Oleh: Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN
DMKtv,- Selasa 10-03-2026
Yang paling saya kagumi selama di Mesir adalah jalan tolnya. Memang baru dua jalan tol yang saya lewati tapi saya sudah bisa mengambil kesimpulan: Mesir ini beda!
Misalnya jalan tol dari Kairo ke Alexandria: 220 km. Hampir sama dengan jarak Jakarta-Tegal. Atau Surabaya-Yogyakarta. Tarifnya membuat saya tersedak: hanya Rp 3.500. Sangat tidak masuk akal.
Bandingkan dengan Jakarta-Tegal: Rp 240.000. Atau Surabaya-Yogyakarta: sekitar Rp 420.000. Atau kalau Anda masuk tol dari Lampung, 220 km itu sudah sampai di Kayu Agung. Tarifnya: di atas Rp 160.000.
Ternyata jalan tol di Mesir ini milik perusahaan tentara Mesir. Tentara di sana punya banyak sekali badan usaha. Di bidang apa saja. Termasuk konstruksi dan properti. Maka banyak rest area di jalan tol pun milik perusahaan tentara.
Pantaslah rakyat Mesir cinta sekali ke tentara. Bisa memberikan jalan tol dengan tarif semurah itu. Di pilpres yang lalu incumbent menang sampai 90 persen.
Rakyat Mesir justru tidak mendukung partai. Bahkan Ikhwanul Muslimin, yang awalnya dielu-elukan, hanya berkuasa satu tahun. Lalu kembali ke militer lagi.
Bukan hanya murahnya. Juga lebarnya. Ampuun. Satu arah delapan lajur. Yang lima lajur untuk kendaraan pribadi –kendaraan kecil. Yang tiga lajur untuk bus, truk dan kendaraan niaga. Keduanya dipisahkan kone beton.
Ini seperti medan kemerdekaan berkendaraan. Tidak perlu ada aturan: yang berkecepatan tinggi harus di lajur yang mana. Anda banting stir ke mana pun tidak akan menyenggol siapa pun.
Bayangkan. Lima lajur hanya untuk mobil pribadi. Di Indonesia tiga lajur pun untuk rebutan semua jenis kendaraan: truk, bus, box, pikap, dan kendaraan pribadi.
Apakah perusahaan milik tentara itu tidak menghitung ROI (return on investment)? Tidak pakai itungan kapan balik modal?
Tentu ada. Tapi cara menghitungnya yang berbeda. Jalan tol di Indonesia punya cara menghitung sendiri. Begini: 100 persen biaya dianggap pinjaman dari bank. Padahal, sebenarnya hanya 70 persen. Yang 30 persen dari penggelembungan nilai proyek.
Maka harus ada biaya bunga bank dari yang 100 persen itu. Termasuk bunga saat pembangunan dan setelah pembangunan.
Biaya pembangunannya sendiri dibuat cukup untuk memberi laba untuk dibagi-bagi: kontraktor, sub kontraktor dan subnya sub kontraktor.
Kontraktor tidak mengerjakan sendiri proyeknya. Kontraktor menyerahkan bagian-bagian pekerjaan ke sub kontraktor. Berarti ada ruang laba untuk sub kontraktor.
Sub kontraktor pun masih menyerahkan pekerjaan ke pelaksana. Ada laba lagi.
Belum lagi faktor risiko. Juga sekalian dimasukkan dalam perhitungan bunga.
Pun soal pembebasan tanah. Diserahkan ke kontraktor pembebasan. Lalu ke calo. Baru ke koordinator. Semua mengandung biaya.
Dan semua semua itu dibebankan ke tarif tol. Sedang di Mesir tanah adalah tanah negara.
Di Mesir perhitungan non keuangan bisa dimasukkan ke biaya. Di Mesir dalam menghitung ROI pemerintah menghitung return yang bukan investment.
Misalnya: kalau tarif tol murah berarti kian banyak kendaraan yang tidak pakai jalan non-tol. Itu berarti biaya pemeliharaan jalan itu menurun. Dengan lancarnya jalan tol angkutan orang dan barang lancar –menurunkan inflasi.
Pokoknya yang dihitung tidak hanya ROI tapi juga RONI –return on non investment.
Dulu, waktu saya ke Piramid belum ada jalan tol jurusan Alexandria ini. Kini dengan lewat tol bisa cepat sekali ke Piramid: 30 menit. Setengah jam dari Kiro sudah bisa melihat Piramid dari jalan tol.
Tiba-tiba kang Fauzi –saudagar kum ustaz, membelokkan mobil keluar tol. Ia berkuasa penuh. Ia yang punya mobil. Ia yang mengemudikannya. Saya ikut saja.
“Biar tahu perkembangan sekitar Piramid,” ujar Kang Fauzi al Bandungi.
Lingkungan Piramid itu ternyata sudah berubah. Total. Kini sudah ada Piramid keempat. Baru selesai dibangun akhir tahun lalu. Sebenarnya itu bukan Piramid. Itu museum: Grand Egyption Museum. Memang besar sekali. Desainnya dibuat sedemikian rupa seperti abstraksi Piramid. Karena itu dijuluki Piramid Keempat.
“Kita tidak usah masuk museum. Bisa lima jam sendiri di dalamnya,” ujar Kang Fauzi.
Intinya turis yang ke Piramid sekarang punya objek tambahan: museum itu.
Setelah berputar di sekitar museum kami balik ke tol lagi –meneruskan perjalanan ke Alexandria. Setengah jam kemudian Kang Fauzi menunjuk ke arah timur: di sana kampungnya Mo Salah –bintang sepak bola Liverpool Mohamed Salah. Mungkin 50 km di timur sana.
Di kampung itu sering terjadi penyembelihan sapi. Setiap kali Salah bikin gol ada sapi yang disembelih. Dagingnya dibagikan ke masyarakat. Kalau dalam satu pertandingan Salah membuat dua gol, dua sapi dipotong.
Kami melupakan Salah. Terus menyusuri kemerdekaan ke barat laut. Kanan kiri jalan tol tanahnya subur. Itulah yang dulu wilayah banjir abadi. Lalu belakangan jadi lahan pertanian setelah banjir bisa dikendalikan lewat bendungan Aswan di Hulu sungai Nil.
Model jalan tol begini hanya ada di Mesir. Dia tidak berkiblat ke mana-mana. Mesir bangga dengan kejayaan masa silamnya (Dahlan Iskan)











