BANDUNG. DMKtv,- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan alih fungsi lahan bukan faktor utama longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, melainkan akibat morfologi lereng yang curam dan curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heriwaseso di Bandung, Senin, menjelaskan bahwa hasil kajian awal menunjukkan pergerakan tanah dipengaruhi kombinasi faktor alam, mulai dari kemiringan lereng, karakter tanah, hingga sistem drainase alami di lokasi kejadian.
“Faktor alih fungsi lahan memang berpengaruh, tetapi kita melihat sumbernya. Sumbernya ini di morfologi yang sangat curam. Kita bisa melihat bahwa di samping curam tanahnya, juga sangat gembur,” ujarnya.
Ia menjelaskan dari hasil identifikasi, terdapat perbedaan morfologi yang sangat signifikan antara bagian atas dan bawah lereng dengan kemiringan mencapai 30–40 derajat di bagian atas, lalu menurun ke 20–30 derajat di bagian bawah, sehingga memicu massa tanah bergerak ke arah lembah.
Selain morfologi, lanjutnya, faktor material tanah juga berperan besar, karena terbentuk dari endapan vulkanik yang sangat tebal, diperkirakan lebih dari 15 meter, dengan sifat gembur dan mudah jenuh air.
“Tanah vulkanik yang tebal ini mengalami penjenuhan akibat curah hujan tinggi, sehingga kekuatan tanah melemah dan mudah terbawa ke bagian lereng bawah,” katanya.
Badan Geologi juga menyoroti peran drainase alami yang menyebabkan material longsoran meluncur dengan jarak tempuh cukup jauh dan membuat air hujan terkumpul dalam satu jalur drainase sempit membawa tanah dan batuan secara bersamaan, sehingga menciptakan daya erosi yang kuat.
“Kondisi lembah yang sempit mempercepat aliran material. Saat mencapai area yang lebih landai, material kemudian menyebar mengikuti jalur sungai yang sudah ada,” ucapnya.
Terkait tipe longsoran, Badan Geologi juga menyebut kategori peristiwa longsor ini sebagai aliran bahan rombakan, yakni pergerakan campuran tanah dan batuan dengan dominasi material berbutir halus menyebabkan longsoran dapat meluncur lebih jauh.
Pada kesempatan tersebut, ia menyebut curah hujan ekstrem mencapai 200 milimeter per hari juga menjadi faktor utama lainnya dalam longsor tersebut.
“Sumber utama longsoran berada di morfologi yang sangat curam dengan tanah yang gembur. Pemicu hujan ekstrem yang berdasarkan data BMKG mencapai lebih dari 200 milimeter per hari, sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi,” ujarnya.
Badan Geologi juga akan segera melakukan delineasi zona rawan untuk menentukan wilayah aman dan berbahaya, sehingga hasil kajian tersebut akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai dasar penataan ruang dan mitigasi bencana.
“Area yang sudah terlanda longsor tidak direkomendasikan untuk dihuni kembali dan perlu direlokasi. Untuk wilayah sekitar, akan ditentukan berdasarkan hasil delineasi potensi longsor susulan,” kata Anjar.
*(Ilham Nugraha/ANTARA)











