AS dan China coba saling memahami Jelang KTT: Ancaman ‘Perang Ekonomi’ Bayangi Negosiasi

SHANGHAI, CHINA. DMKtv,- Dua kekuatan ekonomi terbesar dunia kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan rencana pertemuan puncak kedua pemimpin pekan depan. Ketegangan meningkat, dan masing-masing pihak saling menyalahkan atas memanasnya situasi.

Para analis menilai, meski pembicaraan antara Trump dan Xi Jinping bisa terjadi, namun justru mempersempit peluang tercapainya kesepakatan besar. “China menilai negosiasi saja tidak cukup dan perlu langkah balasan efektif agar AS tidak terus menekan,” ujar Wu Xinbo, Direktur Pusat Studi Amerika di Universitas Fudan, Shanghai.

Negosiasi selama berbulan-bulan kini terancam runtuh, sementara hubungan dagang senilai sekitar US$660 miliar per tahun antara kedua negara berada di ujung tanduk.

Negosiasi Rapuh dan Terancam Gagal

Wu menjelaskan bahwa langkah-langkah terbaru China mencerminkan perubahan strategi negosiasi ekonomi dengan AS pada masa jabatan kedua Trump. Ketegangan yang sudah lama membara meledak awal Oktober. Saat itu China tengah membalas kebijakan AS yang melarang penjualan teknologi ke China, dengan membatasi ekspor tanah jarang.

Langkah China untuk memperketat kendali atas mineral langka tersebut menandai perluasan besar dalam strategi dagangnya. “Ini adalah ekspansi besar yurisdiksi lintas batas,” kata Cory Combs, analis di firma Trivium China. Ia menambahkan bahwa aturan baru itu secara eksplisit menargetkan sejumlah komponen chip penting.

China yang menguasai lebih dari 90 persen pasokan mineral langka dunia tersebut meniru kebijakan ekspor AS yang membatasi penjualan produk semikonduktor ke negara lain. Menurut sumber internal, langkah China itu mengejutkan pemerintahan Trump, yang kini tengah meminta masukan dari perusahaan-perusahaan AS terkait dampaknya.

Tuduhan ‘Perang Ekonomi’

Ketegangan meningkat setelah pejabat Washington menuduh China melancarkan “perang ekonomi”. Trump bahkan memperingatkan bahwa pertemuannya dengan Xi bisa batal jika situasi tidak membaik, seraya menegaskan ancaman penerapan tarif hingga 100 persen.

Trump masih berencana bertemu Xi di Korea Selatan pada akhir Oktober, di sela-sela pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Sebagai upaya terakhir, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng akan bertemu di Malaysia.

Rangkaian pertemuan itu melalui negosiasi ketat di berbagai ibu kota Eropa, dari Jenewa hingga Stockholm yang membahas isu perdagangan, fentanyl, dan akses pasar. Namun, kembali berujung pada saling tuduh bahwa masing-masing pihak tidak menepati janji.

“Langkah China terhadap ekspor tanah jarang dianggap sebagai bentuk ‘perang ekonomi total’,” ungkap sumber yang dekat dengan pemerintahan Trump. “Prospek eskalasinya sangat tinggi. Tidak ada solusi cepat kali ini.”

Saling Percaya Diri, Sulit Mencapai Titik Temu

Kementerian Luar Negeri China menanggapi tudingan tersebut dengan menyatakan bahwa perang tarif dan perdagangan tidak menguntungkan pihak mana pun. Beijing menyerukan penyelesaian melalui konsultasi yang didasari kesetaraan, saling menghormati, dan keuntungan bersama.

Michael Hart, Presiden Kamar Dagang Amerika di China, mengatakan bahwa kedua negara merasa berada di posisi tawar yang kuat. “Pejabat China yakin ekonomi mereka solid dan melihat sistem politik AS sedang tidak stabil. Mereka merasa memiliki keunggulan,” ujarnya. “Namun pejabat AS juga percaya diri bahwa ekonomi mereka lebih kuat, sementara ekonomi China sedang melemah.”

Washington Belum Solid

Menurut sejumlah sumber, ketidakpastian kebijakan Washington terhadap Beijing turut memperumit keadaan. Di satu sisi, pemerintahan Trump menerapkan sanksi keras, di sisi lain melonggarkan penjualan chip tertentu dan mencapai kesepakatan dengan TikTok.

“Orang-orang di Washington mengatakan kebijakan Trump terhadap China memang keras, tetapi presiden kadang bisa bersikap lebih fleksibel dan pragmatis,” ujar Hart.

Strategi Baru dan Arah ke Depan

Sambil mempersiapkan pertemuan, kedua negara juga memperkuat kemandirian ekonomi masing-masing. Trump baru saja menandatangani pakta mineral penting dengan Australia untuk mengurangi ketergantungan pada China.

AS mempertimbangkan pembatasan ekspor perangkat lunak dan merancang tarif baru bagi sektor semikonduktor, farmasi, dan industri strategis lainnya.

Sebagai respons, China memperketat pengawasan ekspor tanah jarang dan menyelidiki monopoli perusahaan AS, serta menaikkan tarif seperti yang dilakukan pada April lalu.

Harapan Tipis untuk Kesepakatan Baru

Di tengah ketidakpercayaan mendalam, sebagian pejabat kedua negara masih melihat peluang kecil untuk langkah positif. Skenario terbaik  adalah dimulainya kerja sama dalam kerangka Phase One Deal tahun 2020, atau kesepakatan terbatas terkait pembelian produk pertanian.

“Kedua pihak bisa mengambil langkah membangun kepercayaan dan memulai negosiasi menuju kesepakatan baru pada paruh pertama tahun depan,” kata Peter Harrell, mantan pejabat ekonomi internasional di pemerintahan Biden.

*(Reuters/DMKtv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini