AMERIKA SERIKAT. DMKtv, – Harga minyak mentah Amerika Serikat naik US$1,3 menjadi US$59,81 per barel pada perdagangan awal Kamis, setelah Washington menjatuhkan sanksi terhadap dua raksasa minyak Rusia, Rosneft dan Lukoil.
Pemerintah AS menyatakan siap mengambil langkah lanjutan dan mendesak Moskow untuk segera menyetujui gencatan senjata dalam perang Rusia di Ukraina.
Sanksi AS Terhadap Rusia
Sebelumnya Presiden Donald Trump telah menjatuhkan sanksi terkait Ukraina terhadap Rusia. Target utama sanksi tersebut adalah perusahaan minyak Lukoil dan Rosneft. Sanksi tersebut menjadi bentuk meningkatnya frustrasi Trump terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin yang terus melanjutkan perang.
Departemen Keuangan AS menegaskan siap memperluas sanksi jika Moskow tidak segera menghentikan agresinya.
“Karena Presiden Putin menolak mengakhiri perang yang tak masuk akal ini, Departemen Keuangan menjatuhkan sanksi pada dua perusahaan minyak terbesar Rusia,” kata Menteri Keuangan Scott Bessent. “Kami mendorong sekutu kami untuk ikut serta dan mematuhi sanksi ini.”
Ancaman AS pada Konsumen Minyak Rusia
Sebelumnya Trump menolak menjatuhkan sanksi atas perang di Ukraina dan lebih mengandalkan kebijakan perdagangan. Trump juga mengenakan tarif tambahan 25% terhadap barang-barang dari India sebagai balasan atas pembelian minyak Rusia dengan harga diskon.
Sementara itu, China, salah satu pembeli utama minyak Rusia, belum dikenai tarif baru. Setelah negara-negara Barat menetapkan batas harga US$60 per barel pada ekspor minyak Rusia pascainvasi 2022, pelanggan utama Moskow beralih dari Eropa ke Asia.
Trump mengungkapkan bahwa ia membatalkan pertemuan puncak dengan Putin di Hungaria, dengan alasan “bukan waktu yang tepat.” Ia berharap sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia tersebut tidak perlu berlangsung lama, mengingat dampaknya terhadap dominasi dolar dalam transaksi minyak global. Rusia sendiri kerap meminta pembayaran menggunakan mata uang selain dolar.
Langkah AS ini mengikuti keputusan Inggris pekan lalu yang juga menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil.
“Ini tidak bisa berhenti di sini,” ujar Edward Fishman, mantan pejabat AS yang kini menjadi peneliti senior di Universitas Columbia. “Pertanyaannya sekarang, apakah AS akan menindak pihak yang masih berbisnis dengan Rosneft dan Lukoil.”
Namun, Jeremy Paner, mantan penyidik sanksi di Departemen Keuangan AS yang kini menjadi mitra di firma hukum Hughes Hubbard & Reed, menilai langkah ini masih lemah.
“Tanpa menargetkan bank atau pembeli minyak dari India dan China, langkah ini tidak akan membuat Putin gentar,” katanya.
Sementara itu, seorang pejabat senior Ukraina menyebut keputusan AS sebagai “kabar baik”, dan menegaskan bahwa Rosneft serta Lukoil sudah lama menjadi target sanksi yang diusulkan Kyiv.
*(Reuters/DMKtv)



![prewclear[1]](https://dmkcomm.com/wp-content/uploads/2025/10/prewclear1-1068x801.jpg)







