Catatan Abah Dahlan: “Zhou BK”

Oleh: Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN

DMKtv,- Sabtu 14-03-2026

“Hampir semua orang Indonesia tahu nama Zhou En Lai,” kata saya melebih-lebihkan nama besar mantan perdana menteri Tiongkok itu.

Orang di kota ini senang mendengarnya: Kota Huai An. Itu satu kabupaten kecil di bagian utara provinsi Jiangshu yang besar. Jaraknya tiga jam naik kereta cepat dari Gedung Celana Panjang di Suzhou (lihat disway kemarin).

Di situlah Zhou En Lai lahir. Kelak di tahun 1955 ia ke Bandung. Ia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KAA). Indonesia memang pendiri Gerakan Negara-Negara Nonblok: tidak memihak Amerika dan sekutu Baratnya maupun Uni Soviet dan sekutu sosialisnya.

Waktu ke Bandung itu Zhou En Lai ditemani seorang tokoh yang punya anak yang masih kecil. Anak kecil itu kelak di tahun 2025 menjabat Presiden Tiongkok untuk periode ketiga kalinya.

Zhou En Lai sangat terlambat kawin. Tidak punya anak kandung. Karir politiknya melejit. Kerjanya keras. Kelak di awal perkawinannya ia mengangkat dua anak: perempuan dan laki-laki.

Mereka tidak sampai berumah tangga. Kelak, setelah agak dewasa yang perempuan tewas oleh kekerasan politik –setelah jadi korban pemerkosaan lawan politik.

Sedangkanyang laki-laki tidak bisa selamat dari penyiksaan di saat meletus revolusi kebudayaan antara tahun 1966-1974.

Zhou En Lai sendiri harusnya juga terkena revolusi. Hampir terkena. Sudah mulai disasar olehbuzzeraliran keras di Partai Komunis Tiongkok. Ia hampir jadi korban rebutan posisi di lingkungan kekuasaan mutlak Mao Zedong.

Ia dianggap lembek dalam menghadapi kelompok pro kapitalisme. Dari jenis rumah tempat ia dilahirkan memang terlihat Zhou datang dari keluarga kaya.

Pagi itu saya ke rumah Zhou. Kini rumah itu jadi meseum. Di tengah kota. Besar sekali. Banyak kamar. Ada sumur di halaman belakang. Saya diminta mencoba menimba air dengan cara zaman itu: timbanya diikatkan di ujung tali.

“Saya pasti bisa,” kata saya. “Saya pernah melakukannya waktu kecil di desa”.

Saya pun mulai memegang timba. Memasukkannya ke mulut sumur. Tangan kanan memegang ujung tali. Timba sudah mencapai permukaan air –kedalamannya tidak sampai tiga meter. Saya pun mengibaskan tali. Timbanya terlihat terjungkit. Perasaan saya jungkitan timba itu seperti menciduk air. Sukses. Ternyata tidak. Timbanya tetap kosong. Lalu saya diamkan timba itu mengapung di atas permukaan air. Nanti akan miring sendiri lalu tenggelam penuh air. Begitulah cara lama yang saya lakukan.

Ternyata timba di rumah Zhou En Lai ini beda. Saya gagal. Salah satu dari yang menonton kegagalan itu minta saya menyerahkan timbakepadanya. Ia demostrasikan cara yang benar. Saya pun bertepuk tangan.

Pertanda lain Zhou dari keluarga kaya adalah ini: di rumah itu ada ruang khusus belajar. Isinya tiga bangku dan satu meja guru. Seorang guru didatangkan ke rumah itu setiap hari: mengajar Zhou dan dua sepupunya.

Zhou tinggal di rumah itu sampai usia12 tahun. Lalu merantau ke provinsi Liaoning yang lebih maju. Ikut pamannya. Sekolah di sana. Lalu kuliah di kota Tianjin –di Nankai University. Kelak di tahun 2007 saya sering lewat universitas itu –menjalani operasi ganti hati di rumah sakit di dekatnya.

Saya sudah banyak membaca literatur tentang Zhou En Lai tapi baru tahu pekan lalu di sinilah lokasi kelahirannya. Saya serasa mendapat bonus perjalanan. Dari rencana hanya melihat satu proyek menjadi berkunjung ke rumah tokoh besar Tiongkok. Ia salah satu pendiri republik. Ia menjabat perdana menteri begitu lama: 15 tahun. Bahkan boleh dikata Zhou adalah tokoh di balikcomeback-nya tokoh sentral reformasi Deng Xiaoping.

Waktu itu Deng menjalani masa pembuangannya di salah satu desa di luar kota Nanchang. Ia jadi tahanan rumah. Resminya: ia ditugaskan memimpin bengkel permesinan di desa itu. Tapi tidak diberi alat. Tidak diberi staf. Ia hanya bersama istri di desa itu.

Secara tidak resmi, Deng menjalani hukuman selama revolusi kebudayaan. Padahalia wakil perdana menteri. Ia dijauhkan dari pusat kekuasaan. Jabatan tingginya sebagai wakil perdana menteri terlalu berbahaya di dekat Mao Zedong.

Zhou-lah yang pelan-pelan meyakinkan Mao agar Deng dipanggil lagi ke Beijing. Zhou-lah yang tahu betapa pintar Deng mengatur perekonomian. Tentu Zhou berani meminta Deng ke Beijing setelah posisinya sendiri aman daribuzzer.

Apalagi rakyat kian merasakan kesengsaraan akibat revolusi kebudayaan. Zhou juga berani mengusulkan agar Deng kembali ke Beijing setelah tokoh muda terdekat dengan Mao Zedong tewas dalam kecelakaan pesawat: Letkol Lin Piao.Ups, bukan Letkol. Lin Piao sudah jendral bintang satu.

Saatitupesawat militer yang membawanya ke arah Rusia jatuh. Pasangan Perdana Menteri Zhou En Lai dan Wakil Perdana Menteri Deng Xiaoping pun kembali merencanakan perbaikan ekonomi. Tapi tidak bisa cepat. Kelompok penjilat Mao masih sangat kuat. Bisa-bisa keduanya dianggap perongrongketua Mao. Zhou sendiri kian tidak sehat. Ia terkena kanker empedu. Sebenarnya sakitnya itu masih bisa diatasi. Bisa dioperasi. Tapi setiap dokter yang akan mengoperasi pejabat tinggi harus minta izin Mao Zedong.

Administrasinya harus melewati lingkaran terdekat sang ketua. Izin itu tidak diberikan. Mungkin Mao sendiri yang tidak mengizinkan. Mungkin juga permintaan izin tidak sampai dibaca Mao.

Setelah akhirnya kencing Zhou campur darah izin operasi diberikan. Terlambat. Zhou En Lai meninggal dunia.

Harusnya negara berduka: pendiri republik meninggal dunia. Tapi tidak. Justru Mao mengeluarkan larangan acara apa pun yang menunjukkan simpatikepada Zhou. Lama-lama rakyat tahu Zhou En Lai sudah meninggal dunia.

Beberapa bulan kemudian, ketika datang haricingbing, puluhan ribu rakyat berkumpul di Tian An Men. Mereka menyatakan duka pada Zou En Lai. Orang Tionghoa di mana pun melakukan ziarah kubur di haricingbing. Mereka ziarah kubur Zhou di lapangan Tian An Men. Tidak hanya rumah Zhou yang jadi museum. Di kota Huai An juga dibangun patung raksasa Zhou. Di belakang patung itu dibangun museum besar Zhou En Lai.

Perjalanan Zhou dipaparkan di meseum itu. Termasuk saat hadir di KAA Bandung. Saat saya tiba di bagian KAA Bandung saya melihat beberapa foto Zhou di KAA itu. Terlihat pula tokoh-tokoh dunia. Tapi tidak terlihat sama sekali Bung Karno.

Maka saya usul di dalam hati. Bagaimana kalau Bu Mega menugaskan staf mencari foto Zhou bersama Bung Karno, lalu mengirimkannya ke museum di Huai An itu. Tanpa Bung Karno tentu meseum itu seperti ada yang kurang. Apalagi ada kemiripan nasib di akhir hayat Zhou dan BK. Baik sakitnya maupun dukanya. (*)

Baca dari sumbernya:

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/935366/zhou-bk

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini