JAKARTA. DMKtv, — Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings berikan peringkat kepercayaan global atas kinerja dan ketahanan keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Fitch mempertahankan peringkat kredit jangka panjang PLN dalam mata uang asing dan lokal di level ‘BBB’ dengan outlook stabil, sekaligus menaikkan Standalone Credit Profile (SCP) dari ‘bb+’ menjadi ‘bbb-’, mencerminkan peningkatan fundamental keuangan PLN di tengah tantangan transisi energi.
Peringkat ini dipatok sejajar dengan peringkat kredit Indonesia sebagai pemilik PLN, menandakan keyakinan kuat bahwa PLN akan terus mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah.
PLN Jadi Pilar Strategis Negara, Dukungan Pemerintah Sangat Kuat
Fitch menilai hubungan PLN dengan pemerintah Indonesia sangat kuat, baik dalam hal pengawasan, arah kebijakan, hingga pemberian dukungan finansial. Pemerintah tidak hanya memiliki sepenuhnya saham PLN, tetapi juga secara aktif menentukan arah investasi, menunjuk manajemen puncak, serta menetapkan tarif listrik.
Peran PLN sangat krusial bagi keberlangsungan kebijakan publik, rilis Fitch dalam laporannya. Sebagai satu-satunya distributor utama dan penyedia listrik nasional, kegagalan PLN akan berdampak sistemik pada sektor keuangan dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Tak hanya itu, pemerintah secara rutin memberikan subsidi dan kompensasi bagi PLN untuk menutup selisih antara biaya produksi dan tarif listrik yang ditetapkan di bawah harga pasar, termasuk stimulus berupa diskon tarif 50% untuk rumah tangga tertentu pada awal 2025.
Capex Naik Drastis untuk Dukung Transisi Energi
Fitch juga mencatat peningkatan signifikan dalam belanja modal (capex) PLN yang diproyeksikan melonjak menjadi Rp80–140 triliun per tahun, dari rata-rata Rp50–60 triliun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh akselerasi proyek energi terbarukan, sejalan dengan komitmen pemerintah terhadap transisi energi bersih.
Meski arus kas bebas diperkirakan negatif dalam jangka menengah, rasio utang bersih terhadap EBITDA diproyeksikan tetap terkendali di bawah 4,0x, didukung oleh permintaan domestik yang kuat dan ketepatan waktu pencairan subsidi pemerintah.
Dengan saldo kas sebesar Rp48 triliun per akhir Juni 2025 dan jatuh tempo utang jangka pendek sekitar Rp43 triliun, PLN dinilai memiliki struktur likuiditas yang solid. Perusahaan juga diperkirakan mampu menghasilkan arus kas operasional tahunan sebesar Rp80–90 triliun selama 2025–2028, meski tetap mengandalkan pendanaan eksternal untuk mendukung ekspansi masifnya.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Dalam sensitivitas peringkatnya, Fitch menyebut bahwa satu-satunya faktor eksternal yang bisa menurunkan peringkat PLN adalah jika terjadi penurunan peringkat kredit Indonesia. Sebaliknya, peningkatan peringkat negara akan langsung mendorong upgrade bagi PLN.
Selain itu, perbandingan dengan BUMN sektor energi lainnya seperti PT Pertamina (Persero), serta entitas serupa di kawasan seperti EGAT Thailand dan KEPCO Korea Selatan, menunjukkan bahwa PLN memiliki posisi strategis yang setara bahkan lebih kuat dalam hal dukungan pemerintah dan dampak sistemik.
*(Anas Mudhakir/Dmktv)











