Oleh: Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN
DMKtv,- Sabtu 28-03-2026
Begitu banyak mobil di kota yang namanya belum pernah saya dengar ini: Mukalla. Yakni kota pantai di Hadramaut, Yaman Selatan.
Saya ke kota itu karena tidak ada pesawat keluar Yaman sebelum tujuh hari dari kedatangan saya. Padahal sudah tidak ada lagi yang perlu saya lihat di Tarim, ”kota Habib” di pedalaman Yaman.
Maka saya pun melihat-lihat peta: ada kota apa di sekitar Tarim. Masih ada waktu tiga hari sebelum ada pesawat keluar dari Yaman. Saya ke kota itu saja dulu: ke Mukalla. Lima jam naik mobil carteran dari Tarim.
“Sejak kapan banyak mobil begini?” tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla.
“Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla,” katanya.
Saya tertawa keras. Ia kaget. “Ternyata Al Qaeda ada baiknya juga ya…” gurau saya.
“Tapi lebih banyak tidak baiknya,” sergahnya.
Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil.
Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Rasanya Noah itu sekelas Innova. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA. Belum terlihat, tumben, mobil Tiongkok.
Sebenarnya saya ingin ke Aden. Yakni kota pelabuhan yang dulu menjadi ibukota negara Yaman Selatan. Kota itu, kata orang, indah sekali. Menghadap ke Teluk Aden. Atau setidaknya ke San’aa. Ibu kota negara Yaman Utara yang kemudian menjadi ibu kota Yaman bersatu. Sangat indah juga. Kata orang. Letaknya di pegunungan.
Tapi kedua kota besar itu tertutup. Masih dalam suasana perang. Apa boleh buat. Hanya ada kesempatan satu ini: ke kota Mukalla.
Sebenarnya saya sempat senang ketika melihat tiket pesawat saya dari Jeddah. Tertulis di tiket: jurusan Aden. Pun di layar bandara Jeddah terbaca: tujuan pesawat ini ke Aden. Yeeiii… Saya akan bisa terbang ke Aden.
Ternyata itu hanya di tulisan. Kenyataannya pesawat saya ini terbangnya ke Saiyun. Seumur hidup saya belum pernah mendengar nama kota Saiyun. Kota Saiyun sangat dekat ke pusat Habib di Tarim: 40 km.
Bagi saya pesawat jurusan Aden tapi mendaratnya di Saiyun tidak masalah. Ke mana pun terbangnya saya ikut. Yang penting masih di Yaman. Kan saya belum pernah ke Yaman sama sekali.
Jarak Saiyun ke Aden ternyata begitu jauhnya: satu jam penerbangan sendiri. Tapi kan tidak ada penerbangan ke sana. Kalau jalan darat bisa 24 jam. Dan lagi keadaan tidak aman. Tidak akan ada izin bagi orang asing seperti saya jalan darat dari Tarim ke Aden. Maka pupuslah harapan bisa ke Aden atau San’aa.
Sebagai gantinya saya ke Mukalla. Ini saja saya harus berbekal surat jalan. Teman saya, si Amang, sahabat Disway itu, yang menguruskannya. Tanpa surat itu saya tidak mungkin sampai Mukalla. Terlalu banyak pos pemeriksaan di sepanjang jalan. Pos tentara bersenjata. Memeriksa surat-surat identitas penumpang.
Amang adalah anak muda asli Hadramaut yang bisa berbahasa Indonesia. Nama aslinya Abdurrahman. Pernah kuliah di Surabaya. Tidak menyangka saat tiba di Tarim saya bisa bertemu orang asli yang kuliahnya di Surabaya.
Sejak di Surabaya itu panggilannya menjadi Amang. Orang Surabaya memang suka mengubah nama orang. Apalagi kalau nama itu sulit diucapkan.
Abdurrahman ternyata suka dengan nama panggilan Amang itu.
“Amang biasanya panggilan nama orang Makassar untuk Abdurrahman. Itu bukan nama panggilan di Jawa atau Surabaya,” kata saya.
Di Makassar Abdurrahman bisa berubah menjadi Bedu Amang –seperti nama tokoh yang pernah menjabat kepala Bulog di masa Orde Baru
“Betul. Orang pertama yang memanggil saya Amang adalah orang Arab Ampel asal Makassar,” katanya. “Kalau di Jawa Abdurrahman jadi apa?” tanyanya.
“Jadi Dur,” kata saya. “Misalnya, Gus Dur. Dari Abdurrahman Wahid”.
“Kalau Muhammad jadi Amat?”
“Bukan. Amat itu dari Ahmad”.
Tanda bahwa ia senang dengan nama panggilan Amang terbukti nama itu ia pakai biar pun sudah kembali menetap di Tarim. Nama statusnya di HP pun Amang.
Amang bercerita punya teman sekampung di Tarim bernama Alawi. Juga pernah kuliah di Surabaya. Di Surabaya Alawi dipanggil dengan ”Wi”. Ia tidak suka dengan panggilan ”Wi’ itu.
“Wi itu kedengarannya jelek,” kata sang teman. Mungkin ia tidak tahu ada tokoh Jawa yang panggilannya ”Wi” dan top-nya bukan main. Akhirnya si teman minta dipanggil Amat saja
Sampai ketika mendarat di Saiyun saya masih belum punya gambaran kalau akan ke kota Mukalla. Begitu tahu Saiyun dekat Tarim saya pun senang saja: bisa ke Tarim.
Mungkin kalau dari Jeddah benar-benar mendarat di Aden saya tidak akan bisa ke Tarim. Tidak akan ada tulisan tentang Tarim sampai enam seri (Lihat Disway 12,13, 14, 16, 17, dan 18 Februari 2026).
Begitu ke Tarim tidak bisa ke mana-mana lagi. Baru ada pesawat keluar dari Yaman tujuh hari lagi.
Saya pun bingung: akan ngapain saja enam hari di Tarim.
Menghafal Quran? Sudah terlalu tua untuk mengingat hafalan begitu banyak.
Ziarah ke makam-makam para wali? Satu hari juga bisa selesai.
Memperdalam silsilah Habib? Saya justru takut terjebak ke perdebatan yang tiada ujungnya. Sudah tiga tahun debat publik soal silsilah Habib itu begitu menguras perhatian sampai lupa harga saham jatuh ke jurang.
Maka di hari ketiga di Tarim saya mulai melihat peta. Ada kota agak besar bernama Mukalla. Tapi jauh. Lima jam naik mobil. Saya pun ke sana. Dari pada terseret ke soal kontroversi Habib.
Tidak bisa dihindarkan. Di hari ketiga itu saya mulai tanya-tanya soal Habib. Maklum tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat. Wah ini bahaya. Mulai terpancing ke soal Habib. Maka saya lupakan Habib. Saya berangkat ke Mukalla.
Tidak bisa mendadak. Amang harus mengurus surat jalan saya dulu. Juga harus menemani saya ke Mukalla. “Anda bisa hilang di jalan,” katanya ketika saya bertekad untuk pergi sendirian. (*)
Baca dari sumbernya:
https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat











