DUNIA. DMKtv, – Di tengah ancaman tarif 100% film produksi luar Amerika Serikat, industri film global tetap melaju. Bahkan, film Star Wars: Starfighter terus syuting di Inggris. Panggung suara (soundstage) di Hongaria penuh sesak. Rumah pascaproduksi di Australia tetap sibuk menangani berbagai proyek.
Trump kembali menghidupkan wacana tarif film luar negeri. Alasan tarif untuk film dari luar adalah untuk mencegah lapangan kerja perfilman pindah ke luar negeri.
Awalnya sempat mengguncang dunia film, beberapa proyek dan pendanaan internasional tertunda. Produser harus menghitung kembali kelayakan finansial jika tarif diberlakukan. Namun, kali ini respons industri jauh lebih tenang.
Tanggapan Pelaku Industri Film
“Selain reaksi awal berupa, ‘Oh, dia bilang itu lagi,’ orang-orang tidak terlalu panik seperti dulu,” kata Lee Stone, mitra di firma hukum Lee & Thompson di London, yang pernah menangani produksi serial pemenang Emmy Netflix Adolescence.
Trump pertama kali mengusulkan tarif 100% untuk film luar negeri pada awal Mei. Ia takut industri film AS menghadapi “kematian cepat” seiring perpindahan proyek film ke pusat produksi global.
Menurut Stone, saat ancaman itu datang bertepatan dengan Festival Film Cannes, industri film sempat lumpuh sementara. “Semua orang bertanya, ‘Apa yang akan terjadi?’ Tapi kali ini saya tidak merasakan kepanikan yang sama,” katanya.
Ancaman Trump tak Mengguggah Kenyataan
Lembaga riset industri ProdPro merilis data terbaru. Riset itu menunjukkan bahwa penurunan pengeluaran produksi 15% tahun lalu tidak mengindikasikan bahwa Hollywood sedang meninggalkan pusat produksi global. Penurunan pengeluaran akibat pengurangan serial TV dan film blockbuster.
“Tidak ada data yang menunjukkan bahwa studio mulai memilih syuting lebih banyak di AS karena khawatir soal tarif,” ujar CEO ProdPro, Alexander LoVerde.
AS memang masih menjadi pusat produksi terbesar, dengan pengeluaran mencapai $16,6 miliar setahun belakangan. Namun, studio Hollywood dan layanan streaming menghabiskan $24,3 miliar untuk proyek-proyek di luar negeri. Produksi di luar negeri demi memanfaatkan insentif pajak, biaya tenaga kerja yang rendah, serta fasilitas kelas dunia.
Di Eropa Tengah, daya tarik tradisi film yang kuat dan tenaga kerja murah telah menarik banyak proyek besar. Film seperti The Gray Man oleh Russo Brothers, film peraih Oscar All Quiet on the Western Front produksi Netflix di Republik Ceko, dan Dune: Part Three dari Warner Bros yang mulai syuting musim panas ini di Hongaria, menjadi contoh konkretnya.
“Panggung suara di Hongaria saat ini beroperasi penuh, baik untuk produksi internasional maupun domestik,” ujar Csaba Kael, Komisioner Pemerintah untuk Pengembangan Industri Film Hongaria. Ia menambahkan, perubahan kebijakan dagang AS tidak akan langsung berdampak karena memerlukan waktu implementasi.
Studio Hollywood justru memanfaatkan distribusi kerja lintas negara untuk mempercepat proses produksi dan mengurangi biaya.
“Dalam film beranggaran besar, tak jarang pekerjaan efek visual pindah ke Australia, Selandia Baru, London, dan tempat lain,” kata Mike Seymour, spesialis efek visual nominasi Emmy dan dosen di University of Sydney. “Kadang film nyaris 24 jam non-stop karena perbedaan zona waktu.”
Studio Dorong Insentif Pajak Nasional di AS
Di tengah kekhawatiran soal tarif, para pembuat film di AS tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. “Industri film tidak menyukai ketidakpastian,” kata Stephen Weizenecker, pengacara hiburan dari firma Barnes & Thornburg di Atlanta. “Begitu ada keraguan, sebuah proyek bisa langsung berhenti total.”
Aliansi serikat dan asosiasi industri film AS, serta aktor senior Jon Voight, telah meminta Trump mempertimbangkan insentif pajak nasional daripada tarif.
“Sebenarnya yang kita butuhkan adalah insentif pajak nasional yang lebih efektif daripada tarif,” ujar salah satu eksekutif studio.
Sementara itu, Kongres AS dan pihak yang berkepentingan tengah membahas RUU CREATE Act. RUU ini bertujuan memperpanjang pengurangan pajak untuk produksi dalam negeri, yang dijadwalkan berakhir pada Desember. Selain itu, RUU juga meningkatkan batas biaya yang bisa dikurangkan.
Namun, jika ancaman tarif benar-benar berlaku, banyak pihak di pusat-pusat produksi global khawatir dampaknya bisa sangat besar.
“Sulit bagi siapa pun di sini untuk menilai seberapa besar kemungkinan kebijakan ini diterapkan, tapi jika benar terjadi, dampaknya akan sangat besar,” ujar seorang seniman visual yang enggan disebutkan namanya karena khawatir kehilangan pendanaan. “Itu akan sangat menghancurkan.”
*(Reuters/DMKtv)



![6CXT4KD55JJFJAFZXFDQ4MMOXY[1]](https://dmkcomm.com/wp-content/uploads/2025/10/6CXT4KD55JJFJAFZXFDQ4MMOXY1.jpg)







