Oleh: Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN
DMKtv,- Jumat 06-03-2026
Perlunya minoritas diperlakukan secara fair terbukti di dua kejadian: perang di Iran sekarang ini dan saat terjadi reformasi yang gagal di Mesir tahun 2012.
Amerika Serikat kini benar-benar mengincar suku minoritas di Iran: Kurdi –agar bisa menjadi ujung tombak Amerika untuk melakukan serangan darat. Setidaknya untuk melakukan operasi provokasi terhadap rakyat Iran agar bangkit menggulingkan pemerintah.
Suku minoritas itu pernah ”dipakai” Amerika untuk menggempur ISIS. Mereka diberi dana dan senjata. Dananya sudah distop tapi senjatanya masih ada. Mereka double minority: sunni di tengah lautan syiah dan suku Kurdi di tengah samudera suku Parsi.
Reformasi di Mesir gagal karena pemenang pemilu dimokratisnya, Ikhawanul Muslimin, sama sekali tidak mau mengajak yang kalah masuk ke dalam pemerintahan. Semua posisi diambil habis oleh Ikhwanul Muslimin. Ketika mereka ternyata gagal menahan kenaikan harga-harga, mudah terguling.
Kurdi juga merasa mendapat perlakuan kurang adil dari Iran. Tidak puas. Bisa dipakai Amerika –asal ada tawaran yang menarik.
Kini, Amerika Serikat benar-benar berpikir menggunakan suku Kurdi untuk operasi di darat. Itu meninggalkan pertanyaan strategis: menang perang berkat teknologi tinggi ternyata tidak bisa mencapai tujuan akhir: menguasai wilayah lawan. Dengan serangan jarak jauh lawan memang lumpuh. Tapi lantas mau ngapain?
Hampir saja angkatan darat dianggap tidak lagi relevan. Perang bisa sepenuhnya jarak jauh. Prajurit rendah tidak lagi jadi pion yang tewas duluan di medan perang.
Jenderal penting Iran bisa dibunuh di perjalanan di Irak. Nasrullah, pemimpin tertinggi Hisbullah di Lebanon dibunuh lewat udara. Lewat tombol komputer. Pemimpin Hamas bisa dibunuh lewat cara serupa justru saat di negara lain. Nicolas Maduro diculik jarak jauh.
Tentara sekian batalyon seperti tidak terlalu terpakai. Seolah yang lebih diperlukan hanya angkatan udara. Ditambah angkatan laut.
“Memang perang modern ini membuat kita harus berubah,” ujar Djoko Suyanto. Ia seorang marsekal. Bintang empat di angkatan udara. Mantan KSAU. Mantan panglima TNI. “Tidak boleh lagi hanya membangun angkatan udara tapi harus membangun kekuatan udara,” katanya.
Angkatan udara berarti sektoral. Punya egonya sendiri. “Kekuatan udara tidak hanya angkatan udara,” tambahnya.
Ia berpendapat kekuatan udara pun tetap berbasis di darat. Dan laut. Pesawat terbang perlu landasan di darat. Rudal perlu peluncur di darat. Dan di kapal di atas laut.
Maka sudah waktunya Kementerian Pertahanan dan panglima TNI menjadi inisiator untuk perubahan itu. Tiap angkatan tidak boleh lagi punya ego sektoral.
Tapi setelah mempertontonkan kecanggihan serangan udara, Amerika ternyata harus memikirkan serangan darat. Amerika tidak mungkin melakukannya. Bisa terjebak seperti di perang Vietnam. Dengan menggunakan suku Kurdi, Amerika hanya kehilangan uang. Tidak perlu kehilangan nyawa.
Ada dua provinsi yang mayoritas Kurdi di Iran: provinsi Kurdistan dan provinsi Kermanshah –tetangga selatannya. Jarak dari Kurdistan ke Teheran hanya enam jam naik mobil.
Dua provinsi Kurdi itu berupa pegunungan. Tinggi. Dataran rendahnya saja 1.500 meter dari permukaan laut. Apalagi dataran tingginya. Sungguh medan perang yang sulit bagi tentara Amerika.
Apakah Kurdi akan mau dibayar Amerika untuk melakukan serangan darat ke Teheran juga masih tanda tanya besar.
Di suku Kurdi juga terpecah ke banyak kelompok yang saling tidak kompak. Maka Amerika harus membayar mahal untuk menyogok mereka.
Itu pelajaran baik bagi Indonesia. Antar suku harus kompak –agar kelak tidak ada suku yang bisa dibeli untuk ikut meruntuhkan negeri sendiri.
Awalnya darat lebih penting dari udara –saat perang gerilya. Lalu darat bisa di-bypass oleh kecanggihan persenjataan udara. Tapi ternyata akhirnya serangan darat tetap penting untuk finishing-nya.
Alhamdulillah, kita sudah lama tidak berperang. Yang masih banyak dilakukan: serangan fajar.(*)
Baca dari sumbernya: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/933629/serangan-fajar











