VIRGINIA, AS. DMKtv, — Mantan Direktur FBI James Comey mengaku tidak bersalah atas tuduhan membuat pernyataan palsu dan menghalangi penyelidikan Kongres. Ia menyebut kasus ini berbermotif politik yang diarahkan langsung oleh Presiden Donald Trump.
Di tahun terakhir masa jabatan Comey, telah menuai kemarahan dari Partai Demokrat maupun Republik. Pada Juli 2016, ia mengadakan konferensi pers tentang investigasi FBI terhadap calon presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton, yang berakhir tanpa tuntutan.
Pada Mei 2017 Trump memecat Comey. Trump marah atas investigasi terkait kontak antara Rusia dan kampanye Trump. Pemecatan tersebut memicu badai politik dan berujung pada penunjukan Penasihat Khusus Robert Mueller. Investigasi itu membayangi sebagian besar masa jabatan pertama Trump sebagai presiden.
Dalam sidang selama 25 menit di pengadilan federal Alexandria, Comey hanya berbicara singkat dan mengonfirmasi pemahamannya atas hak-hak hukum. Pengacaranya, Patrick Fitzgerald, mengajukan pembelaan tak bersalah.
Fitzgerald tak ragu menyatakan di hadapan hakim bahwa penuntutan ini merupakan “upaya balas dendam politik dari Gedung Putih.” Ia juga mengisyaratkan akan mengajukan berbagai mosi hukum, termasuk permohonan pembatalan kasus atas dasar pelanggaran etika. Selain itu, Fitzgerald juga keberatan atas penunjukan jaksa yang ilegal.
Intervensi Trump Atas Kasus Comey
Sebelumnya, Trump memaksa pengunduran diri jaksa federal karena menolak menuntut Comey. Bahkan Lindsey Halligan, mantan pengacara pribadi Trump tanpa latar belakang sebagai jaksa, kini memimpin penuntutan. Penunjukan Halligan langsung menuai kritik dari kalangan profesional. Bahkan dua jaksa dari kantor lain pun datang mendukung kasus ini.
“Departemen Kehakiman telah kehilangan netralitasnya,” ujar Fitzgerald usai sidang. “Kami masih belum mendapat bukti dasar, atas informasi yang dibocorkan.”
Jaksa penuntut menyatakan bahwa kasus ini melibatkan “jumlah besar” informasi rahasia. Namun Hakim Michael Nachmanoff menegaskan bahwa proses hukum tidak boleh terganggu oleh sensitivitas materi. Ia menjadwalkan persidangan pada 5 Januari 2026.
Trump Semakin Agresif Kejar Rival Politik
Kasus Comey muncul di tengah gelombang tekanan Trump terhadap rival-rival politiknya. Beberapa jam sebelum sidang, Trump secara terbuka menyerukan penangkapan Gubernur Illinois dan Wali Kota Chicago. Keduanya dari Partai Demokrat, menentang pengerahan pasukan garda nasional di wilayahnya. Pengerahan pasukan ini sebagai antisipasi aksi demo peningkatan operasi imigrasi federal di kota-kota besar.
Trump, yang masa jabatan pertamanya di, telah lama menaruh dendam terhadap Comey. Pada 2017, ia memecat Comey dan menuduhnya sebagai aktor utama dalam “perburuan penyihir politik” terhadap dirinya. Pemecatan itu sendiri menjadi pemicu utama penunjukan Penasihat Khusus Robert Mueller.
Peringatan Pelanggaran Hukum dan Etika
Lebih dari 1.000 mantan pejabat Departemen Kehakiman dari kedua partai telah menandatangani surat kecaman terhadap dakwaan Comey. Mereka menyebut kasus ini sebagai “serangan langsung terhadap supremasi hukum”.
Menurut dakwaan, Comey berbohong dalam sidang Kongres tahun 2020. Pernyataan Comey tidak pernah mengizinkan penggunaan sumber anonim dalam laporan media.
Politik Balas Dendam dan Masa Depan Hukum Amerika
Tindakan Trump mendorong penuntutan terhadap musuh-musuh politiknya menandai titik balik berbahaya dalam sejarah hukum Amerika. Dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos; 1 dari 4 warga AS percaya bahwa Departemen Kehakiman bertindak atas intervensi politik.
Sementara publik terpecah, Comey memilih diam di luar ruang sidang. Namun dalam video yang ia unggah bulan lalu, mantan pejabat FBI itu mengirim pesan keras: “Kami tidak akan hidup dengan berlutut.”











