TEHERAN – Pemerintah Iran pada Jumat mengumumkan pengaktifan mesin sentrifugal baru dan canggih sebagai tanggapan atas resolusi terbaru yang disahkan badan pengawas nuklir PBB, IAEA.
Pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri Iran dan Organisasi Energi Atom Iran mengatakan bahwa kepala badan nuklir Iran tersebut telah menginstruksikan “langkah efektif” untuk menanggapi resolusi baru IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional).
Langkah itu mencakup penggunaan “sejumlah besar mesin sentrifugal baru dan canggih dari berbagai jenis.”
Langkah-langkah baru itu disebutkan bertujuan untuk “melindungi kepentingan negara dan lebih jauh mengembangkan industri nuklir yang damai, konsisten dengan “hak dan kewajiban Iran berdasarkan Perjanjian Pengamanan Komprehensif.”
Pernyataan bersama juga mengecam resolusi tersebut, yang disahkan di tengah ketegangan kawasan dan kembalinya Donald Trump memimpin pemerintahan Amerika Serikat.
Iran menganggap resolusi itu “tindakan yang yang bermotif politik, tidak realistis, dan kontraproduktif”.
Namun, Iran menyebutkan bahwa kerja sama teknis dan pengamanan Iran dengan IAEA akan berlanjut “seperti sebelumnya” dalam kerangka Perjanjian Pengamanan.
Melalui pernyataan tersebut, Iran menegaskan kembali bahwa pihaknya siap untuk “bekerja sama secara konstruktif dengan pihak-pihak terkait berdasarkan prinsip dan standar hukum internasional.”
Resolusi yang dirancang oleh tiga serangkai Eropa — Prancis, Jerman, dan Inggris — serta didukung AS itu, disahkan pada pertemuan Dewan Gubernur IAEA setelah beberapa hari perundingan.
Resolusi itu merupakan yang kedua dalam lima bulan yang mengkritik Iran karena “gagal bekerja sama sepenuhnya” dengan badan nuklir PBB.
Resolusi-resolusi itu juga berisi desakan terhadap Teheran untuk mengatasi kekhawatiran mengenai partikel uranium yang diduga ditemukan di dua lokasi nuklir di negara itu.
Sebanyak 19 anggota dewan IAEA mendukung resolusi tersebut. Rusia, China, serta Burkina Faso menyatakan menolak resolusi dan 12 anggota lainnya abstain.
Iran sebelumnya telah memperingatkan ketiga negara Eropa itu dan IAEA agar tidak meloloskan resolusi tersebut.
Resolusi itu muncul hanya beberapa hari kepala IAEA Rafael Grossi menyelesaikan kunjungan di Teheran. Selama kunjungan itu, Grossi bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian.
Dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Prancis Jean-Noel Barrot pada Rabu (20/11), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa pengajuan resolusi tersebut dapat mengubah suasana “kooperatif” antara Iran dan IAEA menjadi “konfrontatif”.
Araghchi mengatakan tindakan tersebut akan merusak “suasana positif” yang tercipta selama pertemuan baru-baru ini antara kedua belah pihak dan akan memperumit situasi, menurut pernyataan kementerian.
Perwakilan Iran di PBB, Saeid Iravani, juga mengkritik resolusi tersebut dalam pernyataannya pada Jumat.
Ia mengatakan bahwa resolusi itu disahkan “tanpa mempertimbangkan” kunjungan Grossi baru-baru ini ke Teheran, yang menurutnya telah memberikan “hasil positif.”
Iravani menambahkan bahwa tanggapan Iran akan didasarkan pada “hak-hak sah yang dimilikinya.”
Sumber: Anadolu











