ASEAN dorong Integrasi Keuangan, tapi Mata Uang Tunggal masih jauh

YOGYAKARTA. DMKtv,- Pada pertemuan ke-30 ASEAN Senior Level Committee on Financial Integration (SLC), ASEAN memperkuat ketahanan dan integrasi keuangan kawasan.  Bank Indonesia dan State Bank of Viet Nam sebagai co-chairs, mendukung semangat kebersamaan. SLC bersemangat menghadapi ketidakpastian global, fragmentasi rantai pasok, serta tantangan digitalisasi dan transisi energi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menegaskan pentingnya memperkuat konektivitas negara-negara ASEAN. Indonesia berkomitmen pada pengurangan hambatan non-tarif, percepatan konektivitas sistem pembayaran lintas negara, dan perluasan penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).

Mata Uang Tunggal: Impian atau Ilusi?

Peraih Nobel Robert Mundell, memperkenalkan Optimum Currency Area (OCA). Teori ini menggambarkan kawasan dengan mata uang tunggal harus memiliki syarat ketat. Kawasan ini harus memeliki kesamaan siklus bisnis, stabilitas makroekonomi, dan tingkat pembangunan ekonomi yang serupa. Zona Euro, yang jauh lebih homogen dibandingkan ASEAN, bahkan gagal memenuhi semua kriteria tersebut dan terbukti rapuh dalam menghadapi krisis ekonomi.

Eropa menjadi contoh, dimana Jerman dan Prancis dengan struktur ekonomi dan kebutuhan moneter berbeda, begitupun Yunani atau Portugal. Hasilnya, kebijakan suku bunga tunggal justru memicu ketidakstabilan dan krisis utang.

Kondisi ASEAN bahkan lebih kompleks. Kesenjangan ekonomi antara Singapura dan Laos, atau antara Indonesia dan Myanmar, jauh lebih lebar dibandingkan Eropa. Ekonomi ASEAN masih bergantung pada ekspor komoditas Negara seperti Singapura memiliki siklus bisnis yang sangat berbeda dimana sektor manufaktur dan jasa yang dominan.

Pertumbuhan di sebagian negara ASEAN masih dalam tahap take-off, sebuah fase yang justru sarat dengan volatilitas dan ketidakstabilan makro. Dalam situasi seperti itu, menyerahkan kebijakan moneter kepada otoritas regional bisa menjadi langkah prematur dan berisiko tinggi.

Integrasi Bertahap, Bukan Lompatan Besar

Meski demikian, langkah-langkah ke arah integrasi yang dilakukan saat ini justru sangat strategis dan realistis. Penguatan sistem pembayaran lintas negara dan penggunaan mata uang lokal adalah fondasi penting.

“Penting untuk tidak melompat terlalu jauh. Seperti yang dikatakan Joseph Stiglitz, salah satu pelajaran besar dari krisis euro adalah bahwa integrasi moneter yang dipaksakan sebelum waktunya dapat membawa konsekuensi mahal,” lanjut sang analis.

ASEAN tampaknya sadar akan hal itu. Fokus kawasan saat ini adalah membangun infrastruktur keuangan yang kuat. Selain itu ASEAN tengah meningkatkan sinergi kebijakan, dan memastikan integrasi finansial yang inklusif dan adaptif terhadap karakteristik unik tiap negara.

ASEAN sedang menapaki jalan panjang menuju integrasi ekonomi yang lebih dalam. Alih-alih memaksakan mata uang tunggal yang belum waktunya. ASEAN memilih jalur yang bijak: memperkuat koordinasi, meningkatkan konektivitas, dan menjaga stabilitas.

Mata uang tunggal mungkin masih jauh di horizon. Tapi ASEAN sedang mempersiapkan diri agar saat waktunya tiba, kawasan ini benar-benar siap menjadi satu.

*(Anas Mudhakir/DMKtv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini