KUALA LUMPUR. DMKtv, – Para pemimpin Asia Tenggara bersiap hadir dalam KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur hingga 28 Oktober. KTT siap ramai oleh isu tarif Amerika Serikat dan konflik kawasan. Presiden AS Donald Trump berencana hadir untuk pertama kalinya sejak 2017.
Trump datang membawa beban kebijakan tarif yang selama dua tahun terakhir menekan ekspor kawasan. Negara-negara seperti Vietnam dan Indonesia telah mencatat kerugian miliaran dolar akibat kebijakan dagang proteksionis ala “America First.” Namun, di balik tekanan tersebut, Trump juga akan berencana menyaksikan penandatanganan Kuala Lumpur Accord (perjanjian damai antara Thailand dan Kamboja). Perjanjian yang menjadi titik terang bagi stabilitas regional.
Ketegangan Tarif: ASEAN Terjepit di Tengah
Tarif tinggi yang diberlakukan AS terhadap sejumlah produk utama ASEAN menjadi salah satu isu paling mendesak dalam agenda. Vietnam, misalnya, terancam kehilangan hingga US$25 miliar menurut estimasi PBB. Sementara itu, Indonesia berhasil menegosiasikan penurunan tarif menjadi sekitar 19%, terendah di antara negara anggota.
Pemerintah ASEAN, meski prihatin, memilih tidak membalas dengan tarif balasan. Alih-alih, blok ini mendorong dialog terbuka dengan Washington, sambil mempercepat upaya integrasi ekonomi internal. “ASEAN tidak bisa lagi hanya menjadi pasar terbuka. Ini saatnya memperkuat fondasi ekonomi bersama,” ujar Menteri Perdagangan Malaysia dalam sesi prakonferensi.
Geopolitik Bergeser, ASEAN Jadi Arena Perebutan Pengaruh
Selain persoalan ekonomi, kawasan juga bergulat dengan konflik Myanmar yang belum terselesaikan, serta meningkatnya ketegangan antara AS dan China di Laut China Selatan. Dalam konteks ini, kehadiran Trump membawa makna ganda: di satu sisi menunjukkan keterlibatan AS yang lebih dalam, namun di sisi lain menambah tekanan bagi ASEAN untuk menyeimbangkan hubungan strategis mereka.
Di sela pertemuan, diplomat regional juga membahas kemungkinan pembentukan forum keamanan maritim baru, sebuah upaya kolektif untuk menangani pelanggaran wilayah dan memperkuat kerja sama pertahanan.
Timor-Leste: Akses Resmi ke Meja ASEAN
Salah satu momen bersejarah yang akan tercatat dalam KTT kali ini adalah penerimaan resmi Timor-Leste sebagai anggota ke-11 ASEAN. Setelah lebih dari satu dekade menanti, negara muda ini akhirnya memenuhi seluruh prasyarat integrasi dan siap bergabung penuh dalam forum regional.
Masuknya Timor-Leste tak hanya simbolik. Kehadirannya memperluas spektrum geopolitik ASEAN ke wilayah yang lebih strategis dan menambah dimensi pembangunan kawasan. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa integrasi ini membutuhkan dukungan konkret; dari investasi hingga pelatihan teknis, agar tidak hanya menjadi seremoni tanpa substansi.
ASEAN Menata Ulang Strategi Kolektif
Di tengah tekanan eksternal dan tantangan internal, ASEAN dihadapkan pada pilihan penting: bertahan dalam model lama yang bergantung pada pasar eksternal, atau bergerak menuju kemandirian ekonomi dan kohesi politik yang lebih erat.
Para analis melihat KTT kali ini sebagai titik balik. Jika berhasil mendorong kesepakatan-kesepakatan strategis — baik dalam isu perdagangan, keamanan, maupun integrasi kelembagaan — ASEAN berpeluang memperkuat posisinya sebagai blok kawasan yang tangguh dan relevan. Namun jika gagal, kawasan ini berisiko kehilangan arah di tengah rivalitas kekuatan global yang kian meruncing.
“ASEAN harus bicara dengan satu suara. Dunia sedang menonton apakah kawasan ini bisa bangkit sebagai kekuatan kolektif atau terus terjebak dalam fragmentasi,” kata seorang diplomat senior dari Singapura yang meminta namanya dirahasiakan.
*(Anas/DMKtv)



![IMG_20251018_215305.jpg[1]](https://dmkcomm.com/wp-content/uploads/2025/10/IMG_20251018_215305.jpg1_-1068x712.webp)







