AS. DMKtv, – Demonstrasi massa mewarnai Amerika Serikat pada Sabtu (19/10). Aksi unjuk rasa ini bertajuk “No Kings”. Massa menuntut penghentian praktik otoriter dan korupsi yang melekat pada kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Para pengunjuk rasa membawa anak-anak dan hewan peliharaan, turun ke jalan secara massal. Aksi unjuk rasa bertajuk “No Kings” berlangsung di seluruh kota di Amerika Serikat pada hari Sabtu. Mereka mengecam apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan otoriter dan korupsi tak terkendali dari Presiden AS Donald Trump.
Penyelenggara memperkirakan jutaan orang akan hadir dalam lebih dari 2.600 aksi. Unjuk rasa akan berlangsung di seluruh kota, menantang agenda Trump. Bagi mereka, Trump telah memporakporandakan norma-norma demokrasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sejak ia menjabat pada bulan Januari.
Slogan dan Kostum ala karnaval hadir dalam Aksi Damai
“Tidak ada yang lebih Amerika dengan mengatakan, ‘Kami tidak punya raja’ dan hak kami berunjuk rasa damai,” kata Leah Greenberg, salah satu pendiri Indivisible.
Kepolisian New York mengatakan lebih dari 100.000 orang berunjuk rasa di kelima wilayah kota dan NYPD tidak melakukan penangkapan terkait protes. Begitupun, acara di Boston, Chicago, dan Atlanta juga menarik banyak massa.
Protes tersebut mencerminkan meningkatnya keresahan warga Amerika. Mereka takut dengan penuntutan pidana terhadap mereka yang berlawanan politik dengan Trump. Pengunjuk rasa juga terintimidasi atas tindakan keras militer terhadap imigran dan pengiriman pasukan Garda Nasional ke kota-kota AS. Trump menempatkan loyalis yang tidak berpengalaman di setiap kebijakannya dan berusaha memberikan tekanan pada media.
Di Washington, ribuan demonstran berpawai menuju Gedung Capitol AS dalam suasana santai bak karnaval, mengenakan kostum bersama hewan peliharaan mereka. Aliston Elliot, mengenakan hiasan Patung Liberty, membawa tanda “No Wannabe Dictators”. Elliot menyuarakan penolakannya terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Di Houston, sekitar 5.000 orang berkumpul di balai kota, termasuk veteran Marinir Daniel Aboyte Gamez yang mengaku bingung dengan arah negara saat ini. Di Portland, veteran militer Kevin Brice mengenakan kaus “No Kings since 1776”. Nilai-nilai yang ia perjuangkan sebagai republikan, kini terancam. Steve Klopp, mantan pegawai industri minyak di Houston, mengaku meninggalkan Partai Republik karena kecewa pada Trump.
Di Denver, Kelly Kinsella berdiri di antara ribuan orang dengan kostum Patung Liberty dan air mata berdarah di wajahnya. Ia menyalahkan kebijakan tarif Trump atas inflasi yang membuat banyak orang hidup dalam tekanan.
“Trump Bukan Seorang Raja”
Trump tidak banyak berkomentar tentang protes hari Sabtu. Namun, dalam wawancara dengan Fox Business yang ditayangkan Jumat, ia mengatakan bahwa “saya bukan raja.”
Lebih dari 300 kelompok membantu mengorganisir pawai hari Sabtu, kata Greenberg. American Civil Liberties Union (ACLU) memberikan panduan hukum dan pelatihan “de-eskalasi” kepada puluhan ribu orang di berbagai pawai.
Dari Partai Demokrat mengaku bahwa mereka telah mengatasi perpecahan internal. Mereka punya cara untuk menentang Trump. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer dan tokoh progresif Perwakilan AS Alexandria Ocasio-Cortez menyuarakan dukungan terhadap gerakan “No Kings”.
Aksi protes hari Sabtu bertujuan untuk membangun momentum protes “No Kings” sejak 14 Juni. Saat itu bertepatan dengan ulang tahun Trump yang ke-79 dan parade militer langka di Washington.
Partai Republik menyindir bahwa Proter merupakan aksi Anti Amerika
Ketua DPR Mike Johnson menyebut protes “No Kings” sebagai “unjuk rasa kebencian terhadap Amerika”. Beberapa Republikan lain menuduh penyelenggara demonstrasi telah memicu kekerasan politik, khususnya pembunuhan aktivis Charlie Kirk, pada September.
Dana Fisher, seorang profesor dan penulis beberapa buku tentang aktivisme Amerika, memperkirakan bahwa demonstrasi ini adalah aksi protes terbesar dalam sejarah AS modern.
Jumlah keseluruhan peserta demonstrasi “No Kings” pada 14 Juni bisa mencapai 4 hingga 6 juta orang. Analisis penggalangan dana mempublikasikan melalui jurnalis data G. Elliott Morris di situs blog Strength in Numbers.
Fisher mengatakan protes tersebut “tidak akan mengubah kebijakan Trump. Namun, protes tersebut bisa membuat para pejabat yang menentang Trump menjadi lebih berani.”
*(Reuters/DMKtv)



![9cd49120-ac6b-11f0-9ed4-59fe85238c20.jpg[1]](https://dmkcomm.com/wp-content/uploads/2025/10/9cd49120-ac6b-11f0-9ed4-59fe85238c20.jpg1_.webp)







