Catatan Abah Dahlan: “Iri Masyaallah”

Oleh: Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN

DMKtv,- Rabu 01-04-2026

Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman.

Yang kawin adalah kurma.

Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba –hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya.

Anda sudah tahu: nenek moyang Kholid adalah orang dari Wadi Doan. Ia sering ke sana. Pemilik pabrik sarung Cap Mangga dan berbagai pabrik Indomie di Timur Tengah itu tahu di mana mathba terenak.

Di sebelah saya tiga orang Yaman juga lagi makan mathba. Mereka membawa tas kresek plastik. Isinya seperti akar kering. Itu bukan akar. Itu bunga kurma yang sudah dikeringkan.

“Ini bunga jantan,” katanya menjawab rasa penasaran saya. “Akan kami taburkan di atas kurma betina,” ujarnya. “Mumpung masih Februari, puncak rasa kurma betina harus kawin,” tambahnya.

Saya baru tahu: ada kurma jantan dan betina. Satu pohon kurma jantan mampu membuahi 50 pohon kurma betina. Maka petani kurma berusaha menanam satu kurma jantan di tengah 50 pohon kurma betina.

Itu belum cukup meyakinkan. Petani masih perlu mengumpulkan bunga kurma jantan untuk ditaburkan ke bunga betina. Agar buah kurmanya lebat.

Setelah kami lebih akrab saya diminta mengambil satu untai. Untuk apa? “Anda kunyah,” katanya.

Saya ragu. Ia tahu saya ragu. Ia pun  memberi contoh mengunyah satu tangkai. Saya ikuti caranya.

“Bagi orang Arab ini seperti viagra,” katanya. Saya men-jondil. Telanjur saya telan. Bagaimana kalau viagranya manjur.

Letak kota Wadi Doan ini unik. Tidak terlihat dari jalan raya poros utama TarimMukalla. Di sepanjang perjalanan saya seperti tidak pernah melihat kota.

Ternyata kota-kotanya tersembunyi di bawah sana. Di dalam wadi. Wadinya sangat dalam. Jangankan rumah di situ, pepohonan di wadi pun tidak terlihat dari jalan raya.

Yang terlihat hanya permukaan pegunungan yang serba rata. Dari jalan raya itu ternyata banyak jalan kecil masuk ke wadi. Jalannya menurun. Berliku. Begitu sampai di kedalaman sekitar 100 meter baru terlihat banyak pohon. Banyak rumah.

Wadi itu memanjang panjang. Ratusan kilometer. Berlekuk-lekuk –mengikuti liukan sungai kering. Sungai itu baru ada airnya kalau terjadi hujan lebat. Setahun tiga atau empat kali saja.

Di salah satu bagian wadi itu disebut Wadi Doan. Itulah kota Wadi Doan, kampung nenek moyang Kholid Bawazir.

Di sepanjang pinggir sungai kering itu ada jalan raya kecil. Itulah yang menghubungkan satu wadi dengan wadi lainnya.

Kami mencoba menelusuri jalan wadi itu. Sampai satu jam. Tiba di kota wadi yang lain. Di situ ada satu masjid. Juga makam. Ternyata itu makam leluhur tokoh Arab di Jakarta –yang saya juga kenal baik dengannya.

Semua itu tidak terlihat dari jalan raya utama Mukalla-Tarim. Tapi, kalau Anda mau, mobil bisa Anda ajak keluar dari jalan raya. Masuk padang tanah. Offroad. Ke arah satu celah di kejauhan sana. Anda akan sampai di pinggir jurang. Dari bibir jurang itu Anda bisa melongok jauh ke bawah: di sanalah kotanya.

Ternyata sudah ada seorang pengusaha Saudi membangun kawasan villa di bibir salah satu tebingnya. Saya pun diajak ke villa itu. Istirahat di situ. Bukan main pemandangannya: menakjubkan. Tak terpermanai. Kami bisa melongok ke dalam jurang wadi. Dramatis.

Jurang itu dalam sekali. Banyak pohon kurma di dalamnya.

Unik: di bawah sana ada beberapa bukit. Di atas bukit itu banyak rumah. Satu kampung itu di atas bukit. Jadi, kampung itu berada di ketinggian di bawah sana. Aneh, ada kota di atas gunung, tapi gunung itu di dalam jurang. Semua itu terlihat dari villa di atasnya.

Villanya sendiri sepi. Akibat perang. Hanya ada satu lelaki Polandia yang bermalam bersama pasangannya. Tiga malam di situ. Alangkah menakjubkannya suasana malam hari di padang pasir di tepi jurang –mirip Grand Kanyon di Amerika.

Di sepanjang jurang itu banyak kota kecil karena ada air di sana. Air adalah sumber kehidupan. Di samping banyak pohon kurma banyak juga pohon cedar. Daun cedar biasa digunakan untuk mengubur mayat. Tiap satu mayat ‘dibalut’ daun cedar satu karung.

Maka kota Wadi Doan adalah kota panjang yang tersembunyi di celah-celah pegunungan batu yang amat dalam. Dari atas pesawat celah itu lebarnya seperti hanya satu meter. Seperti tidak ada apa-apa di celah itu. Setelah saya memasuki celah itu ternyata lebar celahnya sekitar 500 meter.

Kami mampir salat duhur-asar di salah satu masjid di celah itu. Air tidak masalah di situ. Air wudu maupun untuk mandi.  Berlimpah. Di depan masjid itu ada kubah-kubah. Ternyata itu makam Habib Ali bin Hasan Al Atas –kakek Habib Abdurrahman Alatas Tebet, Jakarta, yang wafat empat bulan lalu.

Saya juga diajak mampir rumah orang terkaya di Wadi Duan. Meski empat lantai tetap tidak tampak dari jalan raya utama. Pintu utamanya sangat kokoh. Di pintu itu ada dua alat ketok. Beda bunyi. Kalau yang atas yang diketokkan berarti tamunya laki-laki. Kalau alat ketok bawah yang diketokkan tamunya perempuan (lihat foto).

Banyak tokoh terkenal dari Wadi Doan ini. Pemilik bank Al Ahli di Saudi berasal dari sini. Konglomerat Saudi, Bin Laden, dari Wadi Doan. Pengusaha Saudi yang membangun vila di tebing celah tadi juga orang sini.

Saya iri kepada mereka yang punya waktu tiga hari tinggal di villa itu. Lalu saya buru-buru berucap masya-allah –agar rasa iri itu pergi.

Di Yaman saya melihat begitu banyak tulisan masya-allah. Di pintu pintu. Di pagar. Di kaca mobil.

Pemandangan yang sama pernah saya lihat di Pakistan. Waktu itu saya bertanya ke orang Pakistan: mengapa begitu banyak tulisan masya-allah. Tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Hanya kebiasaan saja, katanya.

Di Yaman saya menemukan jawabnya: mengucapkan masya-allah bisa menghilangkan rasa iri yang mulai berusaha muncul di hati. (*)

Baca dari sumbernya:

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/938498/iri-masyaallah

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini