiasi dengan perusahaan lain. Lebih banyak perusahaan akan mengikuti langkah ini. Tepat setelah konferensi pers berakhir, kesepakatan lain telah difinalisasi, dan kesepakatan ketiga hampir selesai, kata para pejabat pemerintah.
*(Anas Mudhakir/DMKtv)











